
Sesuai petunjuk yang diberikan oleh sang sahabat, akhirnya Vita pun sampai dengan selamat di rumah yang di maksud oleh sang sahabat. Sayangnya, kedatangannya tidak begitu disambut baik oleh warga. Melihat penampilan Vita yang modis, membuat para ibu-ibu di sana langsung menghujatnya.
"Gadis-gadis jaman sekarang penampilannya ngeri, ya," bisik salah satu ibu-ibu yang menonton kejadian yang menimpa Safira.
Awalnya Vita terkejut. Berbicara dengan batinnya. Ada apa dengan penampilannya. perasaan pakai kaos obling dan celana jeans kan biasa. Hanya ditambah heals aja. Itupun tidak terlalu tinggi. Aneh, batin Vita. Tapi lama-lama dia mengerti juga. Ternyata, mau sebaik apapun kita bersikap, Kita berpenampilan, jika yang memandang kita sudah tak suka. Maka, nilai kita pun tetap akan minus di mata mereka.
Vita tak terlalu pusing dengan celotehan-celotehan tak bermutu itu. Ia pun menantapkan fokus pada tujuan awalnya. Yaitu menemui Fira. Membatu kesusahan sang sahabat, kalau bisa. Setidaknya mendengarkan keluh kesah wanita yang selama ini juga tak segan membantunya.
"Permisi," ucap Vita ketika sampai di depan rumah kontrakan Lutfi.
"Oh, iya Non. Cari siapa?" tanya salah satu warga yang menjaga rumah Lutfi.
"Boleh saya bertemu dengan sahabat saya, Pak? Namanya Safira?" tanya Vita sopan.
"Tentu saja boleh, Non. Silakan masuk!" ucap salah satu warga, sembari membukakan pintu kamar untuk Vita.
Melihat sang sahabat datang, tentu saja membuat Safira senang. Tangis wanita ayu ini pecah, begitu Vita merentangkan tangan, bermaksud memberikan pelukan. Sedangkan Lutfi hanya diam, sebab menurutnya apa yang dilakukan kedua wanita tersebut hanyalah drama.
"Sudah, kalo mau nangis! Nangis aja! biar legaan!" ucap Vita sembari memeluk Safira.
Merasa ada yang menaungi, Safira pun langsung menangis menjadi-menjadi. Mengumpat kesal pada pria yang saat ini juga terlihat gundah itu.
"Seneng kan lu mau dinikahin ama gue!" ucap Safira kesal pada Lutfi. Kembali tatapan permusuhan kedua pihak kembali terjadi. Hingga perang argumen pun tak terelakkan.
"Heh, apaan seneng. Nikah ama wanita barbar kek kamu, nggak ada bedanya ama masuk neraka!" balas Lutfi tak kalah pedas.
__ADS_1
"Apa, kamu ya bener-bener. Emang kamu pikir aku wanita penyiksa, begitu!" Safira langsung beranjak dan hendak menyerang Lutfi. Sayangnya, Lutfi adalah pria yang memiliki kesigapan yang cepat. Tak ingin kalah melawan serangan itu. Dengan cepat, Lutfi pun meraih tangan Safira dan membawa wanita galak itu ke dalam pangkuannya. Lalu mengunci kedua kaki Safira dengan kakinya dan memegang kedua tangan Safira sekuat yang dia bisa. Membuat Vita tak kuasa menahan tawa.
"Lepasin brengsek!" pinta Safira sembari meronta.
"Kamu bisa tenang nggak? Atau mau kucium lagi, ha?" ancam Lutfi mulai kesal.
"Dasar gila! Awas kalo kamu berani menciumku lagi. Dasar gila!" umpat Safira semakin tak mampu lagi mengontrol emosinya.
"Eh, tunggu dulu. Kalian pernah ciuman?" ledek Vita.
"Enggak! apaan, pria gila ini pemaksa!" jawab Safira, masih dengan tatapan kesal pada pria yang saat ini mengubci tubuhnya.
"Makanya jangan barbar. Dasar barbar!" Lutfi semakin mengeratkan dekapannya. Sebab Safira semakin kuat meronta.
Sayangnya keasikan Vita terganggu oleh kedatangan keluarga Safira. Laskar, Laila dan juga Zein langsung menghakimi dua sejoli yang saat ini sedang pangku-pangkuan di mata mereka.
