PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 52


__ADS_3

Satu minggu kemudian ...


Zi dan Zein tidak lagi saling berkirim kabar. Mereka benar-benar telah putus komunikasi.


Zein tenggelam dalam kesehariannya, sibuk bekerja dan hubungannya dengan Vita. Sedangkan Zi sendiri memilih menata hatinya, mengikhlaskan segalanya dan bekerja seperti biasa.


Namun, tib- tiba saja terbesit dalam pikiran Zein untuk menyelesaikan masalah ini. Ia tak ingin masalahnya dengan Zi berlarut-larut.


Oleh sebab itu, malam ini, Zein pun memutuskan untuk pulang ke rumah untuk menemui wanita itu.


***


Memiliki tujuan yang sama dengan Zein, Zi pun memutuskan untuk pulang. Cukup baginya selama seminggu ini bersembunyi atau lebih tepatnya menenangkan diri.


Zi pasrah dengan keputusan yang mungkin akan Zein berikan kepadanya. Kalaupun nantinya Zein memutuskan memilih wanita itu dan meninggalkannya, Zi sudah ikhlas. Dan Zi percaya, apapun keputusan itu, semua pasti telah mendapat persetujuan dari sang Maha Pemilik Jodoh.


Zi tersenyum kecut membayangkan kenyataan pahit yang pastinya dirinya dan sang calon bayi akan alami. Tetapi Zi tak punya pilihan lain. Selain harus menyelesaikan masalah ini secepatnya.


Berbekal tekat dan kenyakinan yang kuat, akhirnya, Zi pun melajukan motor kesayangannya menuju rumah di mana dia dan Zein tingggal.


Sampai di rumah. Zi memarkirkan motor ke sayangannya di tempat biasa. Tanpa ia sangka, ternyata di sana sudah terpakir mobil sport berwarna putih yang ia ketahui bahwa itu adalah milik sang suami.


Jantungnya berdetak lebih kencang ketika ia memasukki rumah. Di sana ternyata sudah ada Zein yang sedang duduk termenung di meja makan.


Dengan debaran jantung yang susah di kendalikan, Zi pun berinisiatif menyapa Zein terlebih dahulu.


"Assalamu'alaikum," sapa Zi pelan.


"Waalaikumsalam..." Zein menoleh sekilas, lalu ia pun kembali memfokuskan pandangannya pada cangkir kopi yang ada di depan matanya.


Sedangkan Zi sendiri menjadi tidak siap bertemu apalagi bercengkrama dengan pria itu. Entahlah, Zi sangat takut berbicara dan menatap mata Zein. Zi takut tidak dapat menendalikan rasa yang ternyata masih ada di dalam hatinya. Zi takut tidak bisa menahan ingin untuk menyentuh pria itu. Ya, tak dipungkiri bahwa wanita cantik ini memang masih menyimpan rindu untuk pria itu.


Untuk menetralkan perasannya, Zi pun memilih melangkah meninggalkan Zein dan masuk ke dalam kamar. Namun, langkahnya terhenti ketika Zein memintanya untuk tinggal.

__ADS_1


"Zi ... bisa kita bicara!" pinta Zein, langsung tanpa basa-basi.


Zi pun menghentikan langkahnya, lalu ia pun menhela napas dan menjawab, "Tentu saja," jawab Zi santai.


Lalu, tanpa banyak drama, Zi pun melangkahkan kakinya mendekati pria yang menikahinya beberapa bulan yang lalu itu.


Zi langsung duduk persis di depan Zein, dan meletakkan tas kerjanya serta tas ranselnya di kursi yang ada di sebelahnya.


Zein menatap sang istri dengan tatapan mengintimidasi tentunya."Ke mana saja kamu? Kenapa seminggu ini nggak pulang? Kamu itu masih istriku, Zi. Jadi aku harap jangan bertingkah macam-macam," ucap Zein langsung mengutarakan kekecewaannya pada Zi.


Zi memberanikan diri menatap mata pria egois itu. Bagaimana tidak? Zi tidak pulang seminggu dia heboh. Lalu dia nggak pulang hampir satu bulan, Zi biasa aja.


"Aku nggak ke mana-mana, aku ada di mes rumah sakit," jawab Zi jujur.


Zi sengaja tidak membalas pertanyaan pedas sang suami, karena niatnya pulang adalah menyelesaikan masalah bukan menambah masalah.


"Oke," jawab Zein tanpa mau berdebat.


Suasana hening sejenak. Lalu berubah mencekam mana kala Zein mulai menyinggung soal Vita.


Ya, Zein memang sudah berniat terbuka dengan segala hal yang menyangkut perasannya dan Zein tidak peduli, Zi akan marah atau mungkin akan memakinya. Namun inilah kenyatannya, bahwa Zein memang mencintai wanita lain selain dirinya.


Zi, hanya mengangguk. Mencoba memahami keinginan pria ini. Bagi Zi, kejujuran Zein patut diapresiasi, meslipun pada kenyatannya melukainya.


"Kalau kalian saling mencintai jauh sebelum kamu mengenalku. mengapa kalian tidak menikah sebelum kita bertemu?" tanya Zi.


