PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Misi Gagal


__ADS_3

Menunggu Safira selesai dirias, Vita pun mendekati Zein. Yang saat ini ada di balkon. Sedang menelepon.


Vita mendekati Zein karena ingin meminta pendapat pria itu tentang pernikahan paksa yang di jalani oleh sahabatnya. Yang tak lain adalah adik kandung Zein.


Bukan hanya itu, Vita juga berniat menyampaikan apa yang ia pikirkan. Berniat mengajak Zein membatalkan pernikahan ini. Ya, Vita memiliki misi untuk mengajak pria ini mengeluarkan sang sahabat dari pernikahan yang tidak diinginkan.


"Abang apa kabar?" sapa Vita.


Zein yang saat itu baru selesai menerima panggilan telepon, tentu saja sedikit terkejut. Vita muncul secara tiba-tiba di belakangnya.


"Ha-hay!" jawab Zein sedikit gugup.


"Abang apa kabar?" Vita kembali mengulang pertanyaannya. Sedangkan Zein hanya menjawab pertanyaan itu dengan senyuman. Berharap Vita bisa paham dengan jawaban yang ia berikan lewat senyuman itu.


"Kenapa cuma senyum?" tanya Vita pada pria yang tingginya melebihi dirinya itu.


"Jadi aku harus gimana?" tanya Zein, tanpa mau menatap Vita.


"Kenapa Abang menghindari tatapan Vita? Apa ada yang salah?" pancing Vita.


"Nggak, tidak, mana ada aku menghindarimu. Aku baik-baik saja," jawab Zein, kali ini pria ini mau menatap Vita. Tapi hanya sekilas.


Vita tersenyum sinis. Karena menurut gadis ini, Zein adalah seorang pengecut yang takut menghadapi kenyataan hidup.


"Kenapa senyummu sinis begitu? Ada yang salah?" tanya Zein. Aura ketidaksukaan Zein terhadap dirinya, semakin terasa. Zein bersikap dingin padanya.

__ADS_1


"Nggak! Aku cuma mau tahu aja, apa pendapat Abang tentang pernikahan aneh ini?" tanya Vita, ikutan tidak bersahabat, ikutan dingin dan berkesan memusuhi Zein.


Zein tersenyum sekilas, lalu ia pun menjawab, "Apanya yang aneh? Mereka melakukan kesalahan, wajar kalo harus tanggung jawab." Zein hendak melangkah meninggalkan Vita. Namun Vita tak ingin kalah, ia pun menghentikan langkah Zein dengan sindiran yang mungkin ini menjadi tamparan untuk pria itu.


"Salut sih sama Lutfi, walaupun di luar dia tak terlihat mencintai Fira. Tapi aku yakin Lutfi mau menikahi Fira karena dia sebenarnya mencintai Fira. Cuma aku rasa dia hanya tidak nyangka aja, cintanya disatukan oleh kejadian yang mungkin sedikit tidak menyenangkan. Dari pada orang yang nyata-nyata terlihat cinta, tapi nggak berani berbuat apa-apa!" ucap Vita tanpa berdosa.


Mendengar pernyataan sindiran itu, tentu saja membuat telinga Zein memanas.


"Apa maksudmu berucap seperti itu?" tanya Zein sembari melangkah mendekati Vita.


"Vita nggak punya maksud apa-apa. Kenapa? Abang kesindir?" Vita menatap tajam ke arah Zein. Sedangkan Zein terlihat menangguhkan sikapnya. Agar ia tidak kalah dengan sindiran tersebut.


"Cintaku masih waras dan punya logika. Cintaku tidak egois. Jadi jangan pernah samakan cinta yang aku miliki dengan cinta yang mereka miliki. Cinta mereka hanya terhalang gengsi. Sedangkan Cintaku jauh lebih agung hanya untuk sekedar kata gengsi. Camkan itu!" jawab Zein marah. Enggan berdebat, Zein pun membalikkan tubuh bersiap pergi.


"Seagung apa cintamu hingga sanggup menjadikanmu pengecut sampai tak berani menatap orang yang kamu cintai?" Vita semakin tak sabar meluapkan emosi yang selama ini ia simpan rapat-rapat.


Kali ini, Zein tak mau menghentikan langkahnya. Apapun yang terjadi. Zein tetap memilih meninggalkan gadis yang mengajaknya berdebat perihal hati Meninggalkan gadis yang nyatanya tak tahu apa-apa tentang cintanya.


