PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
SOAL HATI


__ADS_3

"Kok Papi diam? Kenapa, bingung ya?" pancing Stella lagi. Berusaha menarik perhatian Juan.


Pria ini masih belum mau berucap. Sebab ia masih belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang Stella tujukan untuknya.


"Papi masih memendam rasa ya sama dia?" canda Stella.


"Tunggu Mam, tunggu! Kenapa? Tiba-tiba saja, Mami tanya pasal dia? Apakah Rehan bercerita tentang sesuatu?" balas Juan, pria ini terlihat serius sekarang. Karena tak ada seulas senyum pun yang tersirat di bibir tampan itu.


"Nggak, Mami nggak ada telponan sama Rehan. Rehan pun nggak ada ngechat, apa lagi cerita-cerita. Ada apaan emang?" balas Stella penasaran.


Juan diam. Perasaannya bertambah kurang nyaman. Bagaimana tidak? Tentu saja ia takut kalau sampai Stella tahu jika Safira ada hubungannya dengan Zein. Apa kata Zein kalau seandainya dia tahu bahwa, mantan kekasihnya ada hubungan darah dengannya. Sungguh, tiba-tiba saja perasaan Juan jadi tak karuan.


"Papi bingung gimana caranya jelasin ini semua ke Mami. Sungguh Papi sendiri pun belum yakin. Apakah ini benar, ataukah hanya halusinasi Papi doang," jawab Juan bingung.


"Pelan-pelan aja, Pi. Lagian Mami kan nggak maksa. Papi berhak atas perasaan Papi. Cuma kalo boleh jujur, Mami nggak rela kalo cinta Papi terbagi untuk yang lain. Entahlah! Mami maunya satu lawan satu. Soal cinta Mami nggak mau dibagi. Kalo Papi maunya sama Mami, ya sama Mami aja. Kalo maunya sama dia ya lepasin Mami," ucap Stella serius. Seakan mengungkapkan apa yang saat ini sedang ia risaukan. Sedangkan Juan hanya menataplepqs kedepan. Masih berusaha memahami perasaannya. Sebab sejatinya dia sendiri masih bingung dengan arah pembicaraan mereka.


"Dah ah, Mami ngomong apaan sih! Lagian siapa yang mau kawin lagi. Istri satu aja sering ditinggalin kok!" jawab Juan berusaha menghindar. Wajah Juan sedikit muram. Memikirkan perihal Zein yang ada hubungan darah dengan Safira saja sudah membuatnya sakit kepala. Lalu apa lagi memikirkan sesuatu yang tak jelas seperti ini. Kawin lagi! Tak pernah terlintas kata itu di benak pria tampan ini. Karena baginya Stella adalah yang terakhir.


***


Malam pun tiba, Juan dan Stella menunggu Berliana tidur dan Vita datang. Karena mereka berjanji akan bergantian menjaga Zein di rumah sakit. Malam ini adalah jatah Juan dan Stella. Setelah malam kemarin Rehan dan Renata yang menunggu Zein. Pagi sampai siang giliran Vita. Dan sekarang giliran Juan dan Stella. Mereka bergitu kompak menjaga sahabatnya yang tertidur sampai sekarang itu.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Vita pun datang. Wajah ayu itu terlihat kurang bersemangat. Stella pun bertanya, "Vita kenapa?" tanya Stella.


Vita menggelengkan kepala. Tetapi dari sudut matanya, tampak butiran-butiran bening yang menyembul keluar.


"Loh, di tanya kok nangis. Ada apa Vita? Zein sudah sadar?" tanya Stella lagi.


"Nggak pa-pa, Kak. Vita baik-baik saja. Tadi bang Re sama Renata ada di sana. Terus om yang ngaku ayahnya bang Zein juga ada. Serius Vita nggak kenapa-napa. Ya udah kakak sama abang jalan, biar adek, Vita yang jaga," ucap Vita.


Namun, Stella tahu jika sang adik sedang berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi sekali lagi, Stella tak ingin memaksa Vita, jika gadis itu tak ingin mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ya udah, kalo ada apa-apa telpon ya. Susu dan keperluan Berliana udah Kakak siapkan. Kamu makan dulu, mumpung Liana masih bobo," ucap Stella. Vita hanya menjawabnya dengan angukan kepala.


***


"Vita kenapa ya, Pi?" tanya Stella pada sang suami.


"Papi nggak tahu, Mam. Emang tadi dia nggak bilang?" Juan malah ikutan bingung.


"Enggak sih, cuma Mami curiga. Ini ada hubungannya sama Zein," jawab Stella.


Juan diam. Sebab ia belum berani mengatakan apa yang ia curigai selama ini. Melihat perhatian dan bagaimana cara Vita memperlakukan Zein, itu seperti bukan bos dan sekertaris. Bukan seperti seorang teman pada teman yang lain. Tetapi lebih pada seorang wanita dewasa kepada pria dewasa. Vita terlihat memakai hatinya ketika melayani Zein. Tatapan gadis itu pada Zein juga lain.

__ADS_1


Namun, sekali lagi ini hanyalah kecurigaan Juan. Juan sendiri pun takut salah. Sebab apa yang ia lihat bisa saja nantinya menjadi fitnah dan menimbulkan masalah. Tetapi Juan jika boleh jujur Juan merasakan itu nyata adanya.


"Nanti kalo ketemu Vita, coba Mami bicara dari hati ke hati. Siapa tahu dia mau terbuka," ucap Juan.


"Dari hati ke hati. Maksudnya?" tanya Stella bingung. Wanita ayu ini terlihat menatap sang suami dengan tatapan hendak meminta penjelasan.


"Ya, Vita kan perempuan dewasa Mam. Zein juga pria dewasa. Mereka sama-sama single. Ya siapa tahu mereka ada.... " Juan tak bisa meneruskan ucapannya. Karena Stella menatapnya dengan tatapan tak suka.


"Ya kan Papi cuma nebak, Mam. Nglihatinnya nggak usah gitu juga kali!" pinta Juan.


"Papi jangan aneh-aneh deh. Jangan jodoh-jodohin adik Mami dengan pria itu. Nggak suka Mami," jawab Stella kesal.


"Bukan jodoh-jodohin, Mam. Intensitas mereka ketemu kan sering. Bisa jadi mereka memang saling memiliki rasa. Memangnya apa salahnya?" balas Juan.


"Dah ah, apaan sih. Sekali nggak ya enggak. Biar Vita ama yang lain aja!" Stella mulai merasa tak nyaman dengan pembahasan mereka.


"Kita nggak boleh egois Mam, kan namanya pilihan hati kita nggak bisa nglarang," ucap Juan.


Stella semakin kesal. Wanita ini tak mau menjawab apa pun yang suaminya sampaikan. Dia memilih tidak meladeni apa yang suaminya utarakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2