"Perjalanan cinta kami tidak semudah yang kamu banyangkan Zi, ada banyak kedala di dalamnya. Aku tidak bisa menjelaskan detail bagiamana perjalanan cinta kami. Tapi aku berharap kamu bisa mengerti kami," jawab Zein, terlihat mata pria itu berkaca-kaca, pertanda bahwa apa yang ia ucapkan itu adalah benar. Bahwa ia menyimpan harapan yang sangat besar pada cinta yang saat ini sedang ia perjuangkan.


Zi masih diam, jujur dia bingung. Bagaimana caranya dia juga ingin mengutarakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Bahwa saat ini ia juga sedang mengandung buah dari pernikahan mereka.


"Aku tidak akan menceraikanmu, Zi. Asalkan kamu mau mengizinkanku menikahinya," ucap Zein lagi.


Zi tersenyum mendengar permintaan konyol itu. Bagaimana tidak? Bukankah dimadu itu lebih menyakitkan dibanding diceraikan. Astaga! batin Zi.

__ADS_1


"Kenapa kamu tersenyum, Zi? APakah itu artinya kamu memberiku izin untuk menikah dengannya?" tanya Zein, menerka arti dari senyuman itu.


Padahal senyum itu sebenarnya adalah tangis yang Zi sembunyikan. Sebab di detik ini, kenyataan bahwa bayinya akan kehilangan sesesok ayah semakin dekat.


"Ah tidak. Tentu saja aku akan mengizinkanmu menikahinmya Zein. Kamu tenang saja," jawab Zi, lalu ia kembali tersenyum.


"Lalu bagaimana denganmu, Zi. Apakah ada syarat yang harus aku penuhi untuk meluruskan niat kami ini?" tanya Zein, matanya langsung berbinar senang. Sebab apa yang ia takutkan tidak menjadi kenyataan.


"Tidak ada, Zein. Kamu tidak perlu memberikan appaun padaku. Awalnya kita adalah orang lain. Maka kembalikanlah aku menjadi diriku yang semula. Aku tidak keberatan menjadi janda, Zein. Itu tidak masalah bagiku." Zi kembali tersenyum dan terus bertahan menyembunyikan rasa sakit yang menyerang ulu hatinya bertubi-tubi itu.


Zein menatap Zi dengan tatapan yang mengandung dilema. Awalnya semangatnya menggebu ingin melepaskan diri dari Zi, namun entah mengapa ketika Zi yang memintanya melepaskannya, Zein malah ragu.


Hatinya berdesir merinding. Rasa tidak rela kehilangan wanita yang selalu menemani masa-masa terpuruknya ini tiba-tiba menyerangnya. Ya, Zein tidak rela.


Suasana hening seketika. Zi hanya menunduk dan meremas jari-jarinya. Sedangkan Zein terus menatap wajah wanita yang selalu memberinya rasa nyaman ketika bersama itu. Bahkan ketika ia membawa luka, Zi masih saja memberinya ketenangan. Masih memberinya kenyamanan.


"Zi."


"Hemm."


"Apakah kamu yakin, perceraian adalah jalan terbaik untuk hubungan kita?" tanya Zein, hari pertanyaan itu, Zi yakin bahwa Zein tidak siap kehilangan dirinya. Namun, bukankah dia telah memilih. Bahwa dia telah memilih cinta masa lalunya di banding dirinya.


"Aku rasa ini adalah pilihan terbaik untuk hubungan kita, Zein. Aku memang tidak tahu pasti niatmu menikahiku kala itu. Tapi sekarang aku mengerti bahwa tujuanmu menikahiku hanya untuk menyelamatkan aku dan keluargaku dari rentenir itu. Dan terima kasih untuk itu. Aku tidak tahu, bagaimana jadinya jika kamu tidak datang saat itu," ucap Zi, terdengar menyayat hati. Namun, itulah yang Zi pikirkan. Itulah yang Zi pelajari setelah hadirnya kasus ini.


Sedangkan dari pihak Zein, itu adalah pemikiran yang salah. Zein menikahi Zi karena dia memang jatuh cinta pada wanita itu. Hanya saja, ia juga tak bisa menjelaskan ini pada Zi, karena pada kenyatannya ia memang tak mampu.


"Jika tidak ada lagi yang harus kita bahas, bolehkah aku ke kamar. Aku ingin mandi. Aku kan dari rumah sakit, aku takut membawa virus yang nantinya bisa menyakitimu," ucap Zi meminta izin.


Zein mengangguk mengizinkan. Namun, pikirannya berputar perihal kesepakatan yang telah ia ambil bersama sang istri.


Zi beranjak dari tempat duduknya, lalu wanita ini segera melangkah meninggalkan pria itu. Tentu saja, langkahnya kali ini terasa sangat berat, karena membawa luka, membawa derita dan siksa hati yang tidak dapat ia tolak. Zi hanya bisa menangis dalam diam.


Sedangkan dari pihak Zein, pria ini hanya bisa mengigit bibirnya. Entah mengapa ia tidak senang di saat pintu untuk menuju tujuannya bersama sang kekasih terbuka lebar.

__ADS_1


Pria ini malah merasakan kehampaan yang luar biasa. Ia merasa seperti kehilangan. Kehilangan sesuatu yang tak mampu ia jabarkan dengan kata-kata. Entahlah, kini keraguan menyerang batin Zein. Antara mengenggam Zi atau meraih Vita. Zein benar-benar gamang.


Bersambung ....


__ADS_2