Dari pihak Vita, gadis ini hanya menangis gemetar. Nyatanya apa yang ia pikirkan tentang Zein, selama ini adalah benar. Pria itu bukan tidak mencintainya, tetapi dia takut membuatnya terluka. Pria itu takut, cinta yang dia miliki malah menyakitinya. Vita terdiam tanpa kata. Tak sanggup rasanya membayangkan bahwa pada kenyataannya dialah yang menyakiti Zein. Dia lah yang melukai pria itu. Dengan memilih hidup bersama pria lain.


Misi Vita gagal. Bukan niat dan tujuannya yang terealisasikan. Tapi dia malah mendapatkan tamparan yang menyakitkan. Mendapatkan kenyataan yang mungkin dia tak akan mampu maafkan dirinya sendiri.


Bagaimana tidak? Dia yang selama ini menuduh Zein membawa pergi hatinya. Padahal, tanpa ia sadari, dirinya sendiri pun membawa dan mendekap hati Zein. Sampai saat ini.


***

__ADS_1


Suara riuh tepuk tangan para saksi menghiasi pernikahan antara Lutfi dan Safira, mana kala pria tampan itu selesai mengucapkan ijab qobulnya.


Bukan hanya suara riuh tepuk tangan. Tetapi juga senyum mengembang di antara keluarga mempelai. Terutama Darkan dan Laskar. Mereka tidak menyangka, bahwa saat ini mereka menjadi besan.


"Ora nyongko yo, awak dewe dadi besan, Jo!" ucap Darkan pada sahabat masa kecilnya.


"Iyo, meskipun sedikit drama," balas Laskar dengan senyum khasnya.


"Hussst, nanti anak-anak dengar," jawab Darkan sedikit takut. Sebab ia sangat tahu bagaimana Lutfi. Lutfi memang pendiam pasa waktunya. Tetapi sebenarnya putra semata wayangnya itu sangatlah peka. Terlebih jika dia dalam mode hemat bicara.


"Iya, coba nanti kau ceritakan kronologi yang sebenarnya!" pinta Laskar serius.


"La yo telat toh to, anake ws kawin nembe minta dicritani. Piye sih wong iki ?( Ya telat lah, masak anaknya udah dinikahkan kok baru minta diceritain. Gimana sih orang ini?)" jawab Darkan sedikit emosi.


"Ora usah ngegas, aku cuma mau tahu kebenarannya!" balas Laskar masih dalam mode penasaran.


"Kalo soal kronologinya yang real, aku sih percaya sama mereka berdua. Cuma aku pun nggak bisa melawan warga karena nggak punya bukti. Awalnya aku percaya sama kamu. Kamu bisa memberikan solusi untuk mereka. Leehhhh, la kok malah kon nikah ke. Piye to, Jo! Jan ora matuk blas!( Lah kok malah suruh dinikahkan, ga sesuai sama sekali!)" tambah Darkan bingung.


"Soalnya kata bojoku, anakmu bocah sholeh, eman kalo dijadikan mantu orang lain. La mending tak jadikan mantuku dewe toh, Dur. Udah gitu aku dapat bonus, langsung oleh cucu, Dur. Kan mantap itu!" jawab Laskar sembari terkekeh.


"Dasar tukang dagang! utek ke isine cuma untung ae. Wis karepmu lah, Jo! Sing penting mohon dimaklumi kalo anakku masih punya banyak kekurangan. Kamu kan tahu sendiri to, Jo, usahanya belum lama ini hancur," ucap Darkan, melo. Dari raut wajah pria paruh baya itu, tergambar jelas bahwa dia sedih dengan kejadian yang menimpa sang putra.


"Iya, aku ngerti kok. Udah nggak usah sedih. Nanti juga ada aja rezeki. Sabar aja, Dur. Wis lah pokoke kita sebagai orang tua, jangan sampai lepas doa. Kasih dukungan semampu kita. Biar putra putri kita dapat kebahagiaan yang sempurna." Laskar langsung memeluk sahabat kecilnya itu. Agar pria itu tenang.


Bersambung....

__ADS_1


Like like like jangan lupa, komen yes... Biar emak rajin update terus... Laskar dan Laila udah punya cucu aja nih. Kira2 masih nafsu nggak ya ngrebut Berliana dari emak bapaknya.. Stay tune🥰🥰🥰🥰


__ADS_2