
Zein masih belum bisa meredam emosinya. Kata-kata Stella ternyata sanggup mempora-porandakan keyakinan pria ini. Keyakinan untuk membawa kembali Stella ke dalam pelukannya. Kesempatan itu semakin menipis. Terkikis oleh keberanian Stella melolaknya.
Harapan Zein seketika runtuh. Ketika tes DNA itu tak mendapat respon sedikitpun dari Stella maupun suaminya. Pada kenyataannya tes DNA tersebut nyatanya tidak berpengaruh sama sekali untuk hubungan mereka. Stella terkesan tak peduli. Bahkan dia marah. Tidak menginginkan hidup kembali bersamanya. Hanya pada Juanlah ia berharap. Berharap sahabatnya ini terpengaruh dengan bukti dan juga kebohongan yang ia bawa. Lalu, mau menyerahkan Stella dan bayinya dengan suka rela kepadanya. Sebab, Juan tadi tak bereaksi. Membuat Zein berharap hasutannya yang dia lancarkan bisa merasuk ke dalam jiwa Juan.
Lalu Zein tersenyum senang mengingat reaksi Juan yang terlihat marah pada Stella. Harapannya kembali bersinar. "Semoga pria bodoh itu terpengaruh!" ucap Zein, kemudian tawa kebahagiaan pun menggema di ruangan ini.
Zein sepertinya lupa, bahwa ada satu orang lagi yang bakal bikin dia tak bisa berkutik dan mungkin orang inilah yang akan menyeretnya ke dalam api keterpurukan.
Pikiran Zein hanya tertuju pada bagaimana caranya ia memisahkan Juan dan Stella. Lalu kembali memiliki wanita ini. Setelah itu, terserah. Mau hubungan persahabatan dan bisnis ini berakhir. Zein tak peduli. Yang terpenting baginya saat ini hanyalah Stella dan bayinya.
"Stella!" teriak Zein kesal. Ingin rasanya pria ini kembali ke rumah Juan dan menculik wanita itu. Membawanya keluar dari rumah itu.
***
Juan dan Rehan telah bertemu. Seperti biasa, mereka pun berjabat tangan dan saling memeluk.
"Maaf jika aku nggak langsung cerita ke kamu soal ini, Jun," ucap Rehan langsung pada pokok permasalahan yang mereka hadapi.
Juan diam. Sebab ia masih ingin mempelajari maksud dan tujuan Rehan. Rehan adalah anak buah Zen. Wajar jika Juan waspada.
"Boleh aku cerita sedikit?" tanya Rehan bermaksud menjelaskan perihal ini pada Juan.
__ADS_1
"Tentu saja, silakan!" jawab Juan.
Baru mereka hendak bercengkrama, tiba-tiba Zein ada di belakang mereka dan memberikan tepuk tangan pada Rehan.
"Wah wah wah, ada penghianat rupanya di sini!" ucap Zein santai.
Terang saja, emosi Rehan langsung memuncak. Ia pun tak pandang bulu lagi. Rehan lempar semua rasa malu. Yang ia mau saat ini hanyalah menghajar mulut Zein yang kurang ajar itu.
"Diam kamu brengsek!" Rehan berjalan mendatangi Zein. Kemudian tanpa aba-aba pria ini langsung menghadiahkan bogem mentah pada pria yang beberapa tahun ini menjadi bosnya.
Buuugghhh.... Seketika Zein oleng. Kehilangan keseimbangan.
"Biarkan dia menghajarku. Aku mau tahu, sekebal apa dia dengan hukum!" ucap Zein santai. Sepertinya ia memang sengaja tidak membalas, sebab ingin memproses masalah ini ke meja hijau.
"Kamu pikir aku takut dengan pria bangsat sepertimu, hah!" teriak Rehan kesal.
"Sudah, Re sudah!" teriak Juan mengingatkan.
Zein hanya tersenyum santai sambil mengelap darah yang menetes melalui ujung bibirnya.
"Dengar baik-baik bangsat, aku tidak pernah sekalipun menghianatimu. Sampai detik ini aku masih setia," ucap Rehan, masih berusaha meronta hendak menyerang Zein.
__ADS_1
"Oh, ya. Lalu apa ini? Diam-diam kamu melakukan pertemuan dengan musuhku!" balas Zein tak mau kalah.
"Dia?" Rehan menunjuk Juan.
Zein tersenyum sini.
"Dia kamu bilang musuh! Heh, dasar manusia nggak punya hati. Hanya demi egomu yang nggak masuk akal itu kamu memusihi kami. Hebat! Hebat Zein. Tepuk tangan buat Bapak Zein yang terhormat." Rehan menatap tajam ke arah Zein.
"Dengar baik-baik, Zein. Aku mengenalmu, aku tahu bagaimana kamu dan Stella bisa pisah. Aku tahu semuanya yang kamu lakukan untuk membuat dia kembali padamu. Aku saksi, Zein. Apa kamu lupa? Aku saksi. Aku tahu alasanmu menceraikan Stella. Aku tahu bagaimana sakitnya Stella setelah kamu kembalikan dia ke orang tuanya. Aku tahu bagaimana perjuangan dia hidup setelah itu. Lalu, sekarang! Setelah dia menemukan kembali hidupnya, kamu mau menghancurkannya lagi. Tidak Zein. Aku tak akan membiarkan itu terjadi!" ucap Rehan tegas. Mata mereka saling menatap tajam. Namun sayang, ancaman Rehan tak menggoyahkan sedikitpun niat Zein untuk mendapatkan Stella.
"Kamu pikir aku peduli. Stella adalah milikku dan bayi itu adalah bayiku. Sampai kapanpun aku tak akan menyerahkan dia kepada siapapun. Aku mencarinya selama ini. Bukan aku tak mau tanggung jawab!" sanggah Zein. Santai seperti seseorang yang tidak memiiki dosa.
"Dasar iblis tak punya hati kamu, Zein. Percuma ngomong sama manusia yang hatinya mati. Terserah kamu, yang jelas masih ada aku yang akan membela hubungan Juan dan Stella. Tak kan ku biarkan kamu menyentuh mereka. Dengar kamu!" Rehan tak melanjutkan kata-katanya. Pelan ia meminta para orang-orang yang memegangnya untuk melepaskan pegangan mereka. Kemudian ia pun menarik tangan Juan untuk meninggalkan lobi hotel ini.
"Kamu aku pecat!" teriak Zein marah.
Rehan menghentikan langkahnya. Lalu membalikkan badan menghadap Zein yang terlihat gusar. "Periksa dulu sebelum berteriak. Aku sudah menaruh surat pengunduran diri di meja kerjamu. Aku juga tak sudi bekerja pada pria egois sepertimu, Tuan Zein yang terhormat!" balas Rehan geram.
Masih dengan emosi yang memuncak, Rehan pu meninggalkan tempat yang membuatnya kesal ini. Diikuti oleh Juan di belakangnya.
Bersambung....
__ADS_1