PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TAK MENYANGKA AKAN SECEPAT INI


__ADS_3

Rehan benar-benar menjaga dengan baik hati Stella. Meskipun wanita itu merasa tak masalah jika Zein tahu bahwa kenyataan yang ada saat ini. Bahwa ia adalah istri dari sahabatnya. Stella sudah menegaskan pada Rehan, bahwa Zein dan segala kenangan yang mereka miliki adalah masa lalu. Masa lalu yang sudah ia kubur dalam- dalam.


Rehan tersenyum mengingat setiap kata yang Stella ucapkan padanya. Jujur dalam hati pria tampan ini, ia bangga pada wanita itu, yang tidak mengeluh dengan keadaan yang menerpanya. Kuat mengadapi badai yang menerjangnya tanpa ampun. Keadaan yang mencabik-cabik harga dirinya tanpa sedikitpun merasakan kasihan. Rehan juga salut pada keberanian wanita itu. Siap menghadapi badai yang mungkin akan kembali menerjanganya. Setidaknya untuk saat ini Stella tidak hanyut dalam rasa sakit yang merobek harga dirinya.


Bukan hanya bangga dan salut pada Stella. Rehan juga mendukung penuh keputusan Juan menjadikan Stella istrinya. Pendampingnya. Permasurinya. Sebab Rehan mengenal betul wanita itu. Bagi Rehan, Stella adalah berlian. Hanya Zein saja yang buta. Tak menyadari bahwa wanita yang ia nikahi adalah berlian yang sangat berharga. Stella dan segala cintanya adalah berlian.


"Maaf, Zein. Kali ini aku menghianatimu. Aku rela kehilangan pekerjaanku sekarang. Maaf jika perihal hati ini aku lebih memilih mendukung Juan. Sebab, ia jauh lebih pantas memiliki Stella dibanding dirimu," gumam Rehan sembari memakai bajunya.


Bayang Rehan buyar mana kala ia mendengar ponselnya berdering. Pria tampan ini pun langsung membalik tubuh dan meraih ponsel itu serta langsung menyambut penggilan tersebut.


"Ya, Bos," sambut Rehan, yang memnaggil pria ini yang tak lain adalah Zein.


"Kamu kenapa aja sih? Ditelponin dari tadi juga!" umpat Zein kesal.


"Maaf, Bos. Tadi mandi nggak denger," jawab Rehan jujur.


Zein tidak menjawab, sepertinya dia memang kesal pada Rehan.

__ADS_1


"Bos di mana sekarang?" tanya Rehan.


"Kamu lama, aku telpon Gani. Sekarang sama dia menuju rumah Juan." suara Zein terdengar santai, pasti dia serius.


Rumah Juan? Mati aku. Bukankah dia masih di Jepang, kok bisa tiba-tiba di mari? Aduh tamatlah riwayatku. batin Rehan gugup.


"Kenapa diam?" tanya Zein spontan.


"Ah, nggak. Aku pikir Bos masih ada di Jepang. Baik, aku nyusul ke sana!" jawab pria ini. Tentu saja Rehan gugup. Bagaimana tidak? Ia tak menyangka jika pertemuan Zein dan Stella secepat ini, dan sungguh ini adalah saat paling mendebarkan dalam hidup Rehan. Lebih mendebarkan dibanding ia harus menghadapi sidang perceraian.


Rehan tahu, jika pertemuan Stella dan Zein pasti akan terjadi. Masuk besok, nanti atau kapanpun. Ia hanya tidak menyangka, pertemuan itu akan terjadi secepat ini. Dan itu artinya, pertemuan mereka adalah akhir dari karirnya. Bagaimana tidak? secara otomatis Zein pasti akan marah padanya. Akan menuntut kesetiannya, kejujurannya dan juga yang pastinya adalah akan bertanya kapan pastinya ia tahu kebenaran ini.


"Rehan, kamu lebih tua dari wanita itu. Jangan mau kalah! Apa lagi kamu adalah pria. Pria tak boleh kalah dengan wanita. Mengerti Rehan! Sekarang cepat, jangan takut sama pria bernama Zein. Hadapi Re, Hadapi" ucap Rehan menyemangati dirinya sendiri. Meskipun, tak dipungkiri bahwa ia juga gemetar menghadapi ini.


Segera pria ini mengambil dompet, handphone dan juga kunci mobil yang ia pinjam dari Juan jika berada di kota ini. Bergegas menyusul masalah yang menghadangnya. Masalah berwujud manusia. Dia adalah Zein dan juga Stella.


"Ya Tuhan sampai kapan kalian akan membuatku tak tenang. Tidak dulu tidak sekarang selalu saja merepotkan!" gerutu Rehan sembari melajukan kendaraannya menuju rumah Juan.

__ADS_1


***


Di sisi lain ada Stella yang sedang merasakan tak nyaman pada perutnya. Menurut hari perkiraan lahir atau biasa dikenal dengan HPL masih dua minggu lagi. Namun saat ini, ia merasakan mules yang datang sesekali. Stella berusaha melupakan rasa itu. Tetapi semakin ia melupakannya semakin rasa mules itu sering datang.


"Mami kenapa meringis- meringis begitu?" tanya Juan sambil mengelus perut buncit sang istri.


"Rasanya kenceng banget, Pi. Mules kek mau buang air besar tapi nggak pengen. Gimana tu!" jawab Stella jujur.


"Mungkin dedek udah mau lahir kali, Mam," tambah Juan.


"Bisa jadi, Pi. Tapi belum ada flek, terus rasanya juga masih bisa di tahan. Kalau kata dokter tunggu mulesnya sering aja baru ke rumah sakit ya. Mami jalan-jalan aja deh, seperti saran dokter waktu itu," ucap Stella sembari melangkahkan kakinya.


"Oke, mari Papi temenin." Dengan setia, pria ini pun mengelus pinggang Stella sembari menemaninya berjalan. Tak lupa Juan juga menghubungi dokter kandungan Stella. Agar siaga menunggu kapanpun ia membawa sang istri ke rumah sakit. Beruntung sang dokter meyanggupi dan memberi saran pada Stella supaya selalu rileks, santai dan jangan terlalu banyak berpikir.


Bersambung....


jangan lupa like komennya ya, 1 like dan komen kalian sangat berarti bagi saya. Oia yang mau gabung di grup WA sahabat Rini Sya bisa banget... klik link di bawah ini ya....

__ADS_1


https://chat.whatsapp.com/LUOz0NM0hJlDO6zgTHBhEN


__ADS_2