
Zi tidak tahu harus senang atau sedih. Dua garis merah itu memberinya sedikit rasa takut. Bagaimana tidak? Saat ini sangat suami sedang tidak pro dengannya. Sang suami mengacuhkannya. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk membicarakan perihal ini pada Sang suami.
Zi meneteskan air mata kesedihannya. Entah, sedih saja. Rasanya kabar ini seperti mengandung aura kesedihan yang memang ia harus lewati. Namun, mau bagaimana lagi? Bukankah anak adalah rezeki. Amanah yang harus ia jaga, bukankah begitu.
Zi duduk termenung di sofa kamarnya. Menatap ranjang di mana ia dan Sang suami melakukan malam-malam indah merekam.
Kini, ranjang itu berasa gersang. Berasa sepi dan penuh kesedihan. Ya, sejak Zein menghindarinya, Zi tak mau lagi tidur di ranjang itu. Bayangan ketika Zein mencumbu nya selalu hadir tanpa ia minta. Dan bayangan itu sukses menghadirkan sesak di dalam dadanya. Zi sangat lelah dengan itu. Sangat-sangat lelah.
Bukan hanya ranjang itu yang membuat Zi semakin terpuruk. Sekeliling kamar ini pun sama. Zi merasa tercekik ketika teringat Zein tak mau menjawab ucapannya. Zein begitu tega mengacuhkannya.
Fase itu juga memberikan rasa takut pada jiwa Zi, ia takut kalau sampai Sang suami tidak mau peduli dengan calon bayi mereka. Lalu, bagaimana caranya Zi menjaga mereka. Haruskah Zi membesarkannya sediri.
"Ah... aku mikir apa sih? Bukankah sebaiknya aku bicarakan ini dulu sama dia. Masalah nanti dia terima atau nggak, pikirkan nanti. Yang penting dia bapaknya, dia berhak tahu, jika dia akan menjadi seorang ayah dari buah pernikahan kami," ucap Zi pada dirinya sendiri.
Lalu, sedetik kemudian, ia pun menghubungi resepsionis kantor. Bertanya kepada pegawai suaminya tersebut. Apakah Sang suami ada di sana atau tidak? Beruntung suaminya tersebut sudah ada di kantor. Zi pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Sebaiknya Zi langsung ke kantor Zein saja, sebelum pria itu kembali menghilang tak ada kabar. Secara, sekarang Zein jarang pulang dan susah dihubungi.
Zi segera bersiap dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki. Setidaknya jika ia berpakaian rapi dan baik, maka kemungkinan ia tidak membuat Sang suami malu di depan para karyawannya.
Setidaknya, dia adalah istri bos di sana. Meskipun belum ada yang tahu bahwa bos tampan mereka telah memiliki istri secantik dia. Karena Zein memang belum pernah mengenalkannya pada khalayak bahwa dia memiliki istri secantik Zi.
Ah, apa gunanya memikirkan itu, bukankah sebaiknya ia segera bersiap dan mewujudkan niatnya. Siapa tahu, setelah mendengar kabar bahwa mereka akan memiliki bayi, Zein akan berubah lebih perhatian. Zein akan kembali menjadi Zein yang hangat seperti pertama kali mereka bertemu.
Berharap, boleh kan? Karena hanya harapan baik itulah yang sanggup membuat Zi bertahan saat ini. Semoga calon bayi ini bisa membuat pria itu sadar, bahwa ia telah memiliki tempat untuk pulang. Yaitu dirinya dan calon bayi mereka.
Zi tersenyum bahagia ketika ia masuk ke dalam mobil Yaris yang sengaja Zein belikan untuknya. Sungguh, ketika mobil ini datang dan menemani hari-harinya, Zi merasa sangat bahagia. Zi merasa Zein segalanya. Maka tidak salah jika Zi terlena dengan kenyamanan yang Zein berikan padanya. Zein begitu sempurna untuk ukiuran seorang Zi.
***
Di sisi lain, tanpa sepengetahuan Zein, kedua wanita yang kini telah terlihat dengannya sedang menuju ke tempat di mana kini dia berada.
__ADS_1
Mereka memiliki tujuan yang sama, yaitu bertemu dengannya. Ingin mengutarakan isi hati mereka masing-masing. Mereka sama-sama membutuhkan kebahagiaan darinya.
Zein tersenyum senang karena sang kekasih hati sudah berada dekat dengan kantornya. Ia pun segera mengakhiri meeting dengan beberapa pegawainya, karena ia tak mau melewatkan moment pertemuan pertama mereka setelah jadian.
Namun ketika sampai di lobi kantor, bukan Vita yang ia lihat untuk pertama kali. Tetapi, Zi. Dialah sang istri. Wanita uyang ia hindari. Wanita yang tidak ia kehendaki untuk saat ini. Kini berdiri tegak, mematung tepat di depannya.
Zein tak bisa menghindar lagi karena mata mereka telah saling bertemu. Zein tertegun, begitu pun Zi.
Mereka sama-sama bingung, kaku, lidah mereka sama-sama terasa kelu, walau hanya untuk sekedar berucap hay.
