PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Akibat Tak Terduga


__ADS_3

Tak sabar menunggu pagi, sepasang suami istri itupun akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Menikmati segelas susu hangat untuk menghilangkan rasa gelisah yang kini mendera hati mereka.


"Duduk, Pa! Ini minum dulu susunya," ucap Laila seraya menyerahkan segelas susu hangat untuk sang suami.


"Makasih, Ma," jawab Laskar sambil mempersembahkan senyum tertulus untuk sang istri. Tak lupa ia memberikan kecupan penuh kasih sayang untuk istri.


Terang saja, Laskar yang hampir tak pernah bersikap romantis padanya, membuat Laila melongo, terkejut.


"Loh, dicium suami masak melongo. Salah ya, kalo Papa cium Mama," ucap Laskar sembari melirik dan mengelus pipi mulus sang istri.


"Ah, enggak. Mama terkejut saja," jawab Laila jujur. Karena, selama mereka menjalani pernikahan pertama mereka, Laskar selalu bersikap biasa dan datar padanya. Malah cenderung dingin.


Alasan itulah yang membuat Laila lebih banyak menghabiskan waktu bersama Safira, putri sambungnya. Laskar selalu marah jika Laila mengajaknya bercengkrama. Sehingga Laila lebih memilih diam dan memendam masalahnya sendiri.


"Maafkan Papa ya, Ma! Selama kita menikah, Papa jarang mau diajak ngobrol. Papa sering marahkan, Mama. Selalu bersikap dingin dan kadang semena-semena sama Mama. Maaf ya, Ma!" ucap Laskar sembari memeluk mesra sang istri dari belakang. Tak lupa dia juga kembali memberikan kecupan di pundak wanita yang selama ini selalu sabar menghadapinya.


"Sudahlah, Pa. Jangan diingat lagi! Mama sudah ikhlas. Apa lagi Mama nggak bisa kasih Papa keturunan. Mama tahu diri lagi, Pa!" jawab Laila jujur. Ya, alasan Laila bertahan mendampingi Laskar, salah satunya adalah itu. Dia mandul. Tidak bisa memberikan Laskar keturunan. Dan juga, Laskar sendiri tidak pernah mengungkit kekurangannya itu.


"Sebenarnya bukan itu masalah Papa, Ma. Entahlah, saat itu Papa belum memahami arti sebuah ketulusan. Arti sebuah cinta. Ternyata dicintai wanita setulus Mama itu ternyata indah Ma, Maaf jika Papa terlambat menyadarinya. Sekali lagi maafkan Papa ya, Ma!" Laskar kembali mengeratkan pelukannya. Lalu dengan nakalnya, pria paruh ini sedikit mencumbu sang istri. Tentu saja, Laila merinding dibuatnya.


"Papa mau ngapain?" tanya Laila sembari menahan tangan nakal sang suami.


Laskar tak menjawab. Ia pun langsung mencium bibir wanita yang masih cantik diusianya itu. Ya, penampilan kalem Laila memang memberikan nilai plus untuk wanita ini. Laila yang diperlakukan tak biasa tentu saja gemetar. Sebab jujur, Laskar bukanlah pria bisa bersikap semanis ini. Apa lagi seromantis ini.


Laskar tahu jika saat ini tubuh sang istri panas dingin. Gemetar, seperti takut. Memahami kegugupan sang istri, Laskar pun menghentikan kenakalan nya. Lalu, Ia pun mengajak sang istri kembali duduk di meja makan dan mengajaknya mengobrol.


"Pengen deh Ma bangunin, Zein. Kira-kira dia marah nggak ya kalo kita bangunin?" tanya Laskar pada sang istri.

__ADS_1


"Isshhh, janganlah Pa! Kasihan, dia habis perjalanan jauh. Udah gitu Papa kasih kerjaannya nggak nanggung-nanggung. Pasti dia lembur semalam! Kasihan ah, Pa. Jangan! Kita tunggu dia bangun aja," jawab Laila tak tega.


"Baiklah, Sayang. Papa nurut deh sama Mama. Makasih ya, Ma. Selama ini Mama udah sayang sama Papa, sama Fira, sama Zein, dan sekarang, Mama juga antusias terhadap cucu Papa. Papa bahagia, Ma. Andai Papa tidak bodoh dan segera menyadari ketulusan Mama. Pasti perpisahan tak akan pernah terjadi di antara kita, Ma. Maaf ya!" ucap Laskar serius.


"Sudahlah, Pa. Jangan diingat lagi! Yang penting kan sekarang. Semoga pernikahan kita kali ini, membuat kita belih dewasa sebagai pasangan. Bisa saling melengkapi satu sama lain. Bisa saling mendukung. Saling menghargai. Hingga maut memisahkan," ucap Laila. Laila tak berani mengatakan 'bisa saling mencintai' karena dia ragu. Laila tidak sepercaya diri itu untuk mengatakan itu. Laila takut, tak ada dirinya di hati pria itu. Karena Laskar memang tidak pernah menyatakan cinta padanya selama ini.


Pria itu hanya bilang, maukah kamu melengkapi hidupku. Atau mari kita menikah. Hanya itu. Untuk cinta, Laila tidak pernah mendengarnya. Itu sebabnya ia ragu hendak berkata demikian.


Laila beranjak dari tempat duduknya. Bermaksud mengambilkan sang suami roti yang ia beli tadi siang di perjalanan penuju rumah ini. Laila pikir, pasti Laskar suka. Sebab itu memang roti kesukaan sang suami.


"Apa ini, Ma?" tanya Laskar.


"Roti kesukaan Papa. Tadi pas di bandara Mama lihat ini. Ya udah Mama beli!" jawab Laila sembari menyodorkan piring berisi roti tersebut.


"Kapan belinya, kok Papa nggak tahu?" tanya Laskar.


"Pas Papa ngobrol sama teman Papa yang pilot itu loh, kan Mama dicuekin sama Papa," jawab Laila sedikit cemberut.


Laila mengerutkan keningnya, heran. "Kenapa, Pa?" tanya Laila.


"Masak dia bilang Mama cantik. Pengen Papa culek aja tu mata. Pengen Papa tonjok aja rasanya. Kurang ajar bener. Baru pertama kali ketemu udah berani muji-muji istri Papa. Emangnya profesi dia paling keren bisa muji istri orang sembarangan. Papa, biar cuma pedagang tas, Papa juga nggak kalah keren dari pria berseragam seperti dia. Enak aja dia, berani lirik-lirik istri Papa!" jawab Laskar, menggebu, penuh emosi. Membuat Laila tersenyum menahan tawa.


"Besok siang dia mau ke main ke sini, Ma. Papa nggak kasih. Kalo mau ngajak ketemuan, Papa ajak aja ke restoran mana gitu. Enak aja mau ke rumah. Nggak akan Papa izinin dia main ke sini," tambahnya lagi. Masih menggebu seperti ketika ia menceritakan kesan pertama bertemu pria itu.


"Emang kenapa, Pa?" pancing Laila, sengaja.


"Nanti dia lihat Mama, tanya-tanya soal Mama. Males banget!" jawab Laskar. Terdengar makin ketus.

__ADS_1


"Ya nggak pa-pa lah, Pa. Kan cuma nanya! Jawab aja sesuai yang Papa tahu. Apa susahnya!" jawab Laila, pura-pura tak paham dengan suasana hati sang suami.


"Nggak-nggak enak aja. Yang boleh menatap Mama hanya Papa. Papa nggak akan izinin siapapun menatap Mama. Sampai kapanpun. Mama cuma milik Papa. Hanya Papa yang berhak apapun atas Mama. Mama juga jangan macam-macam. Paham!" jawabnya lagi. Jawaban yang terdengar egois, kaku dan pastinya semaunya sendiri.


"Kok gitu? Bukannya Papa nggak masalah ya kalo ada yang suka sama Mama?" pancing Laila lagi.


Mendengar pertanyaan aneh dari sang istri. Spontan, Laskar pun naik pitam. Dengan kasar ia pun membalikkan tubuh sang istri dan berkata, "Bagaimana bisa Mama punya pikiran seperti itu? Papa juga manusia, Ma. Papa juga punya rasa!" Laskar menatap tajam ke arah Laila.


Laila tersenyum. Lalu ia pun meraih kedua tangan sang suami dan berkata, "Aku adalah istrimu Laskar. Aku tak mungkin menghianatimu. Apapun yang terjadi. Jadi kamu nggak perlu takut. Aku pasti jaga batasanku. Jangankan untuk pria lain, bukankah padamu saja aku juga jaga batasan. Aku tahu sampai di mana aku harus masuk ke ranahmu. Karena sekali lagi aku tahu diri, Laskar. Aku hanya berhak atas ragamu. Tapi tidak dengan hatimu. Aku sadar, bukan aku pemilik hatimu." Laila melepaskan tangan Laskar dan tersenyum ikhlas.


Tak ingin berdebat masalah hati, akhirnya Laila pun memutuskan meninggalkan pria yang ia hormati sebagai suami itu. Sebab mau bagaimanapun, Laskarlah pria yang mau menerimanya sebagai istri. Wanita mandul sepertinya siapa yang mau menerima. Bukan hanya itu, Laskar juga memberinya kesempatan menjadi ibu, dengan mempercayainya untuk merawat putra putrinya, sampai saat ini.


Laskar diam mematung, bingung harus berkata apa. Karena apa yang Laila katakan adalah kenyataan yang pernah terjadi di pernikahan pertama mereka.


Namun, di pernikahan ke dua ini, rasa yang ada tidak seperti itu. Laskar benar-benar mencintai wanita itu. Hanya saja dia tak tahu cara menyampaikannya. Cara mengungkapkannya.


Hanya saja, Laskar tidak menyangka, jika ketidakmampuannya menyatakan cinta, membuat sang istri memiliki pemikiran menyedihkan seperti itu.


***


Di sisi lain, Lutfi gelisah karena Safira dan Naya tak kunjung keluar dari kamar.


Ingin dia masuk ke dalam kamar tersebut. Memastikan Safira tidak membawa kabur sang putri.


Namun ia ragu. Akhirnya ia pun berusaha membangkitkan pikiran positif di benaknya sendiri. "Ah, nggak mungkin! Nggak mungkin dia bisa kabur. Di kamar kan jendelanya tinggi. Nggak mungkin dia bisa manjat!" gumam Lutfi resah.


Berkat keraguannya itu, Lutfi pun memaksa otaknya untuk percaya pada wanita yang kini ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Tak ingin ambil pusing. Lutfi pun memilih untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya. Karena kamar di kontrakannya cuma satu, terpaksa Lutfi tidur di sofa. Melepaskan penatnya di sana. Sambil menunggu dua wanita yang mungkin kini telah terlelap di dalam kamarnya.


Bersambung.....


__ADS_2