
Sesuai pesan dari Zein, akhirnya Laskar pun mau mengalah. Ia pun mencabut surat permohonan yang sempat ia ajukan ke pengadilan.
Laskar memang sudah berniat untuk tidak berurusan dengan keluarga itu lagi. Baginya, keluarga itu hanya menyisakan masalah dan duka saja untuk putra putrinya.
Ya, Safira pernah terlibat dengan Juan. Yang tak lain adalah pria yang sekarang menjadi bapak sambung dari cucu kandungnya. Perjalanan cinta itu hanya menyisakan amarah dan duka bagi keluarganya.
Lalu, sang putra juga pernah terlibat dengan Stella. Yang tak lain adalah istri dari pria yang pernah membuat amarahnya memuncak. Kisah ini lebih menyakitkan baginya. Karena ia mengetahui kisah ini setelah semuanya telah usai. Lagi-lagi, kisah itu juga berakhir kandas dan membawa duka untuk keluarganya. Sebab, darah daging dari sang putra terpaksa ia relakan berada dalam asuhan bapak sambungnya.
Kemudian, ada lagi cinta mengandung duka. Cinta tanpa ikatan yang jauh menyakitkan di banding apapun. Kisah cinta tak sampai antara Zein dan Vita. Kisah cinta yang seharusnya tidak boleh ada. Sebab cinta itu membuat sang putra cacat.
Laskar duduk dalam diam. Menatap nanar pada foto keluarganya yang terpasang di dinding ruang kerjanya.
Foto itu memberikan kesan happy family. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Keluarga yang ia nahkodai sering berurusan dengan luka. Keluarga yang ia pimpin sering berurusan dengan kecewa. Dan kini, putra satu-satunya, malah masuk ke lubang duka.
"Pa! Kok nglamun?" tanya Laila ketika masuk ke dalam ruang kerja sang suami.
__ADS_1
"Papa nggak pa-pa, Ma. Hanya sedang memikirkan anak-anak kita aja," jawab Laskar jujur.
"Mama tahu, Papa, sedih mikirin, Zein, kan? Tapi percayalah, putra kita itu kuat. Dia pasti bisa melewati ini. Dia pria yang bisa memberi semangat pada dirinya sendiri, Pa. Dia itu luar biasa. Dia itu sepertimu," ucap Laila berusaha memberikan kekuatan pada sang suami.
"Makasih banya, Ma. Karena Mama selalu sabar ngadepi, Papa. Mama selalu memaafkan setiap kesalahan-kesalahan, Papa. Mama selalu ngertiin Papa. Sungguh, Papa nggak tahu, gimana jadinya kalo yang ngedampingin Papa bukan Mama," balas Laskar. Suaranya terdengar sedikit bergetar. Sepertinya pria ini memang sedang dalam keadaan sedih.
"Aku mencintaimu, Suamiku. Hanya itu alasan Mama bertahan sampai sekarang. Lagian, di dunia ini cuma Papa yang mau nikah sama orang mandul kek Mama," ucap Laila, entah sadar atau tidak, begitulah pemikiran Laila selama ini. Dia juga heran, kenapa Laskar mau tetap menerimanya. Padahal, hanya 1 dari sepuluh pria di dunia ini yang bisa menerima kekurangan sang istri, perihal kandulan ini.
"Bagaimana aku bisa menolakmu, Ma. Jika kamu adalah peran utama dalam hidupku. Kamu selalu bersliweran di depan mataku. Rasanya kamu tu nempel terus di depan mataku. Bahkan saat aku bersama wanita lain," jawab Laskar jujur.
Laila tersenyum, tersipu malu. Baginya ini adalah saat yang paling romantis yang pernah ia lalui bersama pria yang menurutnya selalu terlihat gagah ini.
"Oh, ya... kok Papa malah nggak tahu. Terus gimana Lutfi di sana? Dia bisa nggak, Ma, komunikasi. Soalnya dia kayaknya nggak bisa bahasa Inggris deh Ma?" Laskar mulai terlihat sumringah. Dia memang selalu sumringah jika membicarakan perihal Zein.
"Dia aman, kan ada Zein. Yang nggak aman itu bininya, Pa. Papa perhatiin nggak si Fira. Suka nangis di kamar. Pas Mama lihat dia ngelus-ngelus foto suaminya. Kangen dia, Pa. Papa ma jahat. Pengantin baru kok disuruh pisah," Laila sedikit terlihat kesal kalau soal ini. Menurutnya sang suami sangat kejam terhadap Safira dan Lutfi.
__ADS_1
"Ah, mana ada begitu! Mama ngarang aja! Mama kan tahu mereka gimana? Kawin paksa, Mana ada langsung suka begitu. Kan semuanya berproses, Ma. Ah, biarin aja lah mereka. Biar sama-sama dewasa dulu!" jawab Laskar enteng.
Jika sudah begini, Laila bisa apa. Keputusan telah diambil. Laskar si keras kepala itu, memang selalu semaunya sendiri.
***
Ternyata apa yang dikatakan Laila bukanlah isapan jempol semata.
Di sebuah kamar yang cukup mewah milik Safira, terlihat wanita itu sedang menangis tersedu-sedu. Sebab Lutfi, sang suami tak kunjung membalas pesan teks yang ia kirim kan.
Jangankan membalas, membaca pun Lutfi tidak. Kanyataan ini tentu membuat Safira frustasi.
"Katanya kalo aku kirim pesan dia mau langsung jawab, katanya kalo aku telpon dia mau langsung angkat. Mana? Bohong saja!" ucap Safira sambil cemberut seperti ****** ***** basah.
Merasa masih penasaran dengan aktivitas yang dilakukan sang suami, Safira pun mengirim pesan teks pada abangnya. Namun sama saja. Zein juga tak membaca pesan yang ia kirim.
__ADS_1
Safira berusaha sabar. Masih sabar. Tetapi ia berjanji akan marah kepada kedua pria tersebut. Karena mereka tidak bisa mengerti perasaan yang ia rasakan saat ini.
Bersambung...