PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 31


__ADS_3

Kesepakatan telah di ambil, Zi setuju menikah dengan pria itu. Pria yang tampak normal di depan mata, namun senyumnya seperti senyum seorang psikopat yang menakutkan.


Zi merinding membayangkan malam pertama sekamar dengan pria mengerikan seperti itu.


Namun, sekali lagi ia tak bisa berbuat apa-apa. Rentenir tersebut menekannya dengan berani. Sama sekali tak memberinya kesempatan untuk berbicara. Entahlah, Zi serasa berada di depan pintu neraka. Mau tak mau ia harus masuk ke dalamnya. Demi menyelamatkan keluarganya dari kesadisan rentenir tersebut.


Beberapa kali Zi menentukan salivanya, ketika ia mengingat sorot mata sang calon suami.


Sorot mata mesum bercampur siap menerimanya membuat seorang Zi merinding.


Beberapa kali ia berdoa, semoga ada malaikat yang berbaik hati menyelamatkanya dari si wajah psikopat itu.


Entah mengapa Zi langsung bisa menilai pria yang menikahinya itu adalah psikopat yang menakutkan. Entahlah, Zi hanya main insting saja.


Kini, Zi telah duduk manis di depan meja rias, bersiap untuk di rias. Air matanya beberapa kali terlihat menetes sehingga tukang rias kesulitan merisa wajah ayu itu.


"Sudah, neng... jangan menangis. Masak calon pengantin nangis," ucap Perias itu, bermaksud menghibur, Zi. Tapi ucapan itu malah menusuk jantung hati gadis ini. Beberapa kali ia juga terlihat mengambil tisu. Untuk mengelap sisa air mata yang tak sanggup ia bendung lagi.


Tepat pukul tujuh malam, Zi selesai di rias. Dengan di dampingi oleh adik kandung sang ayah dan juga perias yang meriasnya tadi, Zi pun di bawa keluar kamar menuju ruang tamu, di mana mempelai pria telah menantinya.


Zi hanya menundukkan kepalanya mana kala berjalan melewati kerumunan orang yang siap menjadi saksi pernikahannya dengan pria aneh itu.


Zi terus menunduk dan menunduk. Karena ia memang enggan melihat sekelilingnya. Bahkan sangking bencinya dengan acara ini, Zi sampai tak mau melihat calon suaminya.

__ADS_1


Namun, keanehan terjadi ketika Zi duduk di sebelah mempelai pria. Zi melihat sendal yang di pakai pria itu sama seperti sendal yang ia lihat di apartemen Zein.


Tentu saja, kesamaan itu membuat Zi semakin kesal dan sedih. Ingin sekali ia menonjok pria di sebelahnya ini. Karena berani-beraninya ia memakai barang yang sama dengan pria yang mulai bisa masuk menerobos hatinya.


Zi semakin kesal mana kala pria itu berani mencolek lengannya. Dan aksinya itu terciduk oleh penghulu yang akan menikahkan mereka.


"Kasep, jangan colek-colek atuh, belum halal. Tunggu lima menit lagi eh," canda penghulu tersebut. Tak ayal candaan itu tentu saja sukses menciptakan tawa di ruangan tersebut.


Sayangnya tawa itu serasa seperti cemoohan untuk Zizi. Zizi marah dalam hati. Sungguh, andai di sini tidak banyak orang. Mungkin dia sudah menjambak pria yang akan menikahinya ini.


"Sudah-sudah, agaknya pengantin kita sudah tak sabar ingin masuk kamar. Sampai berani colek-colek. Sudahlah Pak Penghulu, nikahkan saja mereka!" ucap salah satu pria yang didapuk untuk menjadi pernikahan Zi dan calon suami.


"Baiklah ... sebelum mereka duduk di sini, keluarga sudah bertanya kan, mereka secara suka rela dan tanpa paksaan mau mengikat janji sehidup semati," ucap Pak Penghulu memulai acaranya.


Selepas mendengarkan seluruh wejangan dan nasehat tersebut, Sang mempelai pria pun di minta menjabat tangan Sang Penghulu.


Susana tegang menyerang mempelai pria maupun wanita. Mempelai pria tegang, karena ia bahagia dan gugup. Sedangkan mempelai wanita takut dan ingin kabur.


Andai bisa, batin Sang mempelai wanita.


Namun, niatnya itu seketika buyar ketika Sang Penghulu menyebut nama mempelai pria. Yang tak asing baginya. Tak asing bagi Zi. Karena ia tahu, nama yang di sebut sebagai calon suaminya adalah nama pria itu. Pria yang dicintainya.


Sayangnya kesadaran Zi terlambat, sebab para saksi telah meneriakkan kata sah. Yang berarti dia telah sah menjadi istri dari pria yang telah menyebut namanya dalam Perjanjian sehidup semati itu.

__ADS_1


Ya, pria itu adalah Zein ... Zein yang telah menikahinya. Zein yang telah mengucapkan ijab qobul itu untuknya, dengan berani, lantang dan lancar.


Zizi memberanikan diri membuka matanya, mengangkat wajahnya dan menatap pria yang telah menyebut namanya dalam ijab qobul itu.


Zein, si pria konyol itu hanya tersenyum ketika melihat air mata menggenang di pelupuk mata sang istri. Dengan cepat ia pun mengeluarkan sapu tangannya dan menghapus pelan air mata itu.


Tak ada pertanyaan yang terlontar dari bibir yang kini terlihat gemetar itu. Yang ada hanya rasa bersyukur yang dalam.


Sebab malaikat yang ia sebut dalam doanya ketika di rias tadi, datang secara langsung di depan matanya.


Entah bagaimana ceritanya, yang jelas Zi merasa sedikit lega.


Zi menerima sapu tangan itu. Lalu menghapus air mata yang menetes begitu saja. Sedangkan Zein, belum bisa menenangkan sang istri, sebab ia masih harus menuntaskan tugasnya, menandatangani surat nikah dan menyematkan cincin pernikahan untuk Sang istri.


"Sekarang boleh memberikan maharmu untuk Sang istri," ucap Pak Penghulu. Zein pun segera menyerahkan mahar yang telah ia sepakati dengan keluarga besar Zi.


Tepuk tangan meriah terdengar seiring dengan Zi menerima kotak yang berisi mahar pernikahan mereka.


Lalu, Zein juga diizinkan menciun kening Sang istri. Dan ini, adalah saat paling mendebarkan dalam hidup Zein. Mencium kening wanita yang ia selama ini anggap sebagai teman, sahabat dan adik. Kini wanita itu telah sah menjadi istrinya. Dan Zein sangat bahagia.


"Dah ya, sekarang kalian udah jadi suami istri. Ingat saudara Zein, jangan pernah sakiti hati istrimu. Sebab dia sekarang adalah tanggung jawabmu," ucap Pak Penghulu.


Zein tersenyum sembari melirik manja pada sang istri. Sedangkan Zizi masih berusaha menetralkan perasaannya. Karena nyatanya perasaan itu, saat ini, berkecamuk entah bagaimana.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2