
Di sudut ruang yang lain, ada Juan dan pengacaranya bersiap mendatangi kediaman keluarga Zein untuk meminta mereka untuk membatalkan tuntutan yang telah mereka ajukan.
Juan ingin meminta pengertian Laila dan Laskar. Agar tidak mengusik kehidupan rumah tangganya.
Namun sayang, Laskar belum mau menerima apa yang Juan inginkan.
"Tolong jangan perpanjang masalah ini, Om! Kasihan Berliana, kasihan Stella," ucap Juan memohon. Merasa dirinya lebih muda dari Laskar, Juan pun memperhalus tutur bahasanya.
"Kami hanya ingin diberi kebebasan untuk bertemu, memangnya apa susahnya?" Laskar menatap tajam ke arah Juan.
"Masalahnya tidak sesimpel itu, Om. Saya harap Om mengerti. Bukankah Zein sudah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Juan mulai kehabisan akal.
"Heh, bisa saja kamu tekan dia, makanya dia nurut sama kamu," jawab Laskar enteng.
Mendengar jawaban yang menyinggung perasaannya, Juan tak ingin lagi bernegosiasi masalah hati. Ia pun langsung menunjukkan pada Laskar bahwa dia juga punya hak penuh atas mereka. Atas Berliana dan juga Stella.
"Maaf, Om. Jika kali ini saya lancang. Tapi Om Sudah keterlaluan. Saya datang ke sini baik-baik. Ingin menyelesaikan masalah agar tidak berlarut-larut. Kita adalah orang tua Om, tidak sepasntasnua kita merebutkan anak kecil. Yang jelas-jelas dia berhak tumbuh dan berkembang dengan baik." Juan mengambil napas dalam-dalam. Bersiap melanjutkan ucapan yang telah ia siapkan jauh-jauh hari.
"Berliana adalah anak yang lahir dari pernikahan Stella dan Juan. Zein memang sempat menikahi Stella, tapi dia membatalkan pernikahan itu, Om. Jadi, Om bisa menilai sendiri, bagaimana status mereka setelah itu. Kalaupun Stella hamil anak Zein, apakah Zein bertanggungjawab? Tidak kan? Nyang menjaga sebelum anak itu menjadi apa-apa adalah saya Om. Jadi dari segi mana bisa di katakan Zein memiliki hak atas anak itu. Masalah nasab saya tiak menyangkalnya, tetapi itu semua ada waktunya Om. Tunggulah sampai Berliana dewasa, dan bisa mengerti alur dari cerita bagaimana dia tercipta." Juan semakin kesal. Ia pun menatap berani ke arah Laskar. Agar pria itu juga mengerti apa yang ia dan Stella rasakan akan tuntutan yang telah menyakiti hatinya itu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin bisa bertemu dengannya saja, Juan. Itu saja. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa dia memiliki keluarga kandung," ucap Laskar masih kekeh dengan pendiriannya.
"Tapi tidak begini caranya. Semua butuh waktu Om. Mohon maaf jika saya terpaksa melawan Om kali ini. Karena saya memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar dibanding perdebatan tidak penting ini. Kalo Om masih bersikeras melanjutkan tuntutan, maka saya pun tak akan tinggal diam." Juan langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengajak sang pengacara untuk meninggalkan kediaman Laskar. Sedangkan Laskar sendiri masih duduk tenang. Namun pria ini juga tak mau kalah. Ia masih kekeh menginginkan Berliana bisa bersamanya.
***
Di lain pihak, Zein pun terus berkendara sesuai petunjuk arah yang diberikan oleh Lydia. Gadis meropotkan menurut Zein. Tetapi meski begitu, Zein tetap tak tega membiarkan seorang gadis sendirian di tengah jalan dengan kondisi hujan lebat dan juga gelap. Ah, terserah! Terserah orang lain mau bilang apa? Yang jelas, Zein tulus membantu gadis itu. Mengingat masalah yang terjadi antara mereka, itu bisa dibicarakan nanti. Yang penting sekarang, tidak terjadi apa-apa pada gadis itu. Agar tidak menimbulkan masalah baru.
Tiga puluh menit berlalu, akhirnya Zein pun sampai di tempat di mana Lydia Dewi berada. Zein langsung memarkirkan mobilnya tepat di depan mobil gadis itu. Lalu ia pun segera turun sembari membawa payung.
Tak menunggu waktu lagi, Zein pun Segera melangkah mendekati pintu mobil sang gadis lalu mengetuknya.
"Maaf merepotkanmu," ucap Lydia ketika membuka pintu mobilnya.
Zein tidak menjawab, bersikap dingin seperti biasa. Tak banyak bicara, Zein pun langsung membawa Lydia masuk ke dalam mobilnya.
"Bagaimana dengan mobilku?" tanya Lydia pada Zein.
"Aku sudah meminta mobil derek untuk membawa mobilmu. Kasih alamat bengkelnya saja. Nanti aku konfirmasi ke mereka. Atau mau pakai bengkel langgananku?" jawab Zein. Lagi-lagi dengan nada ketus seperti biasa.
__ADS_1
"Nggak usah, pakek bengkel keluarga saya saja," jawab Lydia, yang ternyata dia juga punya bisnis di bidang itu.
"Keluarga kamu punya bengkel, kenapa nggak telpon mereka saja?" tanya Zein merasa aneh.
"Tidak ada yang mengangkat, entah kenapa?" jawab Lydia jujur, ia juga memberikan bukti berupa riwayat panggilan pada Zein. Sedangkan Zein hanya melirik ponsel itu.
"Pecat saja karyawan tak siaga seperti itu," celetuk Zein kesal.
"Eh, Anda jangan begitu. Ini udah malam, mereka pasti udah pada pulang, istirahat." Lydia jadi ikutan kesal.
"Ya nggak bisa begitulah! yang namanya bos telpon ya harus diangkat. Apalagi dia sedang butuh bantuan!" jawab Zein tak mau kalah.
Lydia menatap heran pada Zein yang menurutnya tidak ikhlas membantunya. "Kamu tidak ikhlas membantuku?" tanya Lydia, langsung tanpa basa-basi.
Zein sedikit teriejut dengan pertanyaan menjengkelkan itu. Lalu ia pun kembali membalas. "Kamu ini kenapa sih? Curigaan! Aku kan cuma bilang, pegawaimu itu kurang siaga. Ditelpon bosnya kok nggak diangkat. Apa lagi kan bosnya perempuan. Takutnya kan lagi kenapa-napa? Gitu lohhh!" jawab Zein, berusaha memberikan pemahaman pada gadis pemarah nan sensitif ini.
Lydia tak menjawab, gadis ini hanya diam dan menatap lepas ke arah jendela. Sedangkan Zein tetap fokus pada jalanan yang ada di depannya.
Bersambung....
__ADS_1