PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Menunggu Keputusan


__ADS_3

Safira menundukkan kepala. Mengigit bibir, menahan tangis. Bagaimana tidak? Nasibnya saat ini sedang berada di ujung tanduk. Ia takut kedua orang tuanya akan kembali mengusirnya. Melempar dirinya kembali keluar negeri. Safira takut itu terjadi. Sebab jika itu terjadi, maka artinya ia akan kembali pada titik nol dalam kehidupannya. Safira akan kembali berjuang seperti ketika ia bangun dari tidur panjangnya.


"Jangan sedih, Bu. Saya pasti akan jelaskan pada om sama tante kronologi yang sebenarnya. Pasti mereka akan percaya pada kita," ucap Lutfi berusaha membuat tenang Safira.


Sayangnya, wanita itu bukannya tenang. Ia malah menatap tajam pada Lutfi. Karena menurutnya ini semua adalah kesalahannya. Coba kalau dia tadi mau masuk kamar ketuk pintu dulu. Tak mungkin Safira menjerit. Karena saat itu dia habis mandi dan hanya menggunakan handuk.


"Kenapa, Bu? Kenapa menatap saya seperti itu? Apa salah saya?" tanya Lutfi, malah gugup.


"Pertanyaan itu? ini gara-gara kebodohan kamu. Dasar pria ceroboh." Safira kembali menatap marah pada Lutfi.


"Kan saya nggak tahu kalo ibu habis mandi!" Lutfi berusaha membela diri.


"Makanya kalo mau masuk kamar, ketuk dulu. Dasar bodoh!" umpat Safira kesal.


"Ya kan itu kamar saya. Ngapain saya mesti ketuk!" balas Lutfi tak mau kalah.


"Kalo pas lagi nggak ada orang lain, ya nggak usah ketuk. Kalo ada ya ketuk. Kek gitu masih kudu dijelasin!" Darah Safira kembali mendidih.


"Ya kan saya lupa kalo ada, Ibu!" jawab Lutfi jujur.


"Lupa, lupa, bilang aja kalo kamu memang bodoh!" jawab Safira. Kembali wanita ini menatap kesal pada Lutfi yang terlanjur punya nilai minus di matanya.


"Saya tidak bodoh, Bu. Saya kan sudah bilang kalo saya nggak tahu!" jawab Lutfi masih berusaha membela diri.


"Ahhh, diam lah kau. Berurusan dengan manusia-manusia bodoh seperti kalian memang sulit. Melihat tapi tak mau mendengar. Mendengar tapi tak mau melihat. Jadinya ya begitu, suudzon aja digedein. Gedek lama-lama gue!" gerutu Safira, mulai tak sabar. Sebab mata-mata yang memandangnya saat ini tak ubahnya seperti netizen maha benar. Semua benar di mata mereka. Jadi percuma dijelaskan panjang lebar. Mereka terlanjur memberinya stempel buruk. Lebih baik diam dan biarkan dulu suasana menjadi dingin.


Tak berapa lama, ayah Lutfi yang tak lain adalah ketua KUA di tempat tersebut langsung datang. Sebab ia dijemput paksa di kantornya.

__ADS_1


"Lutfi, apa-apaan ini?" tanya Darkan marah, yang tak lain adalah ayah Lutfi.


"Yah, ini nggak bener. Lutfi nggak mungkin melakukan hal sehina ini. Kalo Ayah nggak percaya, tanya saja sama gadis galak ini. Ya kan Ra!" jawab Lutfi, tak lupa ia pun meminta dukungan dari Safira.


"Huuuuu, tadi manggilnya ibu sekarang Ra. Kek gitu kok nggak mau ngaku kalo pacaran!" sorak kesal salah satu warga.


Spontan Lutfi dan Safira saling menatap bingung. Dengan cepat Safira pun memukul punggung Lutfi dan kembali mengumpat kesal.


"Dasar bodoh!" Safira menangis.


"Maaf, Ra, eh Bu. Habis sangking gugupnya aku. Kita kan nggak nglakuin apa yang mereka tuduhkan. Tapi tatapan mereka... " Lutfi tak bisa melanjutkan ucapannya. Sebab Safira menutup telinganya. Tak ingin lagi mendengar penjelasan sekaligus cemoohan para warga.


"Sudah, Fi. Kalo salah, ya ngaku aja. Bikin malu saja!" ucap Darkan mulai tak sabar. Sebab semua warga yang ada di tempat itu, yang semula menghormatinya kini jadi beranggapan miring padanya.


