
Melihat sang istri begitu menggemaskan, Zein masih berusaha menguasai diri. Sebab ia memang tidak berniat melakukannya di kamar mandi. Ia akan membiarkan sang istri melepaskan lelahnya dulu dengan bermain dengan air. Lalu, setelah dia fit, Zein berniat mengajak sang istri melakukan kewajiban mereka sebagai suami istri. Zein sudah siap dan tak ingin menundanya lagi.
"Mau sabun, dong!" pinta Zein masih berusaha biasa saja.
Zizi yang juga merasa biasa saja, tentu saja langsung memberikan apa yang suaminya mau. Bahkan tanpa rasa malu ia juga membantu sang suami menggosok punggung pria itu dengan sabun.
Zein menyembunyikan senyum bahagianya, bagaimana tidak? Ini adalah pengalaman pertamanya mandi bareng dengan seorang wanita. Dia memang biasa dibantu oleh Zizi ketika mandi, tetapi melihat Zizi mandi, itu baru kali ini. Dan menurut Zein, ini adalah pengalaman pertama yang menyenangkan. Sungguh-sungguh menyenangkan.
Zizi kembali menyalakan shower dan membantu Zein membersihkan sisa sabun yang tertinggal. Mengggosok punggung pria itu lagi sampai tak ada lagi sisa sabun yang tersisa. Setelah bersih, ia pun mengambilkan handuk sang suami dan meminta pria itu untuk memakainya.
"Nggak mau, aku mau ikut berendam," tolak Zein halus.
"Ih, itu aroma cewek mana cocok buat cowok," ucap Zizi.
"Nggak apa-apa. Aku mau!" jawab Zein seraya masuk ke dalan bath up yang ada di dalam kamar mandi mereka.
Zi hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ternyata Zein memiliki pribadi yang tidak diketahui banyak orang. Ternyata pria ini sangat manja dan ke kanak-kanakan.
Merasa masih belum ada sesuatu yang menakutkan menurut Zi, akhirnya wanita cantik ini pun mengizinkan sang suami ikut menikmati berendam dengan air hangat sesuai keingiannya.
"Ternyata berendam air hangat enak juga ya," ucap Zein seranya menyenderkan tubuhnya di bak mandi tersebut. Padahal dia hanya pura-pura saja. Bukankah dia juga suka berendam dengan air hangat. Bahkan biasanya sampai lupa waktu.
"Aku dulu kalo lagi pengen berendem suka ke kolam berenang umum yang menyediakan air hangat untuk berendam. Aku suka berendam," ucap Zizi jujur.
"Terus kamu pakai pakaian renang yang terbuka seperti ini?" tanya Zein,sedikit ngegas. Mungkin dia tidak terima kalau anggota tubuh sang sitri dilihat oleh orang lain.
"Pakai baju kek gini, maksudnya?" tanya Zi, sembari menunjukkan pakaian dalamnya.
"Ya kek gini, terbuka... kelihatan dadanya, ****** ***** minim!" jawab Zein jujur.
Spontan jawaban itu membuat Zi sadar bahwa saat ini dia sedang porno. Dengan cepat Zi pun menutup dadanya.
"Ih, jangan lihat-lihat!" larang Zi.
"Dih.... nglarangnya sudah telat, Bu. Bukanya dari tadi... udah dari tadi aku nglihatnya. Lihat ni mataku ternoda, sekarang aja otakku mesum," jawab Zein, dengan nada serius. Namun ia bercanda.
__ADS_1
"Dihhh, dasar laki-laki. Tapi lihat begitu doang aja mesum," jawab Zi cemberut. Zi merasa aneh dengan pemikiran laki-laki, kenapa harus mesum. Bukankah ini melihat wanita begini hal biasa. Zi, sering melihat pria telanjang kalo pas ngedampingin operasi. Dan Zi biasa saja. Apa anehnya, batin Zi sedikit heran.
"Otak laki-laki dan perempuan itu beda, Yang. Kalo cowok lihat beginian, itu pasti mesum. Apa lagi yang dilihat orang yang dia suka. Pasti rasanya pengen langsung iih... makanya kamu kalo di depanku jangan sering-sering pakek baju begini. Bisa malas kerja aku," ucap Zein.
Zizi mesih mencoba mencerna ucapan pria tampan ini. Meskipun masih belum benar-benar paham ia tetap mengangguk-anggukkan kepala. Seolah dia mengerti dan paham.
"Tadi pertanyaan ku belum dijawab loh, kamu pekek baju beginian di kolam renang umum?"
"Ya nggak lah, aku nggak punya pakaian renang yang begini. Malu atuh. Ini aja depan suami aku masih pakek dalaman kan, malu aku," jawab Zizi santai tapi serius. Lalu ia pun mulai menggosok tubuhnya dengan air yang telah di campur wewangian tersebut.
Zein tersenyum, sebab ia percaya dengan apa yang istrinya ucapkan.
"Gimana? Jadi kapan mau resepsi?" tanya Zein.
"Zi ngikut masnya ajalah, terserah kapan!" jawab Zi santai.
"Gimana kalau minggu depan?" Zein meraih tangan sang istri mendekat padanya. Zi tak menolak, ia pun menuruti keinginan sang suami tanpa protes. Bahkan ketika Zein meminta ia duduk di depannya.
