PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 19


__ADS_3

Sesampainya di rumah, terlihat rumah sangat sepi. Penasaran, akhirnya Safira bertanya. Ke mana gerangan Naya dan juga pengasuhnya.


"Naya sama pengasuhnya kan dijemput sama oma sama opa." Lutfi tersenyum sebab ekspresi sang istri terlihat begitu menggemaskan.


"What? Kok Mas diam aja. Kok nggak bilang-bilang. Emang mama sama papa nggak tahu, kalo Fira nyusulin ke sini! Kemarin juga bilang suruh pulang Dirinya, suruh tidur sama Naya, gimana sih? " jawab Safira, merasa aneh, merasa bodoh, karena tak tahu apa-apa soal putri mereka.


"Kirain mama sama papa udah ngabarin kamu, Bun. Waktu aku suruh tu, Naya masih belum berangkat. Lah kirain udah tahu." Lutfi melepas sepatunya, lalu mengantinya dengan sendal rumah. Sedangkan Safira masih tertegun.


"Nggak ada, mereka nggak bilang sama bunda. Sungguh, sama sekali nggak bilang." Safira melangkah, lalu membantu sang suami melepaskan jaketnya.


"Pas aku masuk rumah sakit, mama sama papa langsung telpon, bilang kalo Naya sama babysitternya, mama suruh pulang ke Batam. Kasihan katanya, takut ketularan." Lutfi berjalan menuju dapur mini rumah itu, lalu menyalakan pemanas air. Sepertinya ia mau membuat teh.


"Mas mau ngapain?" tanya Safira.


"Mau buatin kamu minum," jawab Lutfi.


"Mass... aku ini istrimu. Harusnya aku yang nglayanin kamu. Bukan sebaliknya. Udah Mas duduk aja, biar Fira yang buatin minum!" ucap Safira sambil mengambil dua gelas untuk mereka berdua.

__ADS_1


Mendengar ucapan manis itu, tentu saja Lutfi tak mau membuang waktu, ia pun langsung memeluk sang istri dari belakang, dan memberikan kecupan manis di tengkuk wanita itu.


Terang saja, apa yang suaminya lakukan, sukses membuat Safira merinding. Namun, kali ini ia tidak menolak. Safira telah berjanji pada hatinya. Pada jiwanya. Bahwa dia tak akan menolak keinginan sang suami lagi.


"Bun, jangan tinggalin aku ya," pinta Lutfi lembut.


"Fira nggak akan ninggalin kamu, Mas. Sampai kapanpun!" jawab Safira tegas. Tak lupa ia juga mengelus kepala sang suami dengan lembut. Agar sang suami merasa nyaman bersamanya.


"Mas!"


"Fira boleh jujur ngga?" Safira menatap sang suami dengan penuh cinta.


"Janji nggak marah!" pinta Safira.


"Insya Allah, nggak, Honey. Asal nggak bikin rugi kita berdua!" jawab Lutfi dengan senyuman manja. Masih setia memeluk tubuh ramping sang istri.


"Fira nggak mau Mas balik ke Amerika lagi. Fira nggak mau jauh dari Mas dan Naya. Fira mau kita berdekatan terus!" jawab Safira jujur.

__ADS_1


Lutfi tersenyum mendengar permintaan syahdu itu. Bagaimana tidak? ternyata memiliki istri yang sayang pada diri kita itu ternyata adalah anugerah yang sangat indah.


Bukan bermaksud membedakan, tetapi jika diingat, Safira memang ketus, susah ditahlukkan, tetapi soal rasa soal perhatian, sebenarnya Safira jauh dibanding mendiang istri pertamanya.


Di samping mereka hanya dijodohkan, keluarga sang istri juga sukses membuat Lutfi sakit hati.


Sedangkan Safira, wanita ini memang sempat membuatnya retak, namun Safira masih bisa membalut luka itu dengan keseriusannya membangun rumah tangga yang lebih baik. Safira masih punya usaha untuk memperbaiki diri dan menunjukkan pada dunia bahwa dia adalah istri yang baik.


"Fira masak ya, Mas. Mas mau kan makan masakan Fira?" tanya Safira lembut.


"Mau, Sayang." Lutfi masih setia mengikuti ke mana pun sang istri melangkah. Sedangkan Safira masih sibuk mempersiapkan minuman untuk sang suami.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya masakan yang Safira masak pun siap. Dengan cepat wanita ayu ini pun menghidangkan semuanya di meja makan.


Namun, ketika mereka hendak menyantap hidangan, ponsel Lutfi berdering.


Lutfi pun segera menilik nomor ponsel yang tertera di sana. Ternyata yang menghubunginya adalah asisten yang menjaga Zein di Amerika.

__ADS_1


Mengabarkan bahwa saat ini, Zein terjatuh di kamar mandi dan tidak sadarkan diri.


Bersambung...


__ADS_2