PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
NASEHAT JUAN untuk ZEIN


__ADS_3

Di sisi lain ada seorang pria yang masih tidak terima dengan keputusan rapat tersebut. Dengan penuh amarah ia pun langsung kembali ke kantor Juan. Ingin membuat perhitungan dengan pria tersebut. Zein kecewa. Sangat-sangat kecewa. Terlebih ketika ia tahu bahwa Stella mengandung benihnya. Tentu saja Zein merasa dipermainkan. Harusnya, jika itu anaknya maka Stella harus mencarinya. Bukan menikah dengan pria lain. Mencarikan ayah untuk bayinya. Yang nyata-nyata dia masih ada. Zein berpikir dia masih hidup dan mampu untuk membiayai bayi tersebut.


Bukan hanya itu, Zein merasa keberuntungannya hilang saat ia tahu bahwa wanita yang ia anggap masih menjadi haknya itu dimiliki oleh orang terdekatnya, yang tak lain adalah Juan, sang sahabat. Zein merasa terpukul dengan itu. Rasanya hati pria ini seperti tertusuk sembilu. Sakit bukan main, terlebih ketika saat itu sang asisten malah membela rivalnya bukan dirinya. Lagi-lagi Zein merasa dihianati. Hatinya tentu saja remuk redam sebab tertusuk bertubi-tubi oleh ingin yang tak tersampaikan.


Dengan emosi yang makin meninggi, Zein langsung membuka pintu ruang kerja Juan, masuk ke ruang kerja tersebut tanpa permisi.


Sayangnya amarah Zein malah terbayar oleh pemandangan yang kembali memporak-porandakan mata hatinya. Zein kembali tertampar oleh kenyataan yang mampu merobek jantung hatinya. Bagaimana tidak? Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat wanita yang ia puja bercumbu mesra dengan rivalnya. Meskipun pada kenyataannya itu adalah hak mereka. Sebab mereka adalah suami istri.


Hati Zein memanas. Terlebih ketika ia melihat mereka begitu menikmati cumbuan itu.


Tanpa kata pria ini langsung menarik tangan Stella dan menjauhkan wanita itu dari suami barunya.


Terang saja Stella dan Juan terkejut. Zein sangat keterlaluan. Tak ayal Juan pun naik pitam.

__ADS_1


"Apa-apaan kamu, Zein!" teriak Juan kesal. Tak ingin kalah pria ini pun langsung menarik tangan sang istri dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Lepasin! Dia ibu dari bayiku!" balas Zein tak mau kalah.


Juan tersenyum sinis. Kemudian ia pun membalas ucapan pria gila ini. "Dia istriku. Kamu dengar dia istriku. Baik secara agama atau pun secara hukum. Dan, perlu kamu ingat bahwa baby Berliana adalah putri dari Juan Richard Rahadian. Tak peduli dia benih siapa. Yang jelas bayi itu lahir dari pernikahan Stella Gunawan dengan Juan Richard. Silakan tuntut jika kamu tidak terima. Tetapi ingat apapun yang kamu lakukan aku tidak peduli. Aku akan tetap mempertahankan anak dan juga istriku. Apapun yang terjadi. Sebab mereka adalah tanggungjawabku. Baik di dunia maupun di akhirat." Selepas mengeluarkan uneg-unegnya Juan kembali menatap tajam pada Zein. Sedangkan Zein bukannya mengerti, pria ini malah semakin menjadi.


"Stella adalah milikku Juan. Mengertilah!" Zein seperti kehilangan akal.


"Milikmu yang telah kamu patahkan. Milikmu yang telah kamu sia-siakan. Bahkan tanpa belas kasih telah kamu telah membuangnya Zein. Aku Zein! Aku! Aku yang telah menyembuhkannya. Aku yang berjuang menyembuhkan luka fisik maupun psikisnya. Dan seperti yang kamu lihat, sekarang dia bisa kembali berdiri dan tersenyum." Juan menatap penuh keberanian pada Zein. Napasnya terlihat naik turun, ngos-ngosan karena menahan amarah.