"Apa-apaan ini? Kalian belum menikah, kenapa main kuda-kudaan begitu. Fira! Nggak punya sopan ya!" bentak Laskar sembari berkacak pinggang kesal.
Spontan Lutfi langsung melepaskan Safira. Sedangkan Safira sendiri langsung beranjak dan membela dirinya sendiri di depan keluarganya. Terutama orang tua.
"Dia, Pa! Dia yang bikin gara-gara. Tapi nggak sama sekali nggak melakukan apapun. Demi Tuhan, Pa!" Safira menangkupkan kedua tangannya memohon. Memohon agar Laskar dan Laila percaya padanya.
"Nggak ngapa-ngapain kamu bilang! Terus, yang barusan Papa lihat apa, Fira?! Kamu ini ... hah. Udahlah, cepat siap-siap, kalian menikah sekarang. Kamu, Lutfi, ikut aku dan Zein, pulang sekarang. Di rumah udah ada penghulu yang menunggumu. Kamu Fira, ikut Mama. Dandan yang cantik! Masak pengantin kucel begini!" ucap Laskar serius. Sepertinya sih serius, sebab tak ada sedikit pun senyum yang nampak di bibirnya.
"Pa, aku mohon! Jangan nikahkan kami, Pa. Fira nggak cinta sama dia, Pa," ucap Safira memohon. Tangis kembali menghiasi wajah ayu itu. Safira benar-benar ketakutan sekarang.
__ADS_1
"Mau ditaroh di mana muka mama papa, Fira. Kamu sudah tertangkap warga. Kamu udah bikin malu papa mama, abangmu juga. Astaga! Gimana caranya kasih tahu anak ini supaya mengerti, Pa!" ucap Laskar bingung. Kembali pria patuh baya ini menunjukkan kekecewaannya pada sang putri.
"Tapi sungguh, Pa. Fira dan Lutfi nggak melakukan hal yang tuduhkan orang-orang itu. Demi Tuhan, Pa!" jawab Safira masih berusaha membuat orang tuanya percaya.
"Oke, Papa percaya sama kamu. Oke, kalo misalnya kamu bilang kamu nggak nglakuin apa yang mereka tuduhkan. Tapi, apakah kamu bisa membuktikan bahwa kalian tidak melakukannya?" jawab Laskar tak mau kalah.
Safira diam. Sebab ia tak bisa menjawab sanggahan sang ayah.
"Tahu ah!" jawab Safira frustasi. Sangking kesalnya, ia pun menghentakkan kakinya agar semua orang percaya bahwa dia tak melakukan perbuatan tak terpuji itu. Sedangkan dari pihak Lutfi terlihat jelas bahwa pria ini sangat lelah. Jangankan mau membalas kata untuk membela diri, bernapas pun rasanya sesak. Sangat-sangat sesak.
Tak ingin terlalu banyak bicara, akhirnya Lutfi pun mendekati Laskar dan berucap, "Lutfi siap tanggung jawab, Om. Jika kalian semua ingin Lutfi menikah dengan Fira, maka Lutfi akan menikahinya." Lutfi terlihat sedih.
"Gitu dong! Dari tadi kek. Kan enak! Nggak usah pakek acara ribut-ribut segala." Laskar langsung memberi kode pada Zein untuk membaca calon mempelai pria untuk ikut dengannya.
"Ayo, Ma. Bawa anak nakalmu ini, dan dani dia secantik mungkin. Papa nggak mau putri Papa jadi wanita nggak cantik di acara nikahannya!" pinta Laskar lagi.
Safira tak berkutik. Laskar begitu pandai memainkan peran. Bukan hanya Laskar, Laila dan Zein pun sama. Mereka sangat pandai memainkan perasaan Safira.
Tapi tidak dengan Vita, melihat sang sahabat berjuang demi kebebasannya membuat Vita sedikit kurang setuju dengan pernikahan paksa ini. Entahlah, Vita hanya merasa miris saja. Lalu, terbesit ide untuk mendekati Zein, dan mengajak pria itu untuk membebaskan Safira dari pernikahan ini.
Bersambung
Like Like Like jangan lupa...
Komen juga ya...
__ADS_1