
Pesawat yang membawa Juan dan keluarga kecilnya akhirnya landing dengan selamat di kota Manado. Kota di mana Anti berada. Tak dipungkiri bahwa saat ini detak jantung Juan berdetak lebih kencang. Tetap menghawatirkan sang istri. Takut wanita itu tidak sanggup menahan goncangan ini sekali lagi.
Mobil yang hendak mereka tumpangi juga sudah siap. Disiapkan khusus oleh Sera untuk mereka. Bukan hanya itu, Sera meluangkan waktunya untuk menjemput sendiri putri yang sangat dicintainya itu.
"Itu tante Sera, Mam," ucap Juan sambil menunjuk keberadaan Sera.
"Iya, Papi benar. Eh tumben tante sendiri yang jemput?" balas Stella heran.
"Mungkin saat ini beliau lagi nggak sibuk kali Mam. Makanya menyempatkan diri jemput kita sendiri." Juan meminta Berliana dan menggendongnya. Lalu menggandeng wanita cantik ini. Mengajaknya berjalan menuju wanita paruh baya yang rela dan menyempatkan diri untuk menjemput mereka di bandara.
"Siang, Tan!" sapa Juan.
"Siang juga, eh si cantik ikutan main ke rumah Oma. Sini anak manis sama oma," ucap Sera langsung meminta Berliana dari gendongan Juan. Sedangkan Stella hanya tersenyum dan menggaruk alisnya yang tak gatal. Wanita ayu ini juga menatap sang suami yang terlihat terkejut dengan ulah Sera. Yang meminta sang putri tanpa meminta persetujuan darinya.
"Sabar, Pi. Harap maklum. Muka tua kek kita nggak bakalan keliatan lagi sekarang. Udah kalah pesona ama Liana," bisik Stella pada sang suami. Sedangkan Juan masih saja melongo. Tak tahu harus berkata apa.
"Mami benar, apalah arti seorang kita!" balas Juan. Sedetik kemudian mereka pun terkekeh.
Berbeda dengan Juan dan Stella yang terkejut dengan tingkah Sera. Sera sendiri malah asik bermain dengan Berliana. Wanita paruh baya ini tidak menyadari bahwa Stella dan Juan sebenarnya sedang membicarakan dirinya.
"Kayaknya kita salah deh Pi, berangkat ke sini," bisik Stella lagi.
"Mami benar, tahu gitu kita paketin aja Berliana ya Mam. Toh kita nggak dianggep juga," balas Juan.
"Hussst, Papi. Masak bocah manis gitu dipaketin. Dimasukin kardus gitu maksud Papi?" tanya Stella serius, tak lupa dipukulnya gemas lengan sang suami.
"Ya iyalah, dimasukin kardus. Pas dibuka baaaa, isinya Berliana. Lucu kali ya Mam, kapan-kapan kita kejutin aja ni nenek-nenek," jawab Juan. Spontan mereka pun kembali tertawa. Tak ayal, Sera pun menatap kesal ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Kenapa kalian tertawa, ayo masuk mobil!" pinta Sera ketus. Seketika Juan dan Stella pun diam. Tak berani menjawab sepatah katapun. Sebab, Sera menatap tajam pada kedua insan tersebut. Sehingga mereka pun merinding dibuatnya.
"Baik, Tan, siap!" ucap Juan. Sedangkan Stella masih mengigit bibir menahan tawa. Ide konyol sang suami nyatanya sanggup membuat Stella tertawa.
Di dalam mobil, Sera masih saja asik becanda gurau dengan sang cucu. Sedangkan Stella dan Juan tetap saja dicuekin. Seolah mereka memang tidak ada. Atau lebih tepatnya memang tak dianggap ada oleh Sera.
"Gimana proyek kamu, Juan. Apakah ada kendala?" tanya Sera tiba-tiba.
"Nggak Tan, semua aman!" jawab Juan serius.
"Bagus, kalau ada apa-apa cepat kabari Tante. Oiya kamu udah pikirkan belum apa yang Tante minta hari itu?" tanya Sera.
"Maaf, Tan. Kalau soal itu Juan nggak bisa ikut campur. Juan rasa mereka sudah sama-sama dewasa. Bisa menilai dan memutuskan mana yang baik dan mana buruk. Saya pribadi malah menghargai keputusan mereka, jika mereka memang bisa bekerja sama dan sama-sama profesional. Memang apa salahnya, adek juga sudah gede, pun dengan pria itu, " jawab Juan yakin. Sama seperti jawaban di awal.
