PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Di antara Dua Pilihan


__ADS_3

Lutfi berhasil membuat Safira memakai pakaian itu. Bapak satu anak ini hanya tersenyum ketika melihat wajah cemberut sang istri. Wanita itu begitu menggemaskan saat menggerutu kesal kepadanya. Namun, Lutfi tak peduli. Karena baginya, saat ini dosa sang istri adalah dosanya. Mau tak mau ia harus


membawa Safira ke jalan yang benar.


"Mau aku antar pulang sekarang apa nanti?" tanya Lutfi dengan senyum meledaknya.


"Tahu ah!" jawab Safira sembari duduk di sofa dengan menaikkan kedua kakinya dan menekuknya serta memeluknya. Wanita ini merajuk kesal.


"Loh, kok tahu ah bagaimana? Mau pulang sekarang atau nanti atau mau di sini sana Naya?" tanya Lutfi lagi.


Safira enggan menjawab. Ia malah menangis kesal.


"Loh kok malah nangis, piye to iki. Minta dipeluk ya heemm," ledek Lutfi sembari merentangkan tangannya ingin memeluk Safira.


"Awas berani peluk!" ancam Safira dengan tatapan kesal.


"Okelah, nggak jadi peluk kalo gitu. Coba bilang kenapa nangis? Ada apaan? Apa yang bikin kamu nangis?" cecar Lutfi.


Safira diam. Malas meladeni Lutfi yang menurutnya sok baik padanya itu.


"Jangan nangis, Ra! Aku kan nggak apa-apain kamu. Aku cuma mau kamu menutup aurat, karena dosa kamu, aku ikut nangung sekarang," ucap Lutfi lemah lembut. Safira tak mau menatap sang suami. Tetapi ia mendengarkan. Hatinya serasa teriris. Takut.


Takut jika dia sampai jatuh cinta pada Lutfi. Takut jika sampai dia tak bisa berpisah dari Lutfi. Takut jika, Lutfi tak bisa menerima masa lalunya. Lalu pergi meninggalkannya.


Tak mungkin jika seorang wanita tak bisa jatuh cinta pada pria sebaik dan sesholeh ini. Meskipun menyebalkan dan mendidiknya dengan cara yang mungkin bisa dikatakan tidak Lazim. Tetap saja, Lutfi tetap memiliki nilai plus di hatinya.


Safira masih menutup rapat mulutnya. Enggan membalas setiap kata yang diucapkan pria itu. Namun, tak dipungkiri bauwa dia menginginkan dekapan pria itu. Menginginkan perlindungan dari peia itu. Entahlah, Safira tak tahu harus bersikap bagaimana.

__ADS_1


"Aku kerja dulu ya, kalo mau makan tinggal bilang aja ama bibi. Nanti bibi masakin, atau beliin. Terserah kamu mau apa. Aku baru punya uang segini, kamu pegang. Kalo mau apa-apa beli aja," ucap Lutfi sembari menyerahkan amplop berwarna putih yang berisi lembaran uang.


"Nggak mau, aku kan punya kalo uang!" tolak Safira ketus.


"Aku tahu kamu punya. Bahkan aku juga tahu kalo uang kamu lebih banyak dari punyaku. Tapi, aku punya kewajiban nafkai kamu. Jadi jangan ditolak ya, aku mohon. Kamu boleh memakiku, marah padaku tapi tolong jangan tambah dosaku," jawab Lutfi lembut. Pria ini juga tampak bersimpuh dihadapan sang istri yang kini sedang merajuk di sofa.


Sungguh pemandangan yang teramat sangat romantis bagi siapapun yang melihatnya. Namun, tidak dengan Safira. Wanita ini malah risih. Tak berani menatap sang suami. Sebab Lutfi kelewat tampan baginya.


"Jangan menatapku seperti itu!" larang Safira sambil menyembunyikan wajahnya.


Lutfi tersenyum. Larangan itu seperti bukan sebuah larangan. Tapi malah seperti sebuah dorongan untuk menggoda wanita cantik itu.


"Kenapa? Mataku dihalalkan untuk melihatmu dua puluh empat jam," jawab Lutfi dengan candaan seperti biasa.


