PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Tidak Sesederhana Itu


__ADS_3

Stella tidak menyangka, bahwa Tuhan begitu cepat mengabulkan doanya. Membawa sang pemilik hati datang menemuinya.


Ya, sejatinya Stella sangat menginginkan ini. Menginginkan pertemuan ini. Agar rindu yang menggerogoti sanubari nya segera hilang. Agar tetes air matanya yang keluar di sepertiga malamnya bisa berhenti dan berganti dengan pertemuan yang mengundang kebahagiaan.


Tak dipungkiri bahwa saat ini, kebahagiaan memang mengepungnya. Meski belum sepenuhnya. Bisa saja Juan datang bermaksud melepaskannya. Atau mungkin akan memarahinya.


Ah, apapun itu, yang ada dipikiran Stella saat ini hanya bahagia. Akhirnya ia bisa melihat mata tampan itu lagi. Melihat kelingan mata penuh kasih sayang itu lagi, serta tutur sapa lembut dari suara berat khas milik Juan. Stella suka dengan itu semua. Sangat-sangat suka. Terlebih perhatian Juan. Hal terbesar yang sangat Stella rindukan.


Kini, wanita cantik ini sibuk mencari baju terbaik miliknya. Bukan hanya itu, ia juga memakai skincare yang selama ini tak ia sentuh. Tentu saja, skincare miliknya adalah skincare yang aman untuk ibu hamil. Mengingat saat ini, di dalam rahimnya saat ini ada calon baby, bukti cinta antara dirinya dan pria itu. Pria yang membuatnya tergila-gila.


Stella tersenyum sendiri mengingat kedatangan Juan yang mengejutkannya. Aroma parfum yang dimiliki pria itu adalah obat penenang terbaik yang ia inginkan. Entahlah, Stella hanya suka saja. Pria itu memang segalanya baginya.


Stella tersadar dari lamunan, ketika terdengar seseorang mengetuk pintu. Stella yakin, yang mengetuk pintu kamarnya pasti dia. Pria yang sekarang ada di pikirannya.


Benar saja, yang mengetuk pintu itu adalah dia. Pria tampan itu. Ia mengetuk pintu kamar tersebut. Bermaksud membawa Berliana masuk dan membaringkan gadis cilik itu. Di samping itu, ia juga tak sabar ingin segera bercengkrama dan menyelesaikan masalah yang membelit mereka.


Dari dalam terdengar suara langkah kaki sang empunya kamar. Juan deg-degan. Terang saja, ini adalah saat yang ia tunggu namun juga ia takuti. Bagaimana tidak? Hampir tiga bulan Stella meninggalkannya, tanpa kabar dan itu terjadi karena kesalahannya.


Stella membukakan pintu kamarnya. Namun, masih belum mau menatap sang suami. Wanita ini masih menunduk. Entahlah, Stella gugup. Perasaannya tercampuk aduk tak karu-karuan. Ini terjadi tidak hanya pada wanita cantik itu. Tetapi juga pada Juan. Pria tampan itu juga merasakan hal yang sama. Gugup dan rikuh.


"Papi baringin ke mana putri kita, Mam?" tanya Juan membuka obrolan.


Stella tidak menjawab, namun ia tetap menyiapkan pembaringan untuk putri mereka.


Juan paham. Ia pun mengikuti langkah sang istri dan membawa Berliana ke ranjang milik sang istri.


Stella tak sanggup lagi menguasai detak jantungnya yang semakin menjadi. Wanita ini memutuskan meninggalkan sang suami dan juga Berliana di kamar. Stella tak ingin, Juan menangkap kegugupan nya.Untuk menetralkan rasa gugupnya. Stella pun memilih melanjutkan pekerjaannya di dapur.


Sedangkan Juan, setelah merasa sang putri sudah terlelap, ia pun memutuskan untuk mencari sang istri ke dapur. Sebab ia yakin, pasti wanita cantik itu menghindarinya dan seperti biasa, Stella akan memilih mendiamkannya dan bekerja. Mengerjakan apapun. Yang penting bisa menyalurkan amarahnya.

__ADS_1


Benar saja, Kini Juan melihat sangat istri sedang mencuci piring. Merapikan bekas memasaknya.


"Mam," sapa Juan lembut.


Stella masih tak mau menjawab. Cuek seperti biasa. Seperti ketika dia marah.


Juan tak tahan, ia pun segera memeluk wanita yang ia cintai itu. Menaruh dagunya di pundak wanita manggil itu dan mengutarakan apa yang ia rasakan selama sang istri pergi meninggalkannya.


"Maaf!" ucap Juan lagi. Masih bertahan, mendekap sang istri dengan kerinduan yang ia rasakan.


"Untuk apa?" tanya Stella singkat. Tak terasa air mata wanita cengeng ini menetes begitu saja. Membasahi pipi mulus itu.