"Baiklah jika kamu berpikir begitu. Tante hanya nggak mau adikmu dimainin sama pria itu," ucap Sera resah.
"Saya kenal dia dengan baik, Tan. Dia bukan pria mata keranjang yang gampang memanfaatkan wanita," tambah Juan. Sedangkan Sera tak melanjutkan ucapannya. Sebab ia takut, Stella akan menangkap perbincangan mereka.
"Nanti Papi jelasin, jangan di sini. Nenek satu ini posesif," balas Juan, pelan. Stella mengerti, akhirnya wanita ini pun memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
***
Berbeda dengan Juan yang masih berusaha bersikap dewasa terhadap masalah apapun yang ia hadapi. Di sini ada Zein yang semakin tak bisa menerima sikap kurang profesional Vita.
Vita melupakan berkas penting mereka di rapat perdana kali ini. Terpaksa Zein mencarinya sendiri file tersebut. Beruntung gile yang ia inginkan masih tersimpan di dalam emailnya. Jadi rapat masih bisa berjalan dengan baik.
"Dasar ceroboh!" umpat Zein, setelah selesai rapat.
__ADS_1
Vita yang merasa bersalah, sama sekali tak berani menatap Zein. Dia hanya menunduk lesu tanpa berani menatap wajah sang mantan ipar sekaligus atasan ini.
"Sorry, Bang!" jawab Vita sembari menahan tangis.
"Sudah kubilang, siapkan semuanya terlebih dahulu. Asik main handphone aja, ampek lupa masukin berkas sepenting itu di tas," ucap Zein, kesal.
"Habis abang selalu bikin Vita marah!" Sanggah Vita berusaha membela diri.
"Heh, kapan aku bikin kamu marah. Yang ada kamu yang selalu bikin aku kesel. Kerja berantakan, selalu nggak tepat waktu. Kek gitu kamu bilang aku yang salah. Yang bener aja kamu. Astaga! Bisa gila aku lama-lama kerja sama kamu!" kali ini Zein marah sungguhan. Sebab Vita memang benar-benar keterlaluan.
"Abang selalu nyalahin Vita, nggak pernah melihat dirinya sendiri. Abang memang jahat," balas Vita tak kalah kesal. Gadis ini langsung menangis dan meninggalkan Zein sendiri. Sedangkan Zein hanya melongo bingung.
"Astaga! Aku mesti gimana ngadepin bocah cengeng ini. Haiisst, sial!" umpat Zein kesal. Mau tak mau pria ini pun mengalah. Mengejar gadis cengeng itu dan menjelaskan maksud dari semua perkataannya.
"Vita tunggu!" pinta Zein sembari berlari mengejar mantan adik ipar sekaligus Sekertarisnya itu.
Vita pun menghentikan langkahnya dan menghapus air matanya.
"Kenapa sih kamu cepet amat ngambeknya. Aku tu cuma bilangin, kamu harus lebih teliti. Biar nggak terjadi lagi kesalahan seperti ini. Salahku di mana coba?" tanya Zein. Sedangkan Vita tidak menjawab, gadis ini hanya menatap kesal pada Zein. Membuat Zein semakin bingung.
"Aneh ni anak, yang bosnya di sini siapa? Kenapa dia yang marah?" tanya Zein pada dirinya sendiri.
"Vita marah karena abang keterlaluan. Bukannya ngingetin sebelum berangkat. Sampai tempat baru nanya. Itu namanya apa kalau bukan abang sengaja mempermalukan Vita?" cecar Vita kesal.
Kali ini Zein bukannya marah. Pria ini malah tertawa.
"Kenapa abang tertawa? Memangnya Vita lucu?" tanya Vita lagi-lagi dengan nada ketus. Emosi telah sukses menyelimuti hati gadis ini.
__ADS_1
"Baiklah, oke. Sekarang kamu aja yang jadi bosnya dan aku sekertarisnya. Oke. Mana tas kamu siniin!" pinta Zein sembari memaksa Vita menyerahkan tasnya. Kali ini permintaan super konyol Zein bukannya meredakan amarah gadis ini. Malah sebaliknya, Vita semakin kesal dan marah. Membuat Zein bingung harus berbuat apa.
Bersambung...