PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TAK MENYANGKA


__ADS_3

Di ruang tunggu keberangkatan pesawat, terlihat seorang wanita paruh baya menghapus beberapa kali air matanya. Sepertinya ia masih merasakan betapa sakitnya merelakan seseorang yang dicintai untuk orang lain.


Berkali-kali Laila mencoba memahami keinginan pria yang ia cintai tersebut. Namun gagal, Laila tetap marah pada penghianatan Laskar. Ia tetap bersikukuh bahwa kesetiaan adalah kunci segalanya. Meskipun pada kenyataannya adalah salah. Keegoisan Laila mempertahankan Laskar, ternyata membuat pria itu tertekan dan memilih jalan selingkuh.


Sekarang, kedatangan Safira telah mengubah cara pandang wanita ini. Ia ingin berdamai dengan keadaan. Ingin mengikhlaskan Laskar pergi untuk mengejar cintanya. Meskipun ini terasa sangat amat berat, hatinya masih belum rela. Nyatanya keegoisan mencintai yang membuatnya seperti ini.


"Sudah, Ma. Jangan menangis lagi. Kalo papa nggak mau jagain Mama, biar Fira yang jaga Mama. Biar Fira yang nemenin Mama. Oke!" ucap Safira sambil mengelus lengan sang ibunda tercinta.


"Apakah Mama bodoh, kalo sampai saat ini Mama masih sayang sama papa?" tanya Laila lugu.


Safira tersenyum, menurutnya Laila adalah wanita penyabar dan memiliki hati yang sangat lembut.


"Tentu saja nggak, Ma. Mama berhak mencintai siapapun. Namun, tidak boleh memaksa orang tersebut untuk mencintai Mama. Kita nggak boleh egois, sebab, sejatinya mencintai itu adalah merelakan. Merelakan orang yang kita cintai bahagia dengan pilihannya," ucap Safira, sesuai dengan apa yang ia pikirkan. Karena sejatinya dirinya sendiri pun berada di posisi yang sama dengan sang ibu. Mencintai seseorang yang mungkin orang tersebut tidak mencintainya.


"Apakah Mama harus begitu? Mengikhlaskan papamu pergi. Membiarkannya memilih yang lain, begitu?" tanya Laila. Lagi-lagi wanita paruh baya ini terlihat lugu diusianya.


"Jika Mama memang mencintai papa, seharusnya memang begitu Ma. Biar kita sama-sama tenang. Percayalah, kalo hidup mati rezeki bahkan jodoh itu sudah ada yang ngatur. Siapa tahu setelah Mama melepaskan papa, ada kumbang yang lebih keren dari papa nyamperin Mama. Siap membahagiakan Mama," ucap Safira. Sebenarnya dia bercanda. Sebab, Safira sendiri juga tak ingin kedua orang tuanya bercerai.


"Husst, kamu ini. Mama sudah tua," ucap Laila sembari memukul malu lengan sang putri.


"Ih, siapa bilang Mama tua. Mama tu masih cantik tahu Ma. Masih seksi, papa aja yang matanya merem. Kalo nggak Mama ama om Antok aja, Ma. Dia kan suka nglirik-nglirik, Mama," balas Safira dengan senyum menggoda.


"Ah, nggak ah! Udah, kalo papamu mau ninggalin Mama, ya biar aja. Mama udah tua ini. Seperti yang kamu bilang. Mama akan coba ikhlas," ucap Laila sambil merapikan ponselnya dan memasukkan ke dalam tasnya.


"Allah pasti bakalan kasi jodoh terbaik buat Mama, percayalah!" ucap Safira, kembali wanita ayu ini mengelus lengan wanita paruh baya yang membesarkannya itu.


"Dih, muka Mama memerah. Malu-malu!" ledek Safira manja. Terang saja Laila langsung memasang muka garang. Wanita paruh baya ini melirik tak suka. Sebab, pada kenyataannya ia tidak menginginkan perpisahan ini.

__ADS_1


"Ampun, Ma! Ampun!" ledek Safira lagi, wanita ayu ini mulai bermanja-manja di lengan sang ibunda.


"Sudah, ayo. Pesawat kita sudah siap. Jangan bercanda lagi!" ajak Laila. Safira pun segera mengikuti langkah sang ibunda. Untuk masuk ke dalam pesawat tersebut menuju saudara kembarnya.


***


Di tempat yang berbeda, kini ada Juan yang sedang berdiri tampan menunggu kedatangan dua wanita cantik yang ia nantikan. Siapa lagi kalau bukan Stella dan bidadari kecil mereka, Berliana.