"Apa kamu tahu Zein? Setelah kamu kembalikan dia ke keluarganya. Ia menerima perlakuan seperti seorang tahanan yang melakukan kesalahan paling besar di dunia ini. Ayahnya yang bangsat itu menyiksanya Zein. Itu karena apa, karena pemikiran bodohmu." Kali ini Juan tak ingin menutupi apapun. Ia ingin sahabatnya ini sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah.


Zein diam, mendengarkan dan belum berani mengucapkan sepatah katapun. Sebab dari hati kecilnya ia sendiri juga merasa bersalah.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak berpikir akibat dari pemikiran kolotmu itu. Jangankan makan, berbicara saja dia tidak bisa. Dia hanya menangis dan menangis ketakutan di ujung ruangan. Seluruh tubuhnya babak belur karena penyiksaan yang dilakukan oleh ayahnya. Dia sampai tak bisa bicara karena shock. Dia juga tak mau di dekati siapapun selain aku dan dokter yang merawatnya. Sebab semua orang yang dia lihat sepertimu, seperti ayahnya. Seperti kalian yang menyakitinya. Kalian sangat kejam, Zein. Mengapa kalian tidak berpikir bahwa dia hanyalah seorang wanita. Yang harusnya kalian dilindungi. Yang harusnya kalian disayangi." Juan semakin geram. Sedangkan Zein menatap nanar pada Stella yang ketakutan dan menyembunyikan wajahnya di dada Juan.


"Dan sekarang, setelah dia bisa menumbuhkan rasa percaya dirinya, dengan mudahnya kamu mau datang dan mengungkit hakmu. Gak macam apa yang kamu inginkan. Apa kamu tahu betapa sakitnya dia mengandung buah hatimu tanpa dirimu. Paa kamu tahu perjuangan dia saat mengandung bayimu. Di mana kamu waktu dia tak bisa tidur karena kakinya sering kram. Di mana kamu ketika dia memuntahkan seluruh isi perutnya karena tak kuat mencium aroma nasi. Lalu ke mana kamu ketika dia merasakan betapa sakitnya proses melahirkan bayimu. Kamu gila Zein kalau masih berani menanyakan hak, sedangkan secuil kewajibanmu saja tak kamu penuhi. Gila kamu Zein. Sungguh aku jijik dengamu," ucap Juan panjang lebar. Pria ini mqaih menatap sang sahabat dengan tatapan ingin mencakar Zein. Ia juga menggelengkan kepalanya kesal.


Juan memang sengaja mengungkit hal ini, agar sang sahabat sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Bahwa apa yang dia lakukan adalah keliru.


"Aku mencintainya Juan. Mengertilah!" teriak Zein sembari tertunduk lesu. Pria ini langsung bersujud di depan Stella. Memohon pada wanita itu agar mau kembali padanya.


"Kalau kamu memang mencintainya, kamu tidak akan bertindak seperti ini Zein. Kamu nggak akan memaksakan kehendakmu padanya. Dia baru sembuh dari trauma beratnya Zein. Aku mohon, kalau kamu memang mencintainya. Lepaskan dia, relakan dia bahagia. Dengan siapapun. Jangan melihatku sebagai musuh. Aku bukan musuhmu. Andai kamu tahu pertemuanku dengan Ste juga tidak kami sengaja. Kalaupun saat ini kami telah menikah, itupun kehendak Tuhan Zein. Kita tak mungkin bisa mengelaknya," tambah Juan.


Sebenarnya melihat Zein terpuruk seperti ini, Juan juga kasihan. Namun mau bagaimana lagi. Juan harus tetap memperjuangkan haknya. Mempertahankan miliknya. Sebab Juan tahu jika Stella percaya padanya. Percaya akan cintanya. Percaya akan kesungguhnannya. Juan tak mau membuat Stella kecewa dan terluka karenanya.


Bersambung....

__ADS_1


Like komennya jangan lupa🥰🥰🥰


__ADS_2