
Stella mengejar Juan, lalu memeluk pria itu dari belakang. Membenamkan wajahnya di punggung pria gagah yang ia cintai. Menangis sebentar. Menumpahkan segala lara dan kekecewaan yang ia rasakan. Juan tidak menolak, karena sejatinya ia pergi bukan tak peduli pada Stella. Namun ia memiliki maksud lain, yang tidak Stella pahami. Apa lagi diduga oleh Zein.
"Papi, dengerin Mami dulu!" pinta Stella lirih. Memohon agar Juan tak meninggalkannya.
"Selesaikan masalahmu dengannya. Baru kita bicarakan masalah kita," ucap Juan pelan. Namun terdengar tegas. Tak ada pilihan lain, Stella pun melonggarkan pelukannya, membiarkan sang suami berlalu terlebih dahulu. Meski berat, Stella tak mungkin memaksa. Ia paham jika sang suami juga terluka karena masalah pelik ini.
Stella membiarkan Juan berlalu. Menghapus air matanya dan kembali menyambut tantangan pria jahat yang bertamu di rumahnya, yang datang tanpa diundang.
"Dasar pria jahat! Aku membencimu, Zein. Pergi kamu dari sini!" ucap Stella penuh amarah.
"Wow, berani melawa sekarang ya. Ingat Ste, kamu masih istriku dan anak yang kamu lahirkan adalah anakku. Jadi jangan macam-macam denganku!" ancam Zein dengan tatapan licik.
"Heh, kamu memang gila, Zein. Beruntung kamu menceraikanku waktu itu. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tahu sifat aslimu. Ternyata kamu adalah pria egois yang tak punya hati. Hatimu busuk seperti iblis, Zein. Siapa yang bilang aku wanita tak bermoral waktu itu? Siapa yang menjatuhkan talaknya setelah berhasil melahap kesucianku? Siapa yang bajingan di sini, Zein? Aku atau kamu, hah? " Stella tak sanggup lagi menghadang air matanya untuk tidak meluncur. Wanita ini menatap nanar pada pria yang hanya menciptakan luka di hatinya ini.
"Ste, ayolah. Jangan seperti ini. Putri kita membutuhkan kita, orang tua kandungnya!" ucap Zein memohon. Pria ini juga berjalan mendekati Stella, he dak memeluknya.
"Jangan pernah menyentuhku, Zein. Jaga batasanmu!" Stella menunjukkan jarinya tepat di depan Zein. Memperingatkan pria ini agar tidak seenaknya saja menyentuhnya.
__ADS_1
Zein malah tersenyum meledek.
"Jaga batasanmu, Zein! Jangan sembarangan menyentuhku! Aku jijik melihatmu!" tambah Stella.
"Benarkah? Bukankah kamu menikmati malam pertama kita? Hemmm! Ayolah Ste, tinggalkan saja Juan. Mari kita bangun kembali mahligai cinta kita dari awal." Zein berusaha meraih tangan Stella. Hendak menyentuhnya lagi. Dengan cepat Stella menjauh mundur.
"Menjauh dariku, Brengsek!" teriak Stella.
Zein tersenyum licik. Sepertinya mempermainkan Stella sangat seru.
"Aku tidak akan memaksamu, Ste. Tapi aku mau memberimu penawaran. Silakan kamu pilih," ucap Zein tanpa dosa.
"Aku tidak peduli, apakah cintamu sekarang untuk Juan atau masih untukku. Aku tidak peduli. Tetapi aku yakin, selama kita bareng lagi. Cinta itu pasti akan tumbuh lagi. Aku menginginkanmu Ste, percayalah!" ucap Zein lagi, menatap mata Stella. Berharap wanita ini mengerti akan apa yang ia harapkan.
"Lebih baik aku mati dari pada kembali padamu, Zein!" ucap Stella yakin.
"Benarkah? Berarti kamu siap melihat suamimu hancur, Ste!" ancam Zein halus, dengan senyum liciknya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam kamu, Zein!" timpal Stella.
"Bisnis Juan ada di tanganku Stella. Sekali klik aku bisa meruntuhkannya. Aku bisa menarik investasiku kapanpun aku mau. Jadi silakan pilih, kamu kembali padaku atau...." Zein kembali mengeluarkan senyuman jahat itu. Bahkan dia terlihat menahan tawa, sepertinya Zein memang sengaja menyerang jiwa Stella lagi.
Kali ini Stella hampir goyah. Pikirannya melayang. Ia juga takut jika karenanya, bisnis Juan hancur. Bagaimana ini? tanya Stella dalam hati. Diam sesaat, lalu kembali memusatkan pikirannya.
"Kenapa diam ha? Aku tahu kamu tidak akan bisa hidup tanpa kemewahan, Ste. Oia kapan kamu mulai mengenal Juan? Apakah kamu menyelidiki teman-teman lalu menargetkan Juan untuk kamu jerat?" Ini adalah pertanyaan paling kurang ajar yang pernah Stella terima. Namun, Stella tak menjawab. Percuma membalas pikiran kotor orang gila. Semua akan terlihat salah. Itu sebabnya Stella memilih diam.
Mendengar putrinya menangis, Stella memilih membalikkan badan untuk meninggalkan iblis berwujud manusia satu ini.
"Tunggu!" cegah Zein.
Stella menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya. Menatap Zein dengan penuh amarah.
"Aku memberimu waktu satu minggu untuk berpikir, Ste. Kembali bersamaku dan bisnis suamimu akan aman atau tidak perlu aku jelaskan kan pilihan kedua. Kamu kan cerdas, Ste. Pasti tahu pilihan kedua," tambah Zein.
"Sudah kubilang, lebih baik aku mati dari pada kembali hidup bersamamu, Zein. Jadi tidak usah menunggu satu minggu. Saat ini, detik ini kamu sudah mendapatkan jawabanya. Jadi enyahlah dari hadapanku. Aku dan putriku akan baik-baik saja, meskipun pada akhirnya Juan juga tak menginginkan kami. Lebih baik aku membesarkannya sendiri, dari pada denganmu, Zein. Apa kamu dengar! Lebih baik aku mati dari pada kembali padamu. Ingat itu baik-baik," balas Stella tegas. Kemudian, dengan keyakinan penuh, Stella pun meninggalkan pria jahat ini.
__ADS_1
Bersambung...