Zi memberanikan diri melangkah mendekati Zein, meskipun jujur ia sangat ragu dan takut dengan itu. Sebab terlihat jelas bahwa tatapan yang Zein berikan padanya, seperti tatapan tidak suka. Seperti tidak menginginkannya. Zi berusaha mengesamingkan rasa ityu. Walaupun pada kenyartannya ia sangat gugup. Zi sangat takut jika apa yang ia pikirkan adalah benar.
Gemuruh rasa kurang nyaman pada masing-masing hati pun terasa jelas. Namun, ketika gemuruh itu semakin membuncah, tak di sangka, dari arah belakang Zi datanglah Vita dengan segala keceriannya.
"Abang!" panggil wanita itu gembira, sembari berlari melewati Zi dan tanpa basa-basi Vita pun langsung memeluk pria yang di cintainya itu. Bukan hanya memeluk, tanpa malu Vita juga memberikan kecupan sekilas di bibir Zein. Lalu ia kembali memeluk manja kekasih hatinya.
Bagai disambar petir rasa hati Zi. Wanita ini tak mampu berbuat apa-apa selain diam menyaksikan pemandangan menusuk kalbu itu.
Zi sendiri merasa seperti kehilangan separo nyawa detik itu juga. Ia hanya bisa menatap nanar pemandangan yang sangat tidak ia duga itu
Gemuruh di dada belum mereda, Zi pun memutuskan mundur teratur dan menghapus butiran bening yang menyembul keluar dari mata indahnya.
Melangkah cepat untuk meninggalkan tempat yang membuatnya terlihat sangat menyedihkan ini.
Zi tak memungkiri bahwa ia cemburu. Ia sakit hati. Hatinya serasa tertusuk ribuan jarum. Perih dan ngilu rasanya. Bagaimana tidak? Pria yang sangat ia cintai tega menduakannya, tega bermain api di belakangnya, harusnya tidak begini konsepnya. Harusnya jika dia, pria itu ... tidak mencintainya, kenapa harus menikahinya?
Oke, kalau memang pernikahan ini hanya untuk menyelamatkannya dari rentenir itu, setidaknya jangan membuatnya nyaman agar dia tidak lupa. Bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah sandiwara berlaka.
Di dalam mobil, Zi memangis menjadi-jadi. Merutuki kebodohannya karena terlena dengan kenyamanan yang Zein berikan kepadanya.
__ADS_1
Bukan hanya kebodohannya yang ia benci, namun cintanya. Cinta butanya sehingga tidak mampu membedakan mana yang cinta beneran dan cinta palsu.
Cinta Zi pada Zein terlalu tuli, jika seandainya ia langsung bertanya pada Zein ketika ia melihat foto wanita itu, mungkin Zi akan merasakan sakit yang teramat sagat seperti ini. Setidfaknya ia telah mendapatkan jawaban di awal. Agar ia bersiap-siap untuk bisa menetralkan perasaannya.
***
Di lain pihak, Zein sedikit merasa bersalah ketika ia melihat sang istri memundurkan langkahnya sambil menghapus air matanya.
Tidak dipungkiri bahwa ia juga bisa merasakan rasa sakit itu. Zein sendiri juga merasakan ngilu pada sudut hatinya yang terdalam. Nyatanya, ia juga tidak rela melihat Zi menangis.
Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, sebab dia telah memilih. Ia ingin bersama Vita. Mau tak mau ia harus mengorbankan satu hati untuk meraih impiannya itu.
"Abang, dih ... kenapa melamun?" tanya Vita sembari menyenggol lengan Zein.
"Ah nggak, Abang senang akhirnya bisa ketemu kamu," jawab Zein berbohong.
"Hehehe. Oiya, Bang. Dapat salam dari Kak Ste. Kak Ste pengen tas yang kayak aku, harganya berapa, dia mau pesan satu," ucap Vita sembari menyuapkan sesendok es krim ke mulutnya.
"Mau yang mana?" tanya Zein.
"Mau yang kayak punya aku. Yang abang kasih waktu itu," jawab Vita.
"Ohhh, suruh hubungi admin toko aja. Kalo nggak suruh tanya Fira. Dia yang tahu stok semua barang. Kalo abang hanya tau terima duitnya aja," jawab Zein mencoba tersenyum.
"Dih, sama mantannya begitu. Emang kenapa kalo tanya ke Abang, nggak boleh gitu?" ledek Vita.
"Ya nggak lah, boleh-boleh aja. Abang hanya mau menjaga perasaan Juan aja. Mau bagaimanapun kan Juan sahabat abang," jawab Zein santai.
Sayangnya ucapannya kali ini bertentangan dengan hati nuraninya. Nyatanya, perbuatannya jauh lebih kurang ajar di banding mulutnya yang manis. Nyatanya saat ini, ia gagal menjaga hati yang seharusnya ia jaga. Zein gagal menjaga perasaan seseorang yang mencintainya. Dan yang lebih di sayangkan lagi adalah ia terlau bodoh, karena mengulang kesalahan yang sama.
__ADS_1
Bersambung ...