
Malang tak dapat ditolak, itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan situasi ini. Windi kembali pingsan sesaat setelah memberi pesan pada Sera, untuk menjaga dan melindungi Anti, adik satu-satunya.
Tentu saja, demi cintanya pada sang suami, Sera pun menyanggupi permintaan sang suami. Sera berjanji akan melindungi Anti dari pria jahanam itu.
Beberapa hari berlalu, Windi tak jua sadarkan diri. Sedangkan di Jakarta, Anti masih mendapat tekanan dan siksaan dari Jovan. Sampai tak mampu lagi bertahan. Akhirnya dengan dibantu oleh salah satu sahabat Sera yang menjadi pengacara, Anti pun akhirnya mendaftarkan gugatan perceraian untuk Jovan.
Keberanian Anti membawa petaka. Ia pun diusir dari rumah oleh Jovan dan Anti tak peduli. Ia sudah lelah, akhirnya wanita ini pun memutuskan untuk tinggal di kediaman Naya, yang tak lain adalah adik kandung Sera. Atas perintah Sera tentunya dan wanita ini berjanji akan menjemput Anti saat masalah sudah mulai mereda. Meski kuurang nyaman, Anti tak punya pilihan. Ia pun menurut pada kakak iparnya. Sembari menunggu keputusan hakim akan perceraiannya.
__ADS_1
Kedatangan Vita menambah masalah. Gadis ini yang mengetahui kondisi yang membelit ibunya langsung beraksi. Vita yang memiliki ilmu bela diri langsung menyerang dan mengacam ayahnya. Jika berani menyakiti ibu dan juga kakanya lagi maka Vita tak akan segan-segan menghabisi nyawa ayahnya. Vita lelah, muak dengan sikap arogansi ayahnya.
Emosi Vita semakin meledak ketika ia Stella menghubunginya dan memintanya mengantarkan barang-barang penting milinya. Tanpa berpikir panjang, gadis ini pun langsung mendatangi lokasi di mana sang kakak berada. Pertemuan itu membuat Vita semakin tak bisa menahan emosinya. Melihat tubuh dan wajah kakaknya yang babak belur. Vita meminta sang kakak untuk bersabar dan terus bersembunyi di tempat itu. Sampai kondisi kondusif, baru ia akan menjemputnya. Namun sayang, ketika Vita kembali hendak menjemputnya, Stella sudah pergi tak tahu ke mana.
***
Apa yang saat ini bersarang di otak Sera hanyalah, bagaimana cara agar ia bisa menumbangkan Jovan tanpa dicurigai. Sebab, jika dibandingkan Jovan masih punyai banyak kekuasaan dibanding dirinya. Maka jalan satu-satunya adalah memanipulasi keadaan.
__ADS_1
Sera mulai berbasa-basi, dan mengorek keterangan Widya seolah ia tak mengetahui apa-apa. Seolah tidak ada badai dalam keluarganya. Widya yang percaya, langsung saja menceritakan dari awal sampai akhir mengapa Zein menceriakan Stella. Dan Widya terlihat sangat bahagia ketika menceritakan itu. Membuat hati Stella teremas.
Menjadi musuh dalam selimut itu, mudah -mudah susah. Sera harus tetap menguatkan hatinya me dengar setiap kata dan hinaan Widya untuk putrinya. Namun, ada poin menguntungkan di sini, dengan bodohnya Widya menceritakan detail rencana yang ia susun untuk menjatuhkan Jovan. Sedangkan Sera, hanya menambah bumbu serta menyemangati keputusan menggebu Widya.
Selepas pertemuannya dengan Widya. Sera merasa sangat puas. Karena ia yakin jika Widya tak akan main-main dengan ucapannya. Wanita ini tinggal mencuci bersih tangannya. Tak perlu bekerja dan langkah awal telah berjalan dengan mulus. Tanpa dicurigai oleh siapapun. Sera tersenyum puas, aman, karena ia hanya berperan sebagai penonton. Bersorak sorai menyaksikan pertarungan halus antara Widya dan Jovan. Namun sayang, keberhasilannya tak sebaik nasibnya.
Tak lama berselang, ia mendapat kabar bahwa Windi telah berpulang. Pria itu tak sanggup lagi bertahan, ia menyerah. Menyerah dengan keadaan dan meninggalkan setumpuk tugas untuk Sera yaitu menjaga adik dan juga Vita, keponakannya.
__ADS_1
Sera tak sanggup bernapas. Rasa sesal menjalar di otaknya. Ia meninggalkan sang suami yang ia cintai melawan maut sendirian. Namun, ia juga tak mungkin tak pergi, karena Anti juga membutuhkan uluran tangannya. Sera hanya ijin sebentar. Sayangnya, Windi tak mau menunggunya.
Bersambung...