Juan dan Stella sepakat untuk menemani Zein melewati masa kritisnya. Bukan hanya itu, Stella juga siap menunggu sampai Zein benar-benar sembuh.


Bukan berniat kembali, ia hanya ingin berdamai dengan keadaan. Memaafkan apa yang pernah terjadi. Mengikhlaskan waktu, air mata dan juga rasa sakit hati yang pernah ia rasakan karena ulah Zein. Stella ingin hidup tenang tanpa ada rasa dendam di hati. Sebab Tuhan saja pemaaf, masak dia tidak.


Beberapa menit kemudian, dua wanita yang Juan tunggu pun akhirnya datang. Mereka berdua terlihat berjalan ke arah Juan. Stella dengan senyum cantiknya menggendong baby mungil kesayangannya. Sedangkan Berliana tampak tenang di gendongan sang ibunda.


Juan langsung menyambut kedatangan kedua bidadarinya itu. Memeluk mereka berdua, sebab rasa kangen beberapa hari tak melihat mereka secara langsung membuat pria ini merindu.


"Yuk ke mobil!" ajak Juan seraya menggandeng sang istri.


Stella mengangguk pelan. Lalu kembali tersenyum.


Juan membukakan pintu mobil untuk sang istri. Lalu ia pun kembali masuk ke mobil dan bersiap di kursi kemudian. Sedangkan Berliana terus saja memandangnya, memandang pria tampan itu. Seakan dia paham jika itu ayahnya.


"Kenapa, Dek? Kangen ama Papai heemm? Rewel nggak tadi di pesawat ha? Gemes Papi pengen Papi makan aja kamu," ucap Juan sambil mengelitik dagu Berliana. Lalu bocah ini hanya tertawa.


"Dih dih, dia suka sekali Pi. Kayaknya dia rindu berat ni sama Papi. Kangen ya Dek heemm?" balas Stella.


Sepertinya apa yang diucapkan Stella adalah benar. Berliana begitu suka bertemu dengan sang ayah. Bahkan Berliana tak mau melepaskan jari-jari papinya. Setiap kali Juan melepaskan jarinya dari gengaman tangan mungil itu, Berliana menangis. Sepertinya enggan melepaskan sang ayah

__ADS_1


"Gimana ini, Mam. Papi nggak boleh nyetir!" ucap Juan.


"Ya udah, Papi aja yang pangku dia, biar Mami yang bawa mobilnya. Astaga neng gelis kumat pinternya kalo ketemu Papi. Hah!" jawab Stella. Sedangkan Juan pun tertawa.


Tak ada pilihan lain jika begini. Akhirnya Juan pun menyerahkan kemudian ya pada sang istri. Sedangkan dirinya duduk di tempat di mana Stella duduk tadi.


"Oke, baiklah. Mari kita jalan. Ke mana Pi?" tanya Stella mulai menginjak pedal gasnya.


"Di apartemen kita lah, Mam. Mau di mana lagi!" jawab Juan sedikit tidak menghiraukan Stella, sebab ia asik bermain dengan Berliana.


"Mami lupa kalo Papi kaya raya, rumahnya di mana-mana. Astaga!" balas Stella semabri memanyunkan bibirnya.


"Ya kan butuh, Mam. Kalo nggak ya ngapain beli. Kek gini, kalo udah ada rumah kan enak nggak usah sewa-sewa," jawab Juan dengan senyum tampannya.


"Iya sih, nggak pa-pa. Rumah boleh banyak tapi istri atu aja ya, Pi!" canda Stella, tapi bermaksud serius.


"Insya Allah, Mam. Bagi Papi satu aja udah cukup. Papi nggak akan main-main soal hati," jawab Juan sembari mengelus pipi Stella. Mendapat perlakuan mesra seperti itu tentu saja membuat hati wanita ini melambung tinggi.


"Pi, bolehkan Mami tanya sesuatu?" pancing Stella.


"Tanya saja, Mam. Emang mau tanya apaan sih?" balas Juan.


"Gimana kalo seandainya mantan Papi masih hidup? Apa yang akan Papi lakukan?" tanya Stella.


Juan diam, hanya melirik bingung pada sang istri. Ini aneh, sangat-sangat aneh. Mengapa tiba-tiba saja Stella bertanya seperti itu. Mungkinkah dia tahu sesuatu atau Rehan sudah bercerita tentang Zein, yang ada hubungannya dengan Safira.


Juan tertegun....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2