
Hari menjelang sore, karena Lutfi tak diizinkan keluar rumah selama menjadi tahanan, terpaksa Zein pun melakukan pekerjaannya sendiri. Bolak balik mengecek tokonya. Memantau keluar masuk barang sendiri. Zein belum bisa langsung percaya pada orang-orang yang baru dikenalnya.
Zein sudah memantapkan dalam bisnis, semua harus dalam pengawasannya sendiri. Apa lagi bisnis yang sedang ia geluti saat ini terhitung baru. Masih merintis.
Ponsel Zein berdering ketika ia sedang asik memantau para karyawannya menghitung barang yang masuk dan juga membungkus paket pesanan para pelanggannya.
"Hallo, siapa ini?" tanya Zein pada si penelpon.
"Ini aku Lydia. Aku ingin kita ketemu," jawab wanita yang sebenarnya sedang Zein hindari itu.
"Aku nggak bisa kalo sore ini. Aku sibuk!" jawab Zein singkat.
"Aku tidak peduli, adikmu harus bertanggung jawab. Dia harus membayar biaya pengobatan adikku!" balas wanita itu lagi.
Zein mengehela napas dalam-dalam. Diam sejenak. Mimikirkan cara untuk melawan wanita barbar ini. Agar tidak terus menganggunya tentunya. "Kenapa saya merasa anda seperti memanfaatkan keadaan ini ya. Apakah ini drama yang sengaja anda buat untuk menjebak kami?" tanya Zein penuh selidik
Mendengar pertanyaan yang memancing emosi, tentu saja ini membuat Lydia Dewi naik pitam. "Anda jangan ngarang ya. Anda pikir aku miskin? Nggak bisa bayar biaya rumah sakit, begitu ha? Ini aku lakukan semata-mata untuk meminta keadilan dari adik Anda. Agar kalian bertanggung jawab atas kesalahan yang telah kalian lakukan," jawab Lydia geram.
Di sini, bukan hanya Lydia yang yang geram. Zein pun sama. Ia pun mulai terlihat kesal. Karena Lydia berbicara seolah dia dan Lutfi yang bersalah. Tidak mau bertanggung-jawab.
"Kenapa Anda menghubungi saya? Seharusnya Anda menghubungi pengacara kami?" Zein mulai terlihat tak sabar menghadapi Lydia.
__ADS_1
"Bukankah Anda sendiri yang bilang kalo aku harus menghubungi Anda saja. gimana sih?" cecar wanita itu kesal.
"Bukan begitu maksud saya, Nona. Tolonglah mengerti posisi kami. Kami juga sedang berusaha mencari bukti bahwa adik saya tidak melakukan tindakan itu. Anda paham kan maksud saya? Dan kami juga sudah ada pengacara yang, silakan Anda hubungi saja beliau, " balas Zein tak mau kalah.
"Pokoknya aku nggak mau tahu, malam ini aku tunggu Anda di rumah sakit untuk menunaikan kewajiban Anda. Jika tidak, lihat saja nanti!" ancam wanita itu. Tak menunggu persetujuan dari Zein, Lydia Dewi pun langsung menutup panggilan telpon itu.
Sedangkan Zein terlihat menjauhkan ponsel dari telinganya. Tentu saja ia langsung mengumpat kesal. "Astaga!Dasar wanita nggak punya sopan!" umpat Zein kesal. Sepertinya Lydia memang telah sukses membuat pria tampan ini membenci keadaan ini.
Zein menatap tajam ke arah mata memandang. Lalu meremas kesal jari-jarinya. Ingin rasanya ia menonjok wanita itu. Andai dia bukan wanita, gumam Zein geram. Lydia Dewi berasa seperti penganggu dalam hidupnya. Sangat menyebalkan.
***
Di sisi lain, Lydia juga kesal bukan main. Ia terus didesak sang kakek untuk segera menyelesaikan kasus tambrak lari itu. Sangat kakek ingin pria yang dituduh menabrak Laras segera diadili. Dan perintah itu cukup membuat gadis ini kalang kabut.
"Awas aja kalo sampai dia nggak mau bertanggung jawab. Akan kejar ke mana pun dia pergi!" ancam Lydia sambil menginjak keras pedal gas mobilnya. Berharap, segera sampai ke rumah sakit. Berharap, pria menyebalkan itu datang kepadanya dan siap mempertanggung-jawabkan apa yang telah dia sepakati.
Sayangnya, perjalannya kali ini tidak semulus bayangan. Hujan deras dan juga jalanan yang licin menjadi penghambat perjalanan gadis ayu berambut pendek ini. Namun, dia tak patah semangat. Ia pun terus memacu kenyataannya. Sayangnya, lagi-lagi kesialan menimpanya. Mobil yang ia kendarai tiba-tiba saja berhenti di tempat. Terkejut, sudah pasti. Sebab selama ini, mobil jazz silver kesayangannya ini tidak pernah rewel sama sekali.
"Ya Tuhan! Kenapa lagi sih?" tanya Lydia pada dirinya sendiri. Berkali-kali ia mencoba menstater mobilnya, namun tidak menyala. Terang saja, keadaan ini membuat Lydia frustasi.
Lydia melirik jam tangannya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Jalanan begitu gelap dan dia sendirian. Meskipun dia pandai bela diri, tetap saja, berada di jalanan gelap seorang diri tetap membuat gadis ini merinding.
__ADS_1
Ingin keluar, tetapi hujan begitu lebat. Angin juga berembus sangat kencang. Membuat wanita ini merinding, lalu mengurungkan niatnya untuk keluar.
Semenit kemudian, ponselnya berdering. Dilihatnya siapa yang menghubunginya. Ternyata itu adalah Zein. Pria yang ia ajak untuk janji temu.
Lydia tahu, pasti Zein akan marah padanya. Karena menganggap dirinya mempermainkannya. Tapi mau bagaimana lagi, keadaanlah yang memaksanya untuk mengingkari janji.
"Hallo," sambut Lydia sedikit kurang nyaman.
"Kamu di mana?" tanya Zein, terdengar ketus.
"Sorry, aku nggak bisa dateng. Aku.... Aaghhhh," Lydia menghentikan pembicaraannya dengan Zein sejenak, karena terdengar bunyi petir menyambar.
"Kalo nggak bisa dateng, bilang dong dari tadi. Dasar! Situ yang bikin janji, situ juga yang ngingkari. Dasar merepotkan!" umpat Zein kesal.
"Maaf," jawab Lydia lirih. Karena hanya kata itulah yang bisa Lydia ucapkan.
"Heemm, ya udah aku balik. Besok aja kita urus." Zein hendak menutup sambungan telponnya, namun kembali terdengar suara Lydia berteriak.
Penasaran, Zein pun kembali menempelkan ponsel di telinganya. "Kamu kenapa sih? Teriak mulu! Ada yang terjadi?" tanya Zein, kali ini dengan nada yang bisa dikatakan lebih tenang.
"Sorry, mobilku mogok. Ini sedang hujan lebat dan aku sendirian. Ada petir, aku takut," jawab Lydia jujur.
__ADS_1
"Ya Tuhan! Share lokasi, aku segera ke sana. Jangan ke mana-mana oke!" jawab Zein tanpa berpikir panjang. Yang ada dalam pikirkan Zein saat ini hanyalah Lydia seorang perempuan. Dalam situasi seperti itu adalah situasi yang sangat berbahaya. Zein tak mungkin mengabaikan seseorang yang nyata-nyata membutuhkan bantuannya.
Bersambung...