
Juan mengajak Stella keluar kamar sang ibu dan mengajaknya menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi di ruang tamu. Pria itu terlihat sibuk dengan ponselnya. Ia terlihat bergantian menghubungi seseorang. Tak lupa ia juga menghubungi Sera, yang merupakan kerabat dekatnya. Mau bagaimanapun, wanita itu adalah ibu kandung Stella. Ia berhak tahu segalanya tentang apa yang terjadi pada putrinya.
Sedangkan Stella masih diam menunggu. Ia terus menatap teduh pada wajah tampan sang suami yang kini sedang sibuk menghubungi orang-orang yang bisa membantunya.
Vita sendiri, bertugas menemani sang ibu yang saat itu kembali kembali terguncang. Beruntung Anti tidak ngamuk. Hanya diam dan sesekali beucap 'dia sudah mati!' dan kalimat itu seeing diulang-ulang. Membuat Vita dan Stella semakin khawatir.
"Bagaimana, Pi? Apakah kabar yang kita dengar itu adalah benar?" tanya Stella khawatir.
Juan menundukkan kepalanya, lalu ia mengangkatnya sekilas. Menatap wajah sang istri. Menyakinkan hatinya, bahwa nantinya Stella tidak ikut terguncang jika mendengar kabar mengejutkan ini.
"Mami harus kuat, ya!" ucap Juan meminta.
Mendengar permintaan sang suami, Stella yakin, jika kabar yang ia terima adalah benar. Spontan wanita ini pun menutup mulutnya. Tidak menyangka, bahwa sang ayah akan berpulang secepat ini.
"Yang sabar, Mam. Kita harus ikhlas," ucap Juan menenangkan.
"Lalu kita harus bagaimana, Pi?" tanya Stella.
"Untuk sementara kita hanya bisa berdoa, Mam. Tante Sera sudah ada di Singapura ternyata. Berusaha mengurus kepulangan jenazah ayah. Tadi tim pengacara sekaligus kuasa hukum dari pihak kita, mencoba meminta keringanan, sayangnya sulit, MamTetapi terkendala kasus yang membelit beliau." Juan menatap Stella.
Dari ucapan tersebut, Stella bisa menangkap bahwa jenazah Jovan tidak bisa di bawa pulang ke Indonesia. Juan benar, saat ini yang bisa Stella lakukan adalah berdoa, mendoakan sang ayah, agar Tuhan mengampuni segala dosa-dosa sang ayah.
Di sela-sela perbincangan mereka, Vita datang. Menatap kedua kakaknya dengan tatapan penuh kesedihan.
__ADS_1
"Ya sabar ya, Vit. Percayalah bahwa ini adalah jalan terbaik untuk ayah kita," ucap Juan.
Vita kembali menangis dan memeluk sang kakak. Mau bagaimanapun, Jovan adalah ayahnya. Cinta pertamanya. Jujur Vita seperti kehilangan arah. Terlebih, ia dan Luis berjanji untuk menemui pria itu. Ingin meminta restu darinya. Dan kini, semua tinggal angan. Pria itu sudah berpulang. Vita belum sempat menemuinya. Belum sempat meminta restu.
"Jangan menangis lagi! Kasihan ayah!" ucap Stella sambil mengelus rambut sang adik.
"Aku belum sempat menemui beliau, Kak. Aku ingin meminta restu darinya," ucap Vita dalam tangisnya.
"Iya, kami tahu. Yang sabar ya, Kakak juga kehilangan. Mau bagaimanapun beliau kan ayah, Kakak juga," ucap Stella.
Sedangkan Juan terlihat masih sibuk berkomunikasi dengan Stella. Merundingkan keputusan terbaik yang harus mereka ambil.
***
Wanita ini beberapa kali menggerutu kesal. Merasa harga dirinya terinjak. Merasa tidak dipandang sedikitpun oleh pria yang menurutnya miskin tapi belagu itu.
"Astaga! Dia bener-bener! Memangnya siapa dia, berani sekali mengacuhkanku!" umpat Safira kesal.
Bukan hanya itu yang membuat Safira kesal. Bayangan pria itu terus mengikutinya seperti hantu baginya. Safira ingin sekali marah dan memaki pria itu. Agar mengambil bayangannya dan membawanya pergi sejauh mungkin.
"Jangan mengangguku! Dasar pria gila, menyebalkan!" teriak Safira kesal.
Teriakan aneh itu tanpa sengaja didengar oleh sang ibu. Wanita itu pun langsung menghampiri kamar sang putri, karena ia yakin, suara itu berasal dari sana.
__ADS_1
"Fira, apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Laila pada putri kesayangannya.
Di dalam kamar, Safira memejamkan mata malu. Ternyata teriakannya ada yang mendengar. Bagaimana kalau yang mendengar suaranya itu menganggapnya gila.
"Aduh!" Safira mengaduh malu.
"Fira baik, Ma. Semua aman," jawab Safira, tentu saja tak ingin membuat sang mama merasa aneh.
"Lalu kenapa teriak-teriak? Bayangan siapa yang mengikutimu?" tanya Laila sembari membuka pintu kamar sang putri.
"Fira lagi ngedrakor, Ma. Hehehe!" jawab Safira sembari menunjukkan laptopnya yang masih menyala.
"Oke baiklah, Mama ke restoran dulu ya. Oiya, nanti malam ikut Mama ketemu sama teman bisnis Mama ya. Ada seseorang yang mau Mama kenalin ke kamu," ucap Laila dengan senyum cantiknya.
"Ah, Mama. Malas ahhh, Fira mau nonton aja di rumah. Kenapa sih Mama sekarang persis banget kek papa?" Safira menggerutu kesal.
"Ingat umur kamu sekarang udah berapa, Fira. Mau sampai kapan kamu sendiri hem? Pokoknya Mama nggak mau tahu, Mama mau nanti malam kita makan malam bersama teman. Mama juga udah izin sama papa dan beliau setuju dengan usul Mama," desak Laila, egois.
Safira menatap kesal ke arah sang ibu. Rasanya malas saja dijodoh-jodohkan seperti ini. Apa lagi sang ayah juga menyetujui ide gila itu. "Tahu kek gini mending Fira di Manado aja. Malas banget pulang, kalo pada akhirnya dijodohkan!" gerutu Safira, menyesali keputusannya kembali ke rumah orang tuanya.
Bersambung...
Emak berdoa, semoga yang baca khilaf, kasih like dan komen yang banyakππππ
__ADS_1