"Untuk kebodohanku, untuk prasangka buruk yang aku tujukan padamu, Istriku. Untuk kesalahanku. Untuk emosi sesaat ku. Untuk semuanya, maafkan aku!" jawab pria tampan ini.


"Terlambat Juan, aku membencimu!" jawab Stella, terdengar lirih. Namun Juan mendengar jelas ucapan itu. Dengan cepat pria tampan ini pun mencium pipi smah pemilik hati. Agar wanita itu paham, bahwa ia tersiksa ketika ditinggalkan tanpa kata.


"Marahlah, Sayang! Kamu boleh memakiku. Kamu boleh memukulku. Asalkan jangan tinggalkan aku lagi. Aku nggak sanggup tanpamu, Ste. Aku nggak sanggup tanpa Berliana. Aku nggak bisa tanpa kalian. Demi Tuhan!" ucap Juan jujur.


"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya shock melihat wanita itu. Aku terkejut, sebab pada kenyataannya kalian saling kenal. Dan kamu nggak pernah cerita soal itu. Seolah kamu sedang mengujiku." Juan kembali mencium leher wanita yang ia rindukan ini. Sedangkan Stella tidak menolak, ia membiarkan pria itu melampiaskan kerinduannya. Meskipun jujur, Stella kesal dengan tingkah kekanak-kanakan sang suami.


"Aku kenalnya belum lama. Itu hanya alasanmu saja. Udah ah, jangan cium-cium," ucap Stella malas. Wanita cantik ini pun memutuskan untuk melepaskan diri dari dekapan pria tampan ini dan masuk ke kamarnya.


Tentu saja, Juan tak ingin kehilangan waktu berharga ini. Ia pun segera menyusul sang istri masuk ke dalam kamarnya.


Stella diam, ia memilih membaringkan tubuhnya di samping Berliana dan memeluk gadis cilik itu serta memejamkan mata. Enggan diusik lagi oleh pria menyebalkan ini menurutnya.


Juan tak tinggal diam. Ia pun ikut berbaring di samping sang istri. Memeluk wanita itu dengan cintanya.


"Mam, maafkan Papi!" ucap Juan lagi.

__ADS_1


Stella tak menjawab, ia hanya diam dan diam. Sedangkan Juan, tangannya mulai nakal. Bahkan tangan itu sekarang sudah ada di perut sang istri yang saat ini terasa lebih buncit.


"Dek, bantu Papi bujuk mami napa!" pinta Juan pada calon baby mereka.


Mendengar permintaan aneh sang suami, Spontan membuat Stella membuka mata dan membalikkan tubuhnya.


"Apa maksudmu?" tanya Stella ketus.


"Nggak ada maksud, aku cuma ngomong sama calon baby kita," jawab Juan santai.


"Dari mana tahu?" Stella menatap Juan kesal.


"Ada deh!" Juan semakin santai, sebab ia yakin amarah Stella sudah mencair.


"Sana! Jangan pegang-pegang!" usir Stella sembari menjauhkan tangan sang suami dari perutnya.


Jangan sebut dia Juan kalau menyerah begitu saja. Pria tampan ini pun kembali memeluk tubuh sang istri. Bahkan sekarang lebih nakal. Diciumnya gemas bibir wanita pemarah ini.


"Ihhhh, apa sih!" Stella masih mempertahankan harga dirinya. Ia tak juga tak mau mengalah begitu saja pada pria yang pernah membuatnya menangis ini.


"Jangan galak-galak napa, Mam! Papi kan udah minta maaf!" ucap Juan lembut. Seperti biasa, jika dalam suasana romantis seperti ini, Juan selalu mengigit manja baju Stella bagian pundak. Stella tak menolak, sebab itu adalah cara Juan merayunya..


"Jadi aku harus bagaimana Juan? Kamu sudah memintaku pergi, maka aku pun menurut apa maumu. Sekarang tanpa ada angin tanpa ada hujan kamu datang. Terus aku harus gimana?" tanya Stella tegas.


"Ya nggak gimana-gimana? Kan kita saling cinta Mam. Saling rindu!" jawab Juan berlagak bodoh. Pria ini semakin gila, ia terus saja menciumi bagian tubuh Stella yang berada dekat dengan wajahnya.


"Tidak sesederhana itu Juan. Tolong jangan memaksaku. Tolong izinkan aku sendiri, aku nggak mau menangis lagi. Aku nggak mau terluka lagi. Ditolak itu sakit Juan. Aku mohon! Pergilah! " pinta Stella serius.


Kali ini, Juan paham kenapa Stella pergi. Sebab wanita itu merasa sakit. Sakit karena ia tolak. Sakit karena merasa tak ia inginkan. Namun, Juan tak akan menyerah. Dia berjanji akan meluluhkan hati sang pemilik hati. Bagaimanapun caranya.

__ADS_1


Bersambung...


Makasih yang udah like n komen... πŸ₯°


__ADS_2