
Juan begitu antusias mendengar kabar bahwa dia akan menjadi seorang ayah sepenuhnya. Seorang ayah yang sebenar-benarnya. Seorang ayah lahir batin. Dan kebahagiaan itu tak lepas dari seorang wanita yang sangat ia cintai. Yaitu, Stella.
Ingin rasanya saat ini ia terbang ke Belanda untuk segera menemui kekasih pemilik hatinya itu. Namun, ia sudah berjanji pada Sera dan juga Vita. Akan sabar menunggu. Sampai mereka memberinya lampu hijau untuk pergi ke sana.
Kini, Juan mengerti, kenapa beberapa hari ini dia sangat sensitif terhadap sesuatu. Ternyata apa yang dikatakan Gani adalah benar. Bahwa dia terkena Syndrome couvade, atau biasa di kenal dengan kehamilan simpatik.
Juan tertawa sendiri menyadari hal ini. Ternyata sang asisten jauh lebih jago darinya mengenali tanda-tanda orang hamil. Menebak dirinya terkena sindrom aneh itu.
"Ini lucu sekali, astaga!" ucap Juan sembari menertawakan kebodohannya. Lucu saja, bagaimana tidak? Pada kenyataannya ia memang bodoh. Persis seperti yang adik iparnya katakan.
Beberapa menit berlalu, ponsel Juan berbunyi. Sepertinya ia mendapatkan pesan bergambar dari sang adik ipar. Di situ, gadis itu mengiriminya video Berliana yang sedang berlajar berjalan. Gadis cilik itu terlihat begitu menggemaskan ketika belajar. Tertatih, Kadang-kadang juga jatuh. Di samping gadis cilik itu ada wanita yang sangat ia rindukan. Sedang menjaga sang baby. Sedang menjaga buah hatinya. Buah hati mereka.
"Please, abang mau dong difotoin mbak yang pakek daster batik itu!" pinta Juan pada pesan teksnya.
"Enak aja, bayar!" balas Vita, sedikit bercanda.
"Oke! Nanti Abang kasih hadiah." Janji Juan.
"Vita minta Abang investasi di butik, Vita. Gimana?" pinta Vita lagi. Gadis ini memang pandai memanfaatkan situasi.
"Astaga! Oke baiklah. Kamu mau Abang investasi berapa sih?" balas Juan.
Di ujung sana Vita tertawa bahagia. Sehingga Stella dibuat heran karenanya.
"Ada apa Vit?" tanya Ste.
"Nggak ada apa-apa, Kak! Eh tapi ngomong-ngomong makasih ya kak, udah kasih Vita rezeki nomplok," ucap gadis cantik ini.
__ADS_1
Stella mengerutkan kening heran. Namun ia enggan terlalu meladeni sang adik.
Sedangkan di seberang sana, seorang pria masih menunggu balasan pesan darinya. Siapa lagi kalau bukan abang ipar tersayangnya.
"Mana fotonya?" tagih Juan.
Vita kembali nyengir. Lucu saya menghadapi seorang pria yang sedang tergila-gila karena cinta.
"Sabar atuh, Bang!" balas Vita. Sengaja mengulur waktu.
"Ya Allah, mau sampai kapan aku disuruh sabar. Lama-lama aku bisa tambah gila ini," gumam Juan sedikit kesal.
Beberapa menit kemudian Vita kembali mengirim pesan yang berisi foto padanya. Foto Stella dari sisi belakang. Seperti sedang membuat susu untuk gadis kecilnya.
"Astaga! Kamu bener-bener ya. Abang maunya foto wajah dia. Bukan patatnya. Ya Tuhan, kuatkan imanku ngadepin bocah gila ini!" tulis Juan dalam pesan teksnya.
"Jangan jangan jangan, oke-oke. Abang pasrah. Abang pasrah pokoknya!" jawab Juan menyerah.
Di sana, terlihat Vita kembali tertawa. Sepertinya sangat menyenangkan bisa menggoda sang kakak ipar.
"Jadi nggak ni investigasinya?" tanya Vita memastikan.
"Jadi! Abang janji!" balas Juan.
"Oke! Abang udah janji, awas ingkar!" tulis Vita lagi.
"Enggak! Abang janji!" Kali ini Juan sungguh-sungguh. Demi Stella, dia sudah berjanji akan melakukan segalanya. Jangankan cuma investasi, apapun yang Vita minta akan ia lakukan.
__ADS_1
"Oke, nanti form perjanjiannya Vita kirim ya. Setelah Abang tanda tangan, Vita bakalan kasih foto-foto kakak. Jangankan yang pakek daster rombeng itu, yang pakek bigini juga Vita kasih. Tenang aja," balas Vita. Di sana gadis ini tertawa bahagia. Sebab ia sukses memanfaatkan keadaan.
"Dasar adik laknat, berani bener dia bertransaksi seperti ini. Awas aja kalo dia ingkar," gumam Juan geram. Bagaimana tidak? Vita begitu berani mempermainkannya. Memanfaatkannya. Namun ia tersenyum bahagia. Jika bukan karena gadis konyol itu, mungkin selamanya Juan akan tetap merindu. Mungkin selamanya Juan tidak akan tahu bagaimana kabar kedua wanita yang sangat ia cintai itu.
"Baiklah!" jawab Juan singkat.
"Abang memang terbaik," balas Vita.
Terbaik palamu, umpat Juan kesal.
"Abang tunggu! Jangan lama-lama. Oiya, kapan Abang boleh jenguk mereka?" tanya Juan semangat.
"Gimana kalo minggu depan. Kita kasih kejutan pas di aniversary kalian, heemmm?" balas Vita antusias.
Sungguh ide yang cemerlang. Juan tak menolak ide brilian itu. Tentu saja. Sebab peringatan hari ulang tahun pernikahan adalah hari yang paling dinanti oleh setiap pasangan. Termasuk Stella dan Juan.
Selepas menyetujui perjanjian serta usil Vita. Mereka pun mengakhiri pesan teks mereka.
Hati Juan berbunga-bunga. Bagaimana tidak? Tidak lama lagi ia akan bertemu dengan kekasih hati. Wanita yang sangat ia rindukan. Juan merasa lebih bahagia karena Vita, sang adik ipar dengan suka cita mau membantunya. Meskipun imbalan yang ia keluarkan tidak main-main. Juan iklhas, sebab balasan yang diberikan oleh Vita tidak ternilai harganya.
Mengingat kekonyolan Vita yang berani melakukan transaksi gila padanya, Juan kembali menggerutu kesal. Ternyata demi mendapatkan foto wanita yang ia cintai, ia harus bersusah-payah bertransaksi super tak masuk akal seperti ini. Namun, ini bukanlah hal yang memberatkan baginya. Nyatanya Juan bahagia. Sangat-sangat bahagia. Tak lupa, Juan kembali berucap syukur atas kebahagiaan yang Tuhan berikan padanya.
***
Malam pun tiba. Terlihat seorang pria dengan penampilan terkerennya sedang tersenyum bahagia di dalam mobil mewah miliknya. Karena saat ini ia sedang menuju sang pujaan hati. Membawa seikat bunga mawar merah kesukaan sang wanita pujaan hati. Tak lupa pria itu pun membawa kotak perhiasan yang berisi cincin bertahtahkan berlian sebagai tanda cintanya untuk sang kekasih. Sungguh, saat ini hati Luis seperti sedang dipenuhi bunga cinta. Kupu-kupu asmara. Entahlah, dia hanya merasa indah saja. Ya, hanya itu.
Bersambung....
__ADS_1