
Sesampainya di rumah sang kakak, Vita langsung turun dari mobil. Tanpa berpamitan. Tanpa melihat Zein. Tanpa berterima kasih. Merajuk, marah, kesal, jengkel pada kedua pria yang bisa membuatnya malu itu.
Vita langsung masuk ke dalam rumah tanpa berucap apapun. Tentu saja, tingkah aneh Vita ini pun membuat Zein sedikit kesal pada Lutfi.
"Yah, dia ngambek," ucap Zein sembari melihat tingkah aneh sang mantan adik ipar.
"Kamu sih, Fi. Bukannya pelan-pelan tadi!" ucap Zein menyalahkan Lutfi.
"Maaf, Bang. Habis saya kelewat seneng. Jadi nggak fokus," jawab Lutfi jujur.
"Seneng! Seneng kenapa?" tanya Zein aneh.
Upss, Lutfi kelewat jujur. Sampai tak sadar keceplosan. "Nggak pa-pa, Bang. Maapkan saya," jawab Lutfi, salah tingkah.
"Ya udah kita balik ke rumah sakit. Habis itu kamu urus mobil adek ya. Mobilmu ini aku mau pinjam. Kamu nanti naik ojek aja ke bengkelnya. Ini uang buat ongkos sama makan. Yang fokus, jangan nggak fokus lagi," ucap Zein sembari menberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Baik, Bang. Laksanakan! Siap Bang, Siap," jawab Lutfi, sembari tersenyum senang.
"Siap-siap, udah bikin anak gadis orang ngambek, baru siap-siap lu," gerutu Zein kesal.
"Tapi yang untung kan Abang. Dapat cup!" Spontan Lutfi tertawa.
Namun tidak dengan Zein, muka pria tampan ini memerah. Tentu saja dia malu. Zein bukan tipe pria yang bisa sembarang berhubungan dengan wanita. Apa lagi main sosor. Baginya, itu tidak mungkin. Hal mustahil yang bisa ia lakukan.
***
Di sisi lain, Stella dan Juan sudah menunggu kedatangan Vita. Mereka berdua memang sepakat untuk mengintrogasi gadis cantik ini. Stella dan Juan ingin memeperjelas masalah ini. Agar nantinya tidak ada masalah di kemudian hari.
__ADS_1
Stella menatap tajam ke arah Vita, rasa kesal tentu saja langsung menjalar ke pikiran wanita ini. Karena ia tahu, pasti adek cantiknya ini di antar oleh pria itu. Pria yang semalaman membuat Stella Tak bisa tidur karena kesal.
"Assalamu'alaikum!" sapa Vita pada Stella beserta suami.
"Waalaikumsalam!" jawab Stella dan Juan serempak.
"Pagi, Bang. Tumben pagi sekali udah rapi?" tanya Vita basa-basi.
"Iya, hari ini Abang ada rapat pagi. Vita gimana? Hari ini jadi fitting baju?" tanya Juan, sebab ia tahu, kemarin dia gagal mencoba bajunya karena Safira yang seharusnya mengantar sekaligus menemaninya, malah kecelakaan.
"Kayaknya jadi, Bang. Tapi agak siangan. Vita pengen tidur dulu," jawab Vita. Karena dia memang sangat mengantuk. Hampir semalam utuh dia tak tidur.
"Ngapain aja kamu nggak tidur? Pacaran sama dia ya?" ceplos Stella tanpa berpikir panjang.
Tentu saja, Juan dan Vita terkejut. Tidak menyangka kalau Stella akan berucap sepedas itu.
"Mam, jangan gitulah tanyanya," pinta Juan. Berharap sang istri memakai kepala dingin dalam mengambil sikap.
"Pembohong ya begitu. Pinter banget kayak bunglon." Stella kembali melontarkan kata-kata padanya untuk Vita. Sedangkan Vita hanya menatap bingung.
