PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
PERIHAL HATI


__ADS_3

Setiap kata adalah bahasa. Setiap kata adalah rasa. Semua untain kata yang Zein dengar dari mulut Agus serasa meremas sanubarinya. Ulu hati pria tampan ini serasa amat sangat sakit. Zein seperti berada dalam lubang dusta yang teramat dalam. Lidahnya kelu tak sanggup berucap. Otaknya serasa penuh dengan penyesalan. Sehingga untuk berpikir pun rasanya tak sanggup.


Kenyataan pelik yang kini menghantuinya seperti meremas imej bahwa dia adalah keturunan dari keluarga terhormat. Tidak tercela sedikitpun di mata masyarakat. Namun, kenyataan berkata lain. Dari mulut Agus sendiri, dia mendengar bahwa sejatinya dirinya bukanlah putra keluarga Anggara. Zein memang pernah mendengar siapa ayah kandungnya, tetapi ia berusaha menepis kabar itu.


Kini ia menyesal, mengapa tak mencari kebenaran kabar itu dari dulu? Mengapa ia mengacuhkan semuanya? Mengapa ia terlena oleh kenyamanan yang selama ini keluarganya berikan padanya? Padahal pada kenyataannya ia hanya dianggap pekerja oleh orang yang dianggapnya ayah kandung selama ini.


Zein hanya bisa menangis meratapi apa yang sebenarnya orang lain anggap tentangnya. Namun rasa itu sedikit memberikan nilai positif untuk Zein. Pria ini bertekat akan mengembalikan semua aset kelurga Anggara yang hilang karenanya. Setelah itu ia tak akan kembali lagi. Zein berniat melepaskan diri dari keluarga yang telah membesarkan sekaligus memberinya namanya itu.


Zein memijat kepalanya yang mulai terasa sakit. Andai saat ini ada seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Andai saat ini ada seseorang yang mau mendengarkan apa yang ia rasakan. Mungkin Zein tidak akan merasakan hal paling buruk di dunia ini.


Tentu saja, seseorang yang mau mendengarkan keluh kesah kita hanya mereka yang mengerti isi hati kita. Tidak lain bukan. Sayangnya seseorang yang Zein miliki tidak ada lagi. Stella telah ia buang dan Rehan?


"Oh, Rehan!" ucap Zein ketika mengingat satu nama itu. Spontan pria ini pu meraih jas dan juga kunci mobilnya. Berniat pergi ke apartemen mantan asistennya itu. Zein ingin meminta maaf pada pria yang selama ini membantunya bekerja dengan pemikiran-pemikiran cemerlangnya itu.


Tak menunggu waktu lagi, Zein pun langsung tancap gas menuju apartemen sang sahabat. Entah Rehan nantinya mau menerimanya atau tidak, yang jelas saat ini, seseorang yang bisa membantunya menghadapi peliknya masalah yang membelenggu hanyalah Rehan.


***


Di sisi lain, Rehan sedang membuat surat lamaran pekerjaan, rencananya Rehan akan hijrah ke Negeri Jiran. Salah satu sahabatnya memberinya tawaran untuk ke sana. Sebab peluang di sana lebih baik dari pada dia berada di Jakarta.


Namun ketika sedang asik mengisi setiap beberapa data, terdengar seseorang memencet bel apartemennya.


"Ya sebentar!" ucap Rehan seraya beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Pria tampan ini pun melangkah mendekati pintu dan membukakan pintu tersebut untuk sang tamu.


Tampak di depan pintu ada Zein dengan wajah kusut. Rambut acak-acakan. Pokoknya mencerminkan jiwa yang sedang gundah.


"Ngapain lu ke sini?" tanya Rehan sedikit ketus. Sayangnya Zein malas berdebat. Tanpa diminta, pria gagah ini pun langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Rehan.


Rehan yang mengenal Zein dengan baik, pun tidak melarang. Meskipun jika boleh jujur, dia malas meladeni pria arogan ini.


Terlihat Zein langsung duduk di sofa ruang tamu milik Rehan tanpa permisi.


"Aku hancur, Re," ucap Zein lirih.


Rehan mendengar ucapan itu. Sebab dia sudah tahu apa yang sebenarnya yang telah Zein lalui.


"Ini bukan masalah Juan dan Ste, Re. Tetapi masalah keluargaku," tambah Zein jujur.


"Kamu yakin?" tanya Rehan.


Zein mengangguk.


"Ada apa dengan kelurgamu?" Rehan menatap penuh selidik.


"Di perusahaan ternyata banyak penyusup, Re. Termasuk asisten sialan itu," ucap Zein jujur.

__ADS_1


Rehan kembali menatap Zein. Sebab apa yang ia perkirakan adalah benar. Namun, pria ini tak mau gegabah, ia tak mungkin langsung memberi tahu apa yang ia dengar, jika dia sendiri masih ragu. Rehan sangat mengenal Zein. Pria ini sangat-sangat ceroboh. Rehan takut, jika dia berani membongkar ini sekarang tanpa bukti, bisa-bisa nanti malah dia yang kena batunya.


"Lalu apa yang bisa aku bantu?" tanya Rehan. Jujur ia juga tak tega pada pria ini. Mau bagaimanapun Zein adalah sahabatnya. Zein sering membantunya tanpa pamrih. Tak ada salahnya jika ia membantu pria ini sekali lagi.


"Kembalilah ke perusahaan, Re. Tolong bantu aku membabat para penghianat itu," pinta Zein sungguh-sungguh.


Rehan diam sesaat. Memikirkan apa yang Zein inginkan darinya.


"Oke, tetapi aku harus menghadapi papamu dulu. Beliau menginginkan aku menemuinya siang ini," jawab Rehan jujur.


Zein menatap Rehan. Sepertinya dia curiga jika Rehan mengetahui sesuatu.


"Apakah kamu mengetahui sesuatu tentangku, Re?" tanya Zein.


Rehan diam, tidak berani menjawab Namun kediaman pria ini tentu saja menghadirkan tanda tanya di pikiran Zein.


"Tolong beritahu aku tentang apa yang sebenarnya terjadi Re!" pinta Zein memohon.


"Aku akan kasih tahu kamu jika sudah menemukan bukti, namun berhati-hatilah terhadap pak Agus sendiri. Ini hanya perasaanku, ada sesuatu yang kurang beres Zein. Hanya saja, kalau aku boleh jujur aku sendiri takut. Karena ini menyangkut nama baik kelurgamu," ucap Rehan pelan dan hati-hati. Sebab ia tahu konsekuensi jika dia membicarakan masalah pelik ini.


Zein dan Rehan diam. Mereka sama-sama memberi waktu untuk diri mereka sendiri. Untuk bermain dengan perasaan mereka sendiri. Perihal hati memang sangat pelik. Zein berusaha sabar menunggu Rehan mau membuka apa yang sebenarnya terjadi.


Bersambung....

__ADS_1


Like dan komen kalian adalah hadiah terbaik๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2