
Buat Kalian Penggemar Stella n Juan saya ucapkan beribu-ribu terima kasih, telah mendukung karya saya sampai detik ini. Saya ingin memperkenalkan satu karya yang saat ini sedang ikut event bergengsi di aplikasi kesayangan kita ini berjudul ANAK GENIUS: MY SUNSHINE... Jika kalian tidak keberatan, please berikan dukungan terbaik kalian. Like n komen kalian sangat berarti bagi saya. Terima kasih๐ฅฐ๐ฅฐ๐ฅฐโบ. Oke Next.... ๐๐
***
Juan berlari menghindar dari amukan Stella. Wanita ini memang tidak berlari mengejar. Stella hanya mengikuti ke mana arah Juan melangkah. Stella hanya berjalan santai. Tidak tersenyum meskipun beberapa kali Juan mengajaknya bercanda. Stella serius, bahkan tak ada ucapan di sana. Hanya ada tatapan ingin menghakimi Juan.
"Papi tidak usah berlari seperti anak kecil. Mami sudah bisa membaca akal bulus Papi," ucap Stella dengan lirikan geram.
Juan hanya tersenyum. Merasa aman, ia pun mendekati Stella dan memeluknya penuh rayuan. Mendekapnya penuh candaan. Sesekali ia juga mencium pipi Stella gemas.
"Ngapain peluk-peluk? Ngapain cium-cium? Kesel Mami sama Papi. Selalu aja mainin Mami. Kenapa sih Pi, begitu? " ucap Stella sembari menciutkan mata geram.
"Hehe, sorry ya Mam sorry. Sebenarnya ...." Juan melirik Stella sembari tersenyum meledek.
__ADS_1
"Sebenarnya apa?" Stella terlihat waspada.
"Sebenarnya, Papi punya satu rahasia. Tetapi Papi ragu ingin berbagi pada Mami. Papi takut jika Mami marah nanti," ucap Juan lembut. Masih setia menempelkan dagunya di pundak Stella. Sesekali ia juga mengigit manja baju wanita ayu ini.
"Sebenarnya apa toh, Pi? Jangan muter-muter napa! " pinta Stella mulai menunjukkan ketidaksabarannya.
"Janji nggak marah ya!" balas Juan.
"Asal Papi nggak main perempuan aja," jawab Stella jujur. Sebab ia memang tak suka pengianatan. Stella tak suka kebohongan.
"Papi lagi nggak mainin Mami kan?" tanya Stella tak kalah lembut. Jujur Stella juga takut. Rasanya wajar jika Stella menaruh rasa tidak percaya pada Juan. Mengingat ia pernah mencintai tetapi nyatanya cinta itu malah memberinya luka.
"Tidak, Mam. Soal perasaan mana Papi berani. Karena apa yang Mami rasakan ke Papi. Sama seperti apa yang Papi rasakan ke Mami. Apa Mami tahu, sebenarnya Papi juga tersiksa mendiamkan Mami seperti itu. Tetapi, Papi terpaksa, Sayang. Sebab kita dalam pengawasan," jawab Juan apa adanya. Sesuai dengan hasil analisa dan penyelidikannya selama ini.
__ADS_1
Stella mengerutkan kening.
"Jangan ragu istriku, percayalah! Bahwa sebenarnya apa yang aku lakukan itu untuk kita. Untuk kamu. Untuk Berliana dan untuk keutuhan cinta kita. Papi bersumpah, Mam. Bahwasannya Papi tak pernah bermain jika pasal hati. Aku mencintaimu istriku, demi apapun. Percayalah!" ucap Juan dengan penuh ketulusan.
Stella diam, sebab ia dilema.
"Aku tak bisa memaksamu percaya padaku, Honey. Namun dari lubuk hatiku yang terdalam kamu adalah pemilik hatiku. Pada kenyataannya aku pun terluka melihatmu menangis ketika aku berangkat kerja tanpa pamit. Maaf ya, Mam," ucap Juan. Masih setia mendekap Stella. Masih berusaha mengambil hati wanita ayu ini.
Lagi-lagi Stella tak berdaya. Ia pasrah. Sebab Juan memang pandai mengekspresikan perasaannya.
"Mami berharap, kesungguhan hati kita tidak palsu, Pi," ucap Stella lirih.
"Tentu saja, Sayang. Percayalah honey, bahwa cinta ini untuk milikmu. Aku serius," ucap Juan.
__ADS_1
Stella tak sanggup berkata apapun. Lidahnya serasa kelu. Setiap kata yang hendak ia keluarkan, serasa semua bersarang di dalam tenggorokan. Entahla, Stella selalu tak berdaya menghadapi cinta Juan. Stella hanya percaya saja. Tidak lebih dari itu.
Bersambung...