Bagaimana tidak? Dia adalah salah satu tokoh masayarakat terpenting di sana. Pekerjaannya adalah membantu menghalalkan sebuah hubungan. Lalu putranya? Malah melakukan tindakan sebaliknya.


"Sudah, begini saja Pak Darkan. Kami sebagai warga, tidak Terima jika lingkungan kami dipakai tempat untuk Berzina. Kami minta, nikahkan saja mereka. Kami tidak mau ikut terkena azab mereka. Bapak mengertikan maksud kami?" ucap Pak RT sebagai wakil dari para warga setempat.


"Iya, saya paham, Pak. Saya mengerti. Tapi kita tidak boleh bertindak seenaknya seperti ini. Kita harus menunggu keluarga dari pihak wanita. Kita nggak mungkin menikahkan mereka tanpa wali," jawab Darkan tegas.


"Baiklah, tapi kami tak punya banyak waktu untuk mengurus hal seperti ini. Kami harap, orang tua pihak perempuan segera datang dan membuat keputusan. Kita tunggu keputusan mereka Pak. Kalo bapak ibu si gadis tidak mau merestui, terpaksa kami sebagai warga yang taat peraturan, tetap akan membawa mereka kepihak yang berwajib!" kembali ketua RT tersebut mengambil keputusan tegas.


Lagi-lagi Safira dan Lutfi tak punya pilihan lain. Selain mengikuti alur cerita yang kini ada di depan mereka. Sebenarnya mereka sangat takut dinikahkan satu sama lain. Namun, dibawa ke kantor polisi juga tak kalah mengerikan. Itu sebabnya mereka diam. Berharap kedua orang tua Safira bijak dalam menyikapi masalah ini.


***


Di sisi lain, Laila terlihat shock ketika membaca pesan teks sekaligus melihat pesan bergambar yang dikirim oleh salah satu teman sang suami di ponsel yang kini ada di genggamannya

__ADS_1


Ya, Laskar memang memintanya membalas pesan teks orang-orang yang menunggu balasannya. Sebab dia sedang sibuk mengikuti zoom meeting di depan layar laptop miliknya.


Laskar tidak mau terganggu dengan hal lain. Sebab menurutnya meeting ini sangat penting bagi kelangsungan bisnisnya.


"Pa!" panggil Laila seraya menyodorkan ponsel itu pada si empunya.


"Apa, Ma?" tanya Laskar, masih terlihat biasa.


Laskar pun mengambil ponsel tersebut dan membaca baris demi baris kalimat yang dikirimkan oleh sahabatnya. Bukan hanya itu, ia juga Mengsroll gambar-gambar yang pria itu kirimkan.


"Apa-apaan ini! Anak itu memang bener-bener!" ucap Laskar marah.


"Sabar Pa sabar, mungkin kronologinya bukan seperti itu. Papa sabar dulu. Jangan emosi dulu!" pinta Laila sembari memberikan segelas air untuk sang suami. Agar pria yang dicintainya itu tenang.


"Istighfar, Pa. Istighfar!" pinta Laila lagi.


Beruntung Laskar pun menuruti arahan sang istri, agar dirinya mengucap asma Allah.


Merasa dirinya sedikit tenang. Laskar pun kembali mengajak sang istri mendikusikan masalah ini.


"Bagaimana ini, Ma?" tanya Laskar bingung.


"Ya kita dengarkan dulu pembelaan mereka, Pa. Jangan langsung menghakimi. Mama sih percaya sama Lutfi. Sama Fira juga. Mereka nggak mungkin melakukan hal serendah ini. Terlebih tak ada cinta di antara mereka. Kan Papa tahu, mereka musuhan!" jawab Laila mengingatkan.


"Bener juga ya, Ma. Fira aja benci bener sama Lutfi. Lutfi juga sama. Kita sering ngelihat mereka adu argumen. Cuma pertanyaannya kenapa selesai pesta mereka tak mau pulang. Malah ke rumah Lutfi. Kalo mereka mau bercinta seperti yang dituduhkan warga, kenapa nggak di rumah kita aja. Kan pas nggak ada orang!" balas Laskar, mencoba menimbang-nimbang kebenaran berita ini.


"Kan, makanya, mereka nggak mungkin sebodoh itu. Udahlah, Pa. Telpon saja, tanyakan sebenarnya kenapa mereka bisa pulangnya ke rumah Lutfi. Bukan je rumah kita!" Laila kembali menunjukkan sikap baik sebagai istri. Membuat Laskar tersenyum bahagia. Dan langsung menuruti saran wanita tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2