"Vita bohong soal apa, Kak? Ada apa ini Bang? Serius... Vita sama sekali nggak ngerti!" jawab Vita, gadis ini kembali menatap Juan dan meminta penjelasan dari pria yang sudah ia anggap sebagai kakak sendiri ini.
"Mam, janganlah begitu. Kan tadi janji mau tanya baik-baik. Bukan langsung serang begini. Kasihan lah Vita," ucap Juan, mencoba membuat sang istri lebih tenang.
"Bagaimana Mami bisa tenang Pi. Dia itu entah bodoh apa bagaimana. Sudah tahu pria jahat begitu, masak dia suka," balas Stella ketus.
"Tunggu, tunggu! Sebaiknya Kakak nggak usah muter-muter. Kakak ngomong aja apa yang kakak maksud. Biar Vita nggak bingung!" pinta Vita serius.
__ADS_1
"Oke! Apa ini? Apa maksud dari semua ini?" tanya Stella sembari melempar buku diary milik Vita.
Seketika Vita pun paham dengan apa yang dimaksud kedua orang ini.
"Untuk apa Vita jelaskan. Toh kakak juga sudah baca kan?" Vita menatap nanar pada Stella dan Juan secara bergantian.
"Jadi bener, kamu suka sama pria jahat itu?" tuduh Stella dengan suara meninggi. Emosi wanita ini mulai tak terkontrol. Juan sebagai suami pun kembali mengingatkan Stella, agar jangan menghakimi seseorang yang belum tentu bersalah.
"Siapa yang kakak tuduh pria jahat, dia?" tanya Vita sembari menunjukkan foto Zein.
Stella diam. Tetapi pikirannya serasa ingin meledak.
"Diakah yang Kakak anggap jahat. Dia memang jahat padamu Kak, tapi tidak denganku. Selama aku bekerja padanya, banyak hal-hal yang membuatku sadar, bahwa dia, pria yang Kakak benci ini adalah pria yang baik. Pria yang sebenarnya bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Hanya saja, caranya yang mungkin tidak pas menurut kita." Vita menghela napas dalam-dalam. Rasanya malas sekali membahas masalah yang menurutnya tidak penting ini.
"Sudahlah, Kak. Tak ada gunanya kita memperkeruh suasana. Toh untuk apa? Aku dan bang Zein, kami sudah dewasa Kak. Kami tahu mana yang baik dan mana yang tidak. Kami tahu mana yang boleh dan tidak. Kami memilih diam karena tidak mungkin bagi kami untuk bersama. Aku tetap menghargai bang Zein sebagai seorang kakak. Begitupun sebaliknya. Jadi menurut Kakak, apa salah kami?" Vita menghapus air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya.
Sesak saja rasanya, ketika diri sedang berada di titik terendah, berada di garis keputusasaan, tetapi masih dihakimi.
Entahlah, Vita hanya tak habis pikir saja dengan kakak satu-satunya ini. Kadang dia bisa saja dewasa. Kadang juga kekanak-kanakan. Membuat Vita sedikit merasa terbebani dengan sikap tak menentu sang kakak.
"Kakak minta lupakan dia," ucap Stella tegas.
"Kakak tidak perlu meminta, bukankah sudah Vita bilang, bahwa kami sudah dewasa Kak. Kami bisa memilih dan memilah, mana yang baik dan mana yang tidak. Percayalah!" jawab Vita. Suaranya terdengar lemah di akhir. Mungkin dia memang lelah.
Stella diam. Namun jika boleh jujur, ia masih belum puas. Sebelum ia melihat Vita dan Luis menikah. Karena hanya itulah bukti kesungguhan dari ucapan tersebut.
Vita kembali menjatuhkan air mata kesediaanyan. Sepertinya, saat ini, dunia kembali memusuhinya. Menghakimi, tanpa mau mengerti bagaimana sebenarnya ia tersiksa oleh kenyataan yang kini menghimpitnya. Vita sudah mengalah. Lalu kenapa tak ada seorang pun yang mau percaya akan kesungguhannya melupakan pria itu. Vita terdiam sedih.
__ADS_1
Bersambung...