PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MEMASTIKAN


__ADS_3

Stella tak menunggu waktu lagi untuk menuntaskan rasa penasarannya. Wanita ayu berkulit putih ini pun segera meminta sang adik untuk membelikannyanya alat tes kehamilan.


Harap-harap cemas. Itulah yang di rasakan Stella saat ini. Antara bahagia dan takut. Bahagia karena akhirnya dia memiliki bukti cinta antara dirinya dan pria itu. Pria yang saat ini masih menjadi pemilik utuh hatinya.


Beberapa jam berlalu, akhirnya Vita pun datang membawakan alat tersebut. Dengan debaran jantung yang susah dikendalikan, kedua kakak beradik itu pun mulai melakukan tes kehamilan tersebut.


Stella segera masuk ke kamar mandi untuk melakukannya. Sedangkan Vita menunggunya di sofa kamar sang kakak.


Beberapa menit kemudian, Stella pun keluar kamar mandi. Dengan wajah sedikit ditekuk.


"Gimana Kak? Gimana hasilnya?" tanya Vita tak sabar.


Stella berjalan lemah menuju sofa. Lalu ia pun duduk dengan tenang.


Vita mendekati sang kakak dan berusaha sabar menunggu kakak tersayangnya itu membuka suara.


"Gimana kak?" tanya Vita. Stella tak menjawab. Tetapi menyerahkan alat tes kehamilan itu pada Vita.


Vita pun mengambil alat kehamilan tersebut dan membacanya. Tampak jelas dia garis merah di sana. Vita pun tersenyum bahagia.


"Kakak, selamat!" ucap Vita bahagia. Tak lupa gadis tomboy ini pu memberikan pelukan hangat untuk sang kakak. Pelukan suka cita. Pelukan kasih sayang. Sebagai ungkapan bahwa dia juga ikut bahagia. Sedangkan Stella tak seantusias Vita. Wanita ini hanya tersenyum.


"Kok cuma senyum! Kenapa? Kakak nggak bahagia?" tanya Vita.


"Apakah aku dosa pada mereka? Telah memisahkan mereka?" tanya Stella sedih.

__ADS_1


"Tentu saja, Kak. Abang berhak tahu bahwa dia akan memiliki buah hati lagi dan si dedek juga berhak dekat dengan ayahnya. Ayolah! Kalo kakak nggak mau pulang, setidaknya kasih tahu abang by phone nggak apa-apa," ucap Vita menasehati.


"Apakah begitu baik?" tanya Stella.


"Kalo Kakak ragu, gimana kalo Vita yang bicara dengan abang. Siapa tahu abang mau dengerin omongan Vita," ucap Vita menawarkan diri.


Stella tampak ragu. Tetapi menurutnya usul Vita lebih baik dari pada dia sendiri yang bicara. Stella belum siap bercengkrama dengan Juan. Ia takut tak mampu menahan hatinya. Dan akhirnya meruntuhkan harga dirinya. Stella takut tak mampu menguasai egonya. Yang akhirnya akan menuntunnya marah pada Juan. Sehingga membuat hubungan mereka lebih renggang.


"Kakak pikir-pikir dulu," jawab Stella.


Vita pun tak ingin memaksa. Namun ia berharap, Stella segera memberinya keputusan. Mau bagaimanapun Juan berhak tahu. Pun dengan bayi yang saat ini ada di dalam kandungan sang kakak.


***


Siapa lagi kalau bukan Luis. Pria yang selama ini memendam rasa pada Vita.


"Zein, apakah kamu pernah jatuh cinta?" tanya Luis pada sang asisten. Zein hanya tersenyum.


"Ditanya kok malah senyum," ucap Luis sedikit kesal.


"Saya ini duda, Pak. Kan Bapak tahu itu," jawab Zein jujur.


"Eh, iya ya. Lupa aku." Luis diam sesaat. Lalu ia pun melanjutkan ucapannya. "Aku sedikit takut, Zein. Aku takut dia nggak mau menerima lamaranku. Jujur aku takut kecewa." Luis menghentikan aktivitasnya dan menatap kosong pada dinding yang kini ada di depannya.


"Dia sudah memberi anda lampu hijau dengan meminta anda menemui keluarganya. Itu berarti dia mau menerima anda, Pak," jawab Zein sesuai dengan pengalamannya dulu.

__ADS_1


"Begitukah?" tanya Luis memastikan.


"Sesuai pengalaman saya, Pak," jawab Zein dengan senyum tampannya.


"Oke, sekarang kamu pesan tiket dan Hotel untukmu di sana. Aku mau kamu ikut. Temui aku menemui keluarga kekasihku. Bantu aku ngomong, oke," pinta Luis pada Zein.


Zein tak mungkin menolak. Sebab, Luis adalah majikannya. Mau tak mau Zein harus patuh pada perintah pria tersebut.


Tanpa bertanya lebih banyak, Zein pun segera menjalankan tugas yang diberikan oleh Luis. Tanpa berpikir aneh-aneh. Tanpa berprasangka buruk atau apapun. Sebab pikiran pria ini hanyalah bekerja dan bekerja. Tidak ada kepentingan yang lain.


***


Di lain pihak, ada kabar buruk datang dari Singapura. Jovan dilarikan ke rumah sakit karena percobaan bunuh diri. Pria itu tak sanggup menjalani hidupnya di penjara.


Jovan tak sanggup menjadi bulan-bulanan teman-temannya di penjara. Belum lagi para klien-klien nya dulu selalu menagih hutang. Jovan gelap mata dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.


Kabar itu pertama kali didengar oleh Anti. Iseng-iseng wanita itu membaca surat kabar yang ada di internet. Tak sengaja ia membaca.


Rasa penasaran pun akhirnya membawanya mencari tahu. Diam-diam Anti pun menghubungi seseorang yang ia kenal. Yang bisa membantunya mencari tahu kebenaran tentang kabar itu.


Beberapa jam berlalu, Anti pun mendapatkan kabar yang ia inginkan. Kabar yang sama. Sama dengan apa yang ia baca di dalam media sosial tersebut.


Ingin sebenarnya Anti memberitahukan kabar ini kepada kedua putrinya. Namun ia ragu. Terlebih kepada Stella. Anti tahu bagaimana perasaan Stella kepada mantan suaminya itu. Namun, Anti juga tak bisa tidak peduli. Mau bagaimanapun Jovan adalah ayah dari anak-anaknya. Dan menurut hati nuraninya, mereka berhak tahu. Anti bingung harus berbuat apa.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2