
Jangan panggil dia Zein kalau tak memiliki banyak cara untuk membuat sang mantan adik ipar kesal. Seperti pagi ini, dia sengaja membuat Vita menunggu di apartemennya. Sedangkan dirinya sudah berangkat ke kantor lewat pintu rahasia.
Lalu, Vita yang tak tahu tentang kenakalan Zein, tentu saja tetap bersantai ria. Memainkan ponselnya sambil menunggu Zein bersiap di kamarnya.
Beberapa saat berlalu. Timbul kecurigaan dalam diri gadis cantik ini. Zein adalah pria yang selalu tepat waktu. Lalu kenapa ini lama sekali. Mungkinkah dia ketiduran lagi.
Akhirnya Vita pun memutuskan untuk mengingatkan Zein. Sebab, jika terjadi kesalahan atau keterlambatan makan dialah yang kena sasaran. Dengan penuh keberanian, Vita pun mengetuk kamar pribadi sang big bos tersebut.
"Permisi, Pak. Sebaiknya anda bergegas. Meeting akan dimulai setengah jam lagi," ucap Vita sambil mengetuk pintu kamar Zein.
Tak ada jawaban. Namun Vita masih berusaha bersabar.
"Maaf, Pak. Apakah anda mendengarkan saya?" tanya Vita lagi. Lebih sopan dan lebih lembut. Tetap tak ada jawaban. Vita pun mulai tak sabar. Marah sendiri dan mengumpat kesal. Tak anda pilihan lain, akhirnya Vita pun memutuskan untuk menghubungi Zein by phone.
Beberapa detik kemudian Zein menyambut panggilannya. Dengan perangai santai seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ya, ada apa?" tanya Zein santai.
"Kita udah mau telat, anda kenapa nggak keluar-keluar, Bapak?" tanya Vita l mbut, meskipun hatinya ingin meremas pria itu.
"Nggak keluar-keluar? maksudnya?" tanya Zein pura-pura bodoh.
"Bapak jangan pura-pura bodoh, Pak. Please, saya udah nunggu Bapak hampir satu jam. Kenapa anda nggak keluar-keluar kamar? Rapat sudah hendak dimulai, Pak!" jawab Vita sedikit geram.
__ADS_1
Zein tidak menjawab omelan gadis cantik itu. Ia malah langsung memutuskan pangilan telepon yang mereka lakukan. Lalu beberapa detik kemudian, ia pun mengirimkan foto di mana dirinya berada saat ini. Di sana pria itu terlihat tertawa senang. Sebab aksi isengnya berhasil dengan mulus.
Berbeda dengan Vita. Spontan gadis tersebut pun sadar jika dia sedang dibodohi oleh Zein. Tak ayal, ia pun mengumpat kesal.
"Dasar-dasar! Bener-bener ya! Keterlaluan sumpah! " ucap Vita geram. Sayangnya tak ada waktu lagi baginya untuk marah. Zein sudah duduk manis di kantornya. Sedangkan dia sebagai sekertaris malah masih santai di luar. Padahal tiga puluh menit lagi ia harus mendampingi sang atasan untuk rapat.
***
Sera marah besar ketika mengetahui bahwa keponakan kasayangannya bekerja di perusahaan pria yang sangat ia benci. Dengan penuh amarah wanita paruh baya ini pun langsung mendatangi perusahaan Zein.
Namun sayang, ia tidak diperkenankan masuk, dengan alasan belum membuat janji. Akhinya Sera pun menghubungi Vita dan meminta gadis itu menemuinya di lobi bawah.
Vita tak mungkin menolak. Lebih baik ia di pecat oleh perusahaan Zein dari pada harus menghadapi amarah wanita itu. Vita sangat paham bagaimana tegasnya Sera. Bagaimana cepatnya wanita itu bertindak. Tak ada ampun bagi mereka yang berani melawannya. Termasuk dirinya.
"Maaf, Tan. Aku... ah, aku ada di lantai lima belas!" ucap Vita, napasnya terlihat ngos-ngosan.
Sera terlihat tak peduli. Yang dia mau saat ini adalah Vita bisa menjelaskan mengapa ia sampai bisa bekerja di perusahaan ini.
"Siapa yang mengizinkanmu bekerja pada pria jahanam itu?" cecar Sera, langsung pada pokok pembahasan mereka.
"Maaf, Tan. Vita sungguh nggak tahu jika perusahaan abang yang pimpin," jawab Vita jujur.
"Bagaimana bisa tidak tahu? Apakah kakakmu tidak pernah cerita nama perusahaan yang dipimpin pria jahat itu?" cecar Sera lagi.
__ADS_1
"Enggak, kan Vita nggak pernah mau tahu urusan kakak sama abang. Mana Vita tahu kalau ini perusahaan abang! " jawab Gadis ini apa adanya.
"Resign! Tante nggak mau keluarga kita berhubungan dengan keluarga pria gila itu. Ingat Vita, keluarga kita hancur gara-gara siapa?" cecar Sera kesal.
"Vita tahu, Tan. Makanya Vita mau resign hari ini. Cuma dia lagi rapat, nggak mungkin juga Vita langsung pergi gitu aja. Dendanya gede, Tan!" jawab Vita jujur.
"Oke, Tante kasih kamu waktu satu minggu. Selesaikan urusanmu dengannya atau Tante yang turun tangan. Jangan bikin nama keluarga kita makin kecil di mata mereka Vita. Paham kamu!" tambah Sera. Tentu saja wanita ini semakin geram dengan tingkah keponakannya yang menjengkelkan ini.
"Ampuni Vita, Tan!" ucap Vita memohon.
Sera hanya bisa menghela napas dalam-dalam. Rasanya emosi yang menggebu itu seketika reda oleh wajah polos sang keponakan yang selalu berhasil merayunya. "Baiklah, waktumu tetap satu minggu. Setelah itu Tante mau dengar kamu sudah nggak di perusahaan ini lagi. Soal ibu kamu, kamu nggak usah khawatir. Bukankah Tante sudah pernah bilang. Percayalah Tante masih mampu biayain kalian. Tanpa kamu kerja, kamu juga masih bisa makan. Ngerti Vita!" tambah Sera lagi.
Tak ayal, Vita pun hanya bisa pasrah. Tak ada pilihan lain selain menyetujui keinginan wanita yang kini juga menjelma menjadi walinya. Mengingat ayahnya ada di penjara. Ibunya masuk rumah sakit jiwa. Sedangkan kakaknya juga sudah berumah tangga.
"Bagus! Tante tunggu kamu di Manado!" tambah Sera. Tanpa banyak bicara lagi Sera pun melangkah meninggalkan Vita sendiri. Dengan kebingungannya sendiri. Sebab jika ia memutuskan kontrak sementara, maka ia harus membayar denda yang tertera di atas kertas yang telah ia tanda tangani.
***
Di sisi lain, ada Rehan yang mau tak mau harus pulang kampung demi memenuhi panggilan emaknya. Menikah dengan gadis pilihan kedua orang tuanya.
Sebenarnya ia ingin menghindar dari perjodohan ini. Namun tak bisa. Sang emak tersayang selalu banyak cara untuk mengancam duda tampan satu ini. Akhirnya setelah banyak pertimbangan, Rehan pun menyerah. Ia memilih pulang kampung dan pasrah dengan perjodohan itu. Sesuai nasehat Juan, bahwa doa orang tua adalah sebaik-bainya doa. Siapa tahu ini adalah jodoh terbaiknya.
Bersambung....
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini...