PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
PENASARAN


__ADS_3

Kabar yang diterima Sera ternyata bukan isapan jempol belaka. Stella benar-benar mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


Beruntung, Vita dan juga Anti sudah ada di sana. Sehingga ada yang menjaga Berliana.


Vita yang ketakutan langsung menghubungi Sera dan meminta wanita itu segera terbang ke Belanda. Vita tak mau disalahkan perihal ini. Mau bagaimanapun sekarang Stella adalah milik Sera. Milik bersama. Milik mereka bersama.


"Tante sudah di bandara ini, Sayang. Tolong kamu jaga kakakmu. Keponakanmu, pastikan dia aman!" pinta Sera sembari berlari menuju pintu keberangkatan pesawat.


"Baik, Tan. Tolong jangan lama-lama ya Tan! Vita takut," pinta gadis ayu ini.


"Iya, ini Tante udah mau masuk pesawat. Vita jangan gugup, kasihan ibumu nanti. Kamu tahu kan bagaimana jiwanya," ucap Sera memberinya pesan.


"Baik Vita paham, Tan. Tante hati-hati ya," ucap Vita. Kemudian panggilan pun berakhir.


Sera masuk ke dalam pesawat dengan perasaan cemas. Sangat-sangat cemas.


Sedangkan Vita tak kalah khawatir. Apa lagi saat ini ia harus menjaga Berliana dan Anti. Semua tanggung jawab menumpuk di pundaknya. Gadis ini hanya bisa berdoa semua baik-baik saja.


Terbesit dalam pikirannya untuk memberi tahu kakak iparnya perihal kecelakaan sang kakak. Namun, ia tahu bahwa hubungan sang kakak dengan pria itu sedang tidak baik. Vita takut, jika nanti Stella akan marah padanya.


Jujur, batin gadis ayu ini dilema. Terpaksa ia pun menghubungi Rehan untuk meminta pendapat pria itu.


***


Di sisi lain, Zein diam terpaku ketika mengetahui kenyataan tentang dirinya. Alur kehidupan yang sangat rumit baginya. Bagaimana tidak? tiba-tiba saja ada seorang pria yang mengaku ayah kandungnya. Bukan hanya itu, pria yang mengaku sebagai ayahnya itu juga membawanya pulang ke rumahnya. Membuat Zein bertanya-tanya.

__ADS_1


"Di mana aku?" tanya Zein pada seorang pria yang berpakaian perawat itu.


"Ini adalah rumah ayah anda, Tuan Muda," jawab pria itu.


"Rumah ayahku? jangan ngarang kamu!" sanggah Zein. Karena dia tahu, bahwa Agus sekarang berada di penjara.


Ayahku, bukankah dia di penjara. Lagian mana mungkin dia mau menempatkan aku di tempat bagus seperti ini, batin Zein penasaran.


Pria tampan ini kembali menatap sekeliling. Tak ada siapapun selain perawat itu. Sepertinya, ketika ia dipindahkan ke rumah ini dia dalam keadaan tidak sadar atau mungkin dia tertidur lelap. Sehingga tidak mengerti apa-apa. Sebab, seingatnya dia masih berada di rumah sakit.


"Boleh aku tanya sekali lagi?" ucap Zein pada pria yang kini sedang menyiapkan beberapa alat untuk mengganti perban nya.


"Ya, silakan, Tuan Muda!" jawab pria itu.


"Kamu bilang tadi ini rumah ayahku, kan? Boleh kamu kasih tahu siapa namanya?" tanya Zein. Berharap sang perawat mau membantunya meredakan rasa penasaran ini.


"Kenapa kamu diam? Apakah kamu nggak tahu nama orang yang kamu bilang ayahku?" tanya Zein lagi. Penuh selidik.


"Maaf, Tuan Muda! Ini bukan ranah saya untuk menjawab. Sebab saya di sini hanya diminta bekerja melayani dan merawat luka anda. Selebihnya saya dilarang untuk menjawab apapun," jawab pria itu tegas.


"Oke! Baiklah!" jawab Zein berusaha mengerti posisi pria yang kini sedang merawatnya. Zein m ncioba bersikap tidak bar-bar. Mencoba bersikap lebih sabar. Toh, dia di sini tidak disakiti. Dia dirawat. Diperlakukan dengan baik. Apa salahnya jika mempelajari sendiri keadaan yang saat ini sedang menderanya.


"Aku ingin bangun, apa boleh?" tanya Zein. Sembari berusaha bangun. Namun sayang, perutnya terasa sangat sakit.


"Mari saya bantu," ucap pria itu.

__ADS_1


Zein tidak menolak. Sebab ia memang membutuhkan bantuan itu.


Tak banyak bicara, perawat itu pun langsung melakukan tugasnya. Merawat Zein. Merawat luka-luka yang ada di wajah dan tubuh pria tampan itu.


"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Zein.


"Silakan, Tuan Muda!" jawab pria itu.


"Kapan aku dipindahkan ke sini?" Zein menatap pria yang merawatnya.


"Tadi malam Tuan Muda. Sebab menurut tuan besar, rumah sakit tidak aman untuk anda," jawab pria itu, jujur, sesuai dengan apa yang ia dengar.


"Oh, oke! Apa temanku tidak ke sini?" tanya Zein lagi.


"Maaf, Tuan Muda. Penjagaan untuk anda diperketat. Tidak sembarangan orang bisa masuk ke sini. Tuan besar tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada anda lagi," jawab pria itu lagi.


Zein semakin tidak paham. Agus tidak mungkin sebaik itu padanya. Lalu, apakah pria yang menyebut dirinya 'Ayah' untuk Zein, beneran dia. Atau?


"Apakah pria itu tinggal di sini?" tanya Zein lagi. Karena Zein sangat-sangat penasaran.


"Beliau ada, tadi sebelum anda bangun, beliau menyempatkan diri menjenguk anda."


Zein memandang pria itu. Lalu tanpa banyak bicara, perawat itu langsung melaksanakan tugasnya. Merawat Zein dengan hati-hati agar luka pria itu segera sembuh.


Berbeda dengan sang perawat yang sibuk dengan pekerjaannya. Zein sibuk dengan pikirannya. Bertanya-tanya, siapa gerangan orang itu. Kenapa tiba-tiba menjelma menjadi malaikat baginya. Dengan rasa penasaran yang tinggi, pria tampan ini pun diam-diam mencari tahu siapa sebenarnya pria yang menyelamatkannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2