Zein memeluk erat sang istri, Lalu memberikan kecupan penuh cinta di pundak wanita ayu itu. Ya, Zein memang suka bersikap romantis bila bersama pasangan halalnya. Zein sepertinya sudah tak mampu lagi memendam keinginan yang terus mendesaknya.
"Zi ikut keputusanmu aja, Mas," jawab Zizi pasrah.
"Ya, paling ditambah kakek, paman sama bibi." Zi membalas pelukan dan kecupan sang suami dengan mengelus pipi pria tampan itu.
"Oke, nanti Mas bilang sama mama papa dulu. Kita resepsinya nggak usah besar-besaran. Yang penting temen-temen tahu kan, kalau kita udah nikah. Ya kan," ucap Zein. Zizi mengangguk lalu kembali memberikan kecupan pada pipi pria itu. Kecupan penuh cinta dan kasih sayang tentunya.
"Yang... " Zein memeluk lebih erat tubuh sang istri.
"Ya," jawab Zi lembut.
"Bolehkah malam ini aku memintamu?" tanya Zein tanpa malu-malu.
"Meminta apa?" Zizi sedikit memutar tubuhnya, agar lebih leluasa menatap sang suami.
"Memintamu sebagai seorang suami," jawab Zein jujur.
__ADS_1
Zizi tersenyum, lalu melirik sang suami dengan binar cintanya. Sedangkan Zein sendiri juga menatap penuh cinta pada wanita yang ia nikahi beberapa bulan yang lalu itu.
Mereka saling melempar senyum, Zein menyatukan keningnya dengan kening sang istri. Sebab jujur, saat ini perasaan Zein sedang diselimuti rasa malu. Karena telah berani meminta sesuatu yang masih tabu baginya. Walaupun jujur, sebelum ia masuk ke dalam kamar mandi ini, Zein sudah menyiapkan beberapa susun kalimat untuk ia ucapkan pada sang istri. Namun, keintiman mereka saat ini membuyarkan ingatan itu. Membuyarkan susunan kalimat yang telah ia persiapkan untuk meminta sesuatu itu.
Zein terlanjur nyaman dalam dekapan wanita cantik ini. Zein terlanjur nyaman dalam dekapan cinta yang Zi bawa untuknya.
Zi memejamkan mata pasrah. Pasrah dengan apa yang Zein inginkan darinya. Zi kembali tersenyum dan menjawab permintaan sang suami dengan anggukan persetujuan. Bukan hanya itu, Zi juga memberikan pelukan penuh cinta pada tubuh kekasih hatinya ini.
Melihat sang istri pasrah, Zein pun memberanikan diri memulai merealisasikan niat terselubungnya pada wanita cantik yang telah sukses mengobrak-abrik jantung hatinya.
Zein memulai pergerakanya dengan melepaskan pengait br* sang istri. Tak ingin tenggelam dalam kegelisahan, Zein pun menyatukan bibirnya dan bibir wanita cantik itu.
Saling memberi, saling menikmati kecupan satu sama lain. Kecupan-kecupan yang awalnya lembut dan penuh perasaan, berubah menjadi pangutan-pangutan lembut yang mengegairahkan.
Zizi telah pasrah. Bahkan terkesan mengikuti alur yang dimulai oleh sang suami.
Masih di dalam bak mandi tersebut, mereka berdua masih saling memangut lembut bibir mereka masing-masing. bukan hanya itu, tangan Zein juga mulai berani menjelajah.
Sekali lagi Zi tidak menolak, justru ia terkesan membiarkan. Sebab ia tahu, ini adalah dan kewajibannya sebagai seorang istri. Dan ini juga hak dan kewajiban dirinya sebagai seorang istri.
Bukan hanya karena kewajiban semata, Zi memang telah percaya pada Zein. Ia percaya pada pria itu, bahwa Zein melakukannya bukan hanya karena nafsu, namun juga karena Zien mencintainya.
Sesuai niat dan keinginan Zein yang tidak ingin melakukannya di kamar mandi, akhirnya pria tampan ini pun menggiring sang istri ke dalam kamar mereka.
Tanpa melepaskan bibir mereka, akhirnya mereka pun memulai percintaan panas itu. Suasana percintaan mereka bertambah syahdu karena diiringi oleh suara gemercik hujan yang turun dengan derasnya.
Zi mulai bisa mengimbangi Zein, meski malu. Sedangkan Zein terus menyerang tanpa ampun.
Percintaan yang luar biasa. Sebab menghadirkan pengalaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Zi pasrah ketika Zein menyatukan raga mereka. Sakit dan perih tetap ia tahan. Karena ia juga menginginkan ini.
Hari memang dingin, namun keringat tetap membasahi raga mereka.
Zein tersenyum senang mana kalau sesuatu yang sudah terlalu lama tidak keluar dari dirinya, kini menyembur sempurna di tempat yang seharusnya. Bukan hanya Zein yang tersenyum. Zi pun sama. Mereka berdua sama-sama tersenyum di dalam selimut yang menutupi aksi mereka.
__ADS_1
Zein mengecup kening sang istri, kemudian kedua mata dan hidungnya. Terakhir pria ini memberikan kecupan penuh cinta dan gairah di bibir wanita ayu ini. Kemudian tak lupa, ia juga berucap Terima kasih. Karena Zi telah menerima kekurangan dan kelebihan dirinya. Zein sendiri juga mulai mencintai Zi. Karena kenyamanan yang di berikan Zi tidak ia dapatkan dari orang lain.
Bersambung...