"Kamu kenapa sih, nyebelin banget. Udah ah sana!" Safira mendorong dada Lutfi. Lutfi yang belum siap tentu saja terjatuh. Tangan Lutfi tak sengaja meraih tangan Safira. Spontan tubuh Safira pun ikut terjatuh, menindih tubuh sang suami.


Beruntung tak ada tabrakan bibir di sana. Namun, mata mereka bertemu. Binar cinta itu nyata mereka rasakan. Buktinya mereka nyaman dengan posisi mereka saat ini.


"Pengantin baru ya, Ma. Sampai main nggak tahu tempat begini!" ucap Laskar sembari terkekeh.


Spontan dia sejoli itupun langsung terkejut. Salah tingkah, sudah pasti. Dengan cepat Safira pun beranjak dari dada Lutfi. Sedangkan Lutfi pun sama. Ia pun segera menjauh dari Safira.


Terlihat jelas bahwa mereka berdua gugup. Wajah mereka terlihat memerah karena malu. Membuat Laskar kembali mengeluarkan candaan mereka.


"Roman-romannya kita bakalan cepet dapet Lutfi junior ini, Ma, kalo begini ceritanya. Eh, tapi nggak pa-pa. Rajin-rajinlah kalian bikin!" canda Laskar sembari terkekeh.


"Ih, Papa apaan sih. Kami tadi sedang anu, sedang itu. Dia itu Pa, ngajak ribut terus!" jawab Safira, salah tingkah.

__ADS_1


"Nggak Om, bukan saya yang ngajak ribut. Fira yang dorong-dorong!" balas Lutfi berusaha membela diri.


"Fira dorong kan gara-gara kamu dekat-dekat!" balas Safira tak mau kalah.


Laskar dan Laila hanya bisa menatap heran pada sepasang suami istri itu. Benar kata Zein, bahwa mereka memang tom and jerry.


"Sudah-sudah. Jangan berantem terus. Papa ke sini nggak pengen lihat kalian berantem. Papa ke sini mau lihat cucu oma yang cantik itu. Mana, mana dia?" tanya Laskar berusaha mengalihkan perhatian mereka. Malas saja melihat mereka ribut nggak jelas gitu.


"Ada, Pa. Lagi tidur!" jawab Safira seraya melangkah hendak mengambil Naya di kamar. Lutfi tak mau kalah, ia pun hendak mengambil Ara di kamar. Sayangnya tabrakan antara mereka pun terjadi. Sehingga kembali menyulut pertengkaran.


"Ih, apa sih! Sana, biar aku aja yng ambil Naya!" ucap Safira ketus.


"Ih, mana bisa begitu. Kan udah janji kamu nggak boleh dekat-dekat sama Naya," jawab Lutfi sembari berbisik kesal.


"Enak aja, dia putriku!" jawab Safira geram.


"Eh, siapa yang bilang!" Lutfi tak mau kalah.


Pertengkaran itu kembali membuat Laskar dan Laila ingin tertawa. Namun, juga kesal.


Akhirnya, Laskar dan Laila pun memutuskan untuk masuk ke kamar Lutfi untuk melihat sendiri, apakah Naya baik-baik saja. Karena terakhir mereka dengar Naya sedang demam karena aku tumbuh gigi.


"Sebaiknya kalian minggir, kalo mau ribut, sana ribut diluar. Biar oma sama opa aja yang jaga Naya. Kalian ini, sudah besar masih aja ribut!" ucap Laskar sembari menerobos masuk, melewati dia sejoli yang masih asik beradu argumen itu. Bengitupun dengan Laila. Wanita paruh baya ini hanya tersenyum dan mengikuti langkah sang suami.


Kini tinggallah Lutfi dan Safira yang masih saling menatap. Bingung, namun sudah tidak beradu argumen lagi.


***

__ADS_1


Kegelisahan kini tengah dirasakan oleh seorang Zein. Ia takut kalau sampai orang tuanya mencari tahu tentang Berliana. Bagaimana ia nanti menjelaskan ini pada keluarga Stella. Terlebih, suami sang mantan adalah sahabatnya. Tak dipungkiri bahwa Zein sedikit gusar. Pria tampan ini termenung. Memikirkan cara bagaimana menjelaskan ini kepada kedua orang tuanya. Zein tidak ingin menyakiti siapapun. Dengan masalah apapun.


Bersambung...


__ADS_2