
Tak ingin kehilangan sang istri, Juan pun langsung tancap gas, pergi, menuju apartemen pribadinya. Karena ia yakin jika Stella pasti masih menunggunya di sana. Ia tahu jika wanita itu sangat mencintainya. Juan percaya, jika Stella tak akan pergi ke mana-mana.
Sepanjang perjalanan menuju tempat tujuannya tersebut, pria tampan ini berdoa, agar apa yang dikatakan Rehan hanyalah untuk menakut-nakutinya saja. Hanya untuk membuatnya menyadari bahwa apa yang ia lakukan itu salah. Juan berharap, apa yang dikatakan Rehan tidak menjadi kenyataan.
"Aku mohon, Ste! Jangan pergi!" gumam Juan takut. Beberapa kali pria ini mengusap keringat dingin yang keluar dari keningnya. Ia gugup. Ia takut. Juan benar-benar takut, jika Stella pergi meninggalkannya.
Tak ingin menghabiskan waktu di jalan. Juan pun menginjak pedal gasnya lebih kuat, bermaksud melajukan kendarannya lebih cepat. Supaya bisa segera sampai ke tempat sang istri berada.
Sesampainya parkiran apartemen , Juan berlari sekuat tenaga. Memencet setiap tombol lift yang ia lewati. Berharap-harap lift-lift itu cepat membuka pintu dan mengantarkannya ke tempat tujuan.
Beberapa detik kemudian, salah satu lift pun terbuka. Dengan cepat ia pun masuk dan memencet tombol nomer yang ia kehendaki.
Di dalam lift, kembali pria ini berdoa, berharap, sang istri masih berada di tempat. Menunggunya. Menantikannya. Juan berjanji akan meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Juan berjanji tidak akan pernah mengulangi perbuatan bodohnya lagi. Juan janji, pokoknya janji.
Namun sayang, sesampainya di unit pribadi miliknya, Juan tertunduk lesu. Sebab, sang wanita yang ia cari tidak ada di tempat. Padahal ia mencari ke sana ke mari. Mencari di setia sudut ruangan. Tetapi, tak ada seorangpun yang ia lihat. Tak seorangpun ia jumpai. Semua kosong, sunyi, mereka telah pergi. Stella telah pergi dengan membawa serta putri kesayangannya.
"Mam! Liana, ini Papi. Kalian di mana?" panggil Juan ketakutan. Namun tak ada jawaban. Kaki pria ini terasa lemas. Jantungnya berdetak lebih kencang. Beberapa kali Juan terlihat menelan salivanya.
Juan tak kehilangan akal. Kembali ia menghubungi sang istri. Tetapi sayang, ponsel Stella berada di luar jangkauan. Lalu ia pun berinisiatif menghubungi Vita. Barang kali bisa dihubungi. Namun, ponsel kedua wanita tersebut tidak aktif, semuanya berada di luar jangkauan.
Juan semakin frustasi. Terlebih ketika ia menemukan secarik kertas yang ditinggalkan Stella untuknya di meja makan.
__ADS_1
Di dalam kertas tersebut, Stella menulis alasan kenapa ia memilih pergi.
Teruntuk Suamiku...
Maaf, jika aku tak bisa mengerti inginmu.
Maaf, jika aku gagal memahamimu.
Maaf, jika selama ini aku egois.
Maaf, karena aku tidak tahu jika di hatimu masih ada dia.
Aku pikir, hatimu hanya milikku.
Aku tidak tahu suamiku, jika pada kenyataannya di sudut hatimu masih tersimpan kenangan tentangnya. Masih mengharapkan dirinya.
Maafkan aku yang bodoh ini.
Maafkan aku yang kurang peka terhadap keinginan hatimu.
Semalam utuh aku menunggumu, berharap kamu akan memberiku kabar. Semalam utuh aku menunggumu menyapaku. Semalam utuh aku berharap, kamu menelponku dan mengajakku membicarakan masalah kita, dari hati ke hati. Tahukah kamu bahwa aku merindukanmu. Berliana juga terus menangis, mungkin dia juga merindukanmu, ayahnya, seperti aku.
__ADS_1
Berkali-kali aku berusaha menghubungimu, namun selalu kamu tolak. Aku sudah berusaha semampuku meminta maaf padamu. Namun, kenyataannya kamu tak ingin. Malah memintaku untuk pergi. Semalaman aku memikirkan keinganmu yang memintaku untuk pergi.
Baiklah.... Tak mengapa jika ini sudah menjadi keputusanmu. Aku bisa apa? Maaf, kalau aku telat menyadari siapa diriku.
Aku berjanji akan berusaha menerima keputusanmu. Mungkin inilah jalan yang terbaik untuk kita, meskipun jujur ini sangat berat bagiku. Karena kamu tahu kan? Aku terlanjur jatuh cinta padamu. Hehehehehe....
Maafkan aku yang bodoh ini. Maafkan aku yang selama ini terlena. Maafkan aku yang tak tahu batasan. Maaf...
Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik!
Tak usah mencari kami. Percayalah aku aku akan menjaga putriku dengan baik. Aku akan membesarkannya dengan sepenuh hati. Aku berjanji tak akan menyakitinya. Terima kasih, berkatmu aku memiliki malaikat kecil ini. Terima kasih berkatmu aku menyadari bahwa aku memiliki tugas dan tanggung jawab atas titipan Tuhan ini. Terima kasih untuk semuanya Juan. Terima kasih...
Maaf aku belum bisa membalas kebaikanmu. Semoga kamu bahagia dengan cintamu. Aku ikut bahagia jika kamu bahagia. Maka berbahagialah, heemmm...
Stella...
Jantung Juan serasa tertusuk ribuan jarum. Sakit sekali rasanya. Ini jauh lebih sakit dibanding penolakan kedua orang tua Safira atas lamarannya dulu. Sungguh itu tak ada bandingannya dengan ini.
Juan telah kehilangan segalanya. Kehilangan senyuman wanita itu. Kehilangan tawa gadis cilik itu. Kehilangan kebahagiaannya. Juan hancur sehancur-hancurnya. Sampai menangis pun sudah tak bisa. Sampai berucap pun tak punya tenaga.
Juan terlambat. Juan kalah. Juan hancur. Pria ini hanya bisa diam menatap nanar pada gorden-gorden itu. Pria ini lemas, seakan nyawanya hilang detik ini juga.
__ADS_1
Bersambung....