PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
PENJELASAN


__ADS_3

"Kemarilah, Mam. Papi akan jelaskan!" ajak Juan sembari menarik tangan Stella dan membawa wanita itu ke sofa.


Kali ini Juan tak ingin kehilangan moment untuk kembali menyakinkan Stella bahwa ia sangat mencintainya dan tak ingin kehilangan wanita ini.


Di sofa, Stella menatap intens mata sang suami. Berusaha mencari jawaban atas pertanyaan yang menyerang batinnya.


Juan sangat paham dengan apa yang istrinya rasakan. Namun, mau bagaimana lagi. Sementara ini ia harus tetap waspada pada Zein. Jika Juan salah perhitungan, kemungkinan ia akan kehilangan istri dan juga asetnya tentu saja terbuka lebar.


"Kamu tahu, Suamiku. Jika aku sangat tersiksa akan perlakuanmu beberapa hari ini," ucap Stella, suaranya terdengar serak. Bibir Stella gemetar. Mata wanita ini berkaca-kaca. Pertanda ia sedang menahan nyeri di dalam hatinya.


"Maaf, Mi. Bukan maksud Papi mau menyakiti Mami ataupun adek. Justru dari lubuk hati Papi yang terdalam, Papi sangat sayang pada kalian. Papi ingin yang terbaik untuk kalian. Namun, ada sesuatu yang tak bisa Papi kendalikan yaitu masalah proyek ini. Jika Zein dan insvestor itu mundur, maka Papi hancur Mam," ucap Juan dengan wajah sedih. Sepertinya kali ini ia tak main-main.


"Meskipun Papi bangkrut, Mami nggak akan ninggalin Papi. Mari kita berjuang sama-sama. Mulai dari nol pun tak apa, Pi. Asalkan jangan perlakukan Mami seperti ini!" pinta Stella dalam isak tangisnya. Kali ini wanita ayu ini tak sanggup lagi menahan air mata nakalnya.


"Maafin Papi, Honey." Juan menarik sang istri dan membawanya masuk ke dalam dekapan hangatnya. Stella menumpahkan segala rasa sesak yang beberapa hari ini ia tahan.


"Jangan diamkan Mami, Pi! Mami mohon! Kalau Mami salah, Papi bilang aja. Mami akan coba perbaiki, tapi Mami nggak mau Papi cuekin Mami!" Stella mengencangkan suara tangisnya. Mengeluarkan segala rasa kesal yang beberapa hari ini menderanya.


Dengan penuh kasih sayang Juan mengelus rambut sang istri. Mengecup keningnya dengan cinta. Berharap Stella mengerti bahwa sebenarnya ia pun tak ingin berada di titik ini.


"Papi tahu jika Mami sangat tersiksa dengan ini. Tetapi Papi tidak bohong Mam, Zein benar-benar licik. Bahkan dia meminta Patricia untuk pura-pura membantu Papi. Padahal sebenarnya Papi tahu, jika Patricia telah bekerja sama dengan Zein untuk menjebak Papi. Beruntung Tuhan masih melindungi Papi," ucap Juan berterus terang pada Stella. Kali ini tak ada main-main lagi.

__ADS_1


"Papi serius, tadi Papi bilang Patricia itu kaya dan memang suka sama, Papi," jawab Stella bingung.


"Astaga Mami! Jangan lugu-lugu napa, Mam jadi orang. Patricia memang kaya raya dan dia memang suka dengan Papi. Justru itulah yang dimanfaatkan Zein untuk memisahkan kita. Jadi Zein mau, Patricia mendekati Papi lalu ketika Papi terjebak, maka dia akan mengambil Mami dan Beliana dari Papi. Begitu loh Mam!" jawab Juan menjelaskan. Sedangakan Stella hanya ber'oh' saja. Sebab ia tidak menyangka bahwa masalah yang terjadi di depan matanya adalah ciptaan Zein. Si pria tak punya hati itu.


"Beberapa hari ini mereka memantau rumah kita, Mam. Mempelajari keadaan kita. Apakah kita baik-baik saja, atau sedang terguncang. Makanya Papi diamkan Mami, supaya mereka menganggap bahwa rumah tangga kita sedang tidak baik-baik saja. Agar mereka segera masuk, akhirnya terjebak sendiri, sekarang," ucap Juan sembari tersenyum tampan. Sedangkan Stella hanya melonggo, sebab masih belum mengerti.


"Semalam teman Papi yang meminum minuman yang telah Patricia bubuhi obat perangsang. Entah bagaimana kabar kawan Papi itu sekarang, sebab Papi juga tak mungkin melepaskan Patricia. Jika Papi lengah, maka Zein menang Mam." Juan menatap mata Stella. Yang Stella tangkap dari ucapan sang suami, tak ada sedikitpun kebohongan di sana.


Stella masih diam. Masih setia mendengarkan penjelasan Juan. Rehan benar bahwa Zein memiliki berjuta kelicikan-kelicikan untuk menjatuhkan suaminya dan merusak rumah tangganya.


"Papi tahu, jika Patriacia sebenarnya adalah informan Zein. Itu sebabnya semalam Papi membawanya pulang dengan berpura-pura mabuk. Sebenarnya, Papi menjebak dia Mam. Biar Zein lihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa cinta kita ada dan kuat," tambah Juan, melanjutkan apa yang ia ketahui.


"Maksud Papi?" Stella terlihat tidak mengerti dan bingung dengan cerita yang Juan sampaikan.


"Apaan sih Pi, demen amat ama foto ni cewek," ucap Stella kesal.


"Aduh, Mam. Perhatikan baik-baik. Perhatikan kancing kecil yang ada di dada wanita ini," tunjuk Juan. Sayangnya penangkapan Stella lain pasal ini. Ia menilai sang suami mesum. Dengan cepat Stella pun memukul keras lengan Juan.


"Auh, sakit Mam! Ahhh!" ucap Juan mengeluh.


"Habis Papi mesum, lihat begituan aja langsung melek," gerutu Stella kesal.

__ADS_1


"Astaga, Mam. Pikiran Papi nggak sekotor itu. Mami ni yang kelewat lugu. Coba Mami perhatikan, kancing kecil itu kamera, Mam," ucap Juan kembali menunjukkan foto Patricia dan membesarkan layar.


"Ni, coba Mami perhatikan!" pinta Juan lagi.


Stella yang masih ragu hanya menurut. Menatap foto itu dan memerhatikannya dengan seksama. Lalu menatap ke arah Juan.


"Mami paham maksud, Papi?" tanya Juan.


"Belum, Pi. Gimana maksudnya?" tanya Stella lugu.


Astaga istriku-istriku, tadi ngatain suaminya lembek. Sendirinya lemot. Siapa di sini yang salah! batin Juan terkekeh.


"Beneran Mami nggak paham siasat mereka?" tanya Juan serius.


Stella menggeleng.


"Tadi ngatain Papi lembek, kok sekarang Mami yang lemot. Berati kita beneran jodoh, Mam. Satu server," ucap Juan. Kali ini ia benar-benar terkekeh.


Stella hanya melongo, masih belum paham maksud Juan.


Juan yang melihat keluguan sang istri kembali tertawa. Sepertinya Stella memang kadang-kadang saja cerdasnya.Lebih banyak oonnya.

__ADS_1


Dengan sabar dan telaten akhirnya Juan pun menjelaskan detail permasalahan yang diciptakan oleh Zein. Berikut tentang siasat, serta tentang usaha Zein untuk menjebaknya. Agar tidur dengan Patricia.


Bersambung...


__ADS_2