PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Memantapkan Pilihan


__ADS_3

Tak sedikitpun terlintas di benak Vita untuk menjadikan mahligai pernikahan ini sebagai ajang coba-coba. Ia sendiri ingin menikah sekali seumur hidup. Membina rumah tangga dengan pria yang telah ia pilih untuk menjadi imamnya. Bukan hanya itu keseriusan yang Vita tancapkan di dalam pikirannya. Bahkan gadis ini rela melupakan pria yang sebenarnya lebih diharapkan oleh hatinya. Karena ia tahu, bahwa pria itu hanya akan menimbulkan kontroversi dalam keluarganya.


"Kakak nggak bisa berbuat apa-apa, Vit. Jika kamu dan Luis sudah memutuskan untuk melalui ini bersama. Namun, jika boleh, jangan pendam masalahmu sendiri! Kakak siap jadi tempat curhatmu kalo kamu mau," ucap Stella mencoba menguatkan hati sang adik.


"Makasih banyak, Kak! Kakak mau mendengarkan keluhan Vita, itu udah sesuatu yang luar biasa. Kakak memang nggak bisa gantiin ibu di hati Vita. Tapi percayalah, Kakak punya tempat istimewa di hati Vita," balas Vita sembari tersenyum bahagia.


"Makasih, Sayang. Kakak akan selalu mendoakan kebahagiaanmu. Apapun dan siapapun pilihanmu," jawab Stella serius. Sebenarnya, Stella juga merasa bersalah ketika ia pernah melarang Vita untuk lebih dekat dengan Zein. Tetapi dia juga tak rela jika sang adik nantinya akan disakiti pula oleh pria itu.


Sekarang, rasa bersalah yang Stella rasakan malah semakin dalam, mana kala pria yang telah Vita pilih malah menghadirkan ketidaknyamanan perihal restu.


"Ya sudah kamu istirahat, sebentar lagi abangmu juga datang. Oiya, sebelum masuk kamar tolong periksa ibu ya. Nanti Kakak juga periksa kalo abangmu ada, biar ada yang jaga anak-anak," pinta Stella, agar snag adik mengantikan tugasnya perihal sang ibu. Biasanya di jam segini, Stella sudah memeriksa sang ibunda tercinta sebanyak tiga kali. Hari ini dia baru melihat Anti sekali. Sebab Berliana sedang panas dan Arjuna rewel. Biasanya, Stella tak menyerahkan anak-anaknya pada para pengasuhnya jika mereka dalam Keadaan kurang sehat. Sebagai ibu, Stella lebih suka menjaganya sendiri.


Vita pun menyanggupi apa yang kakaknya minta. Ia pun segera beranjak dari tempat duduknya dan memerikda sang ibunda. Setelah itu barulah ia masuk ke dalam kabar yang telah Stella sediakan untuknya.


Di kamar ini, gadis cantik berambut panjang ini pernah meminta perihal jodoh pada sang Khaliq. Ia meminta, agar jodohnya di dekatkan. Agar yang tidak jodoh dijauhkan. Sekarang ia telah mendapatkan jawaban itu. Vita yakin, jodohnya bukanlah Zein. Tapi Luis. Ya, saat ini, itulah yang ia yakini.


Vita tersentak dari lamunan, ketika ponsel miliknya berdering. Sang pria yang sedari tadi ada di dalam lamunannya, kini menghubunginya.


"Hallo," sambut Vita tenang.

__ADS_1


"Hay, kok lemes gitu jawabnya. Kenapa?" tanya Luis ikut santai.


"Nggak, nggak ada apa-apa. Kamu lagi ngapain?" balas Vita mencoba mengalihkan perhatian Luis.


"Aku baru selesai rapat. Capek sekali rasanya. Jadi kangen tidur di pangkuan kamu," canda Lutfi dengan tawa khasnya.


"Sinilah, nanti aku peluk." Vita pun tak mau kalah, ia juga senang jika sang calon suami bermanja-manja dengannya begitu.


Di seberang sana, Luis tersenyum bahagia. Rasanya, rasa lelah yang ia rasakan ketika rapat tadi, hilang begitu saja kalau sudah bermanja-manja begini dengan sang kekasih. Entahlah, bagi pria ini, Vita adalah asupan imun terbaik baginya.


"Han, beberapa hari lagi kita menikah. Adakah sesuatu yang mau inginkan dariku?" tanya Luis serius.


"Aku tidak bisa menjanjikanmu kebahagiaan yang hakiki, Vit. Tapi aku bisa menjanjikanmu soal kesetiaan. Dari segi hati, raga maupun pikiran. Percayalah!" ucap Luis tak kalah serius.


"Lalu, bagaimana dengan syarat yang di ajukan oleh omamu?" tanya Vita lagi.


"Anggap saja syarat itu tidak ada, Vit. Semakin kita pikirkan, semakin kita ragu untuk melangkah. Tuhan hanya akan memberikan ujian untuk hambanya yang mampu. Jika ujian kita demikian, berarti kita mampu, Vit. Kamu paham kan maksudku?" jawab Luis, dari ucapan tersebut bisa dikatakan bahwa pria ini sejatinya juga resah. Namun ia berusaha bersikap tak mau ambil pusing.


Baginya pernikahan ya pernikahan. Seharusnya tidak ada syarat di dalamnya. Karena niat membina mahligai rumah tangga hanyalah untuk beribadah kepada Allah. Satu yang Luis yakini, bahwa apa yang ditakdirkan menjadi miliknya, maka tanpa dia meminta, pasti akan datang padanya dengan cara apapun.

__ADS_1


Di lain pihak, Vita tersenyum bahagia mendengar penuturan optimis sang calon suami. Pria itu begitu bangga dengan keyakinan dan keteguhan hatinya. Bagi Vita, itu sudah merupakan modal terbaik untuk menjadi seorang imam. Tidak terpengaruh hanya karena sebuah permintaan yang menurutnya sendiri tidak masuk akal.


***


Lydia tidak menyangka, bahwa pria yang ia anggap memiliki kesalahan terhadapnya. Yang ia anggap memberikan kerugian terhadap keluarganya. Yang ia anggap musuh, ternyata malah mau menolongnya. Mau mengorbankan waktu untuknya.


"Terima kasih, kamu sudah menolongku dan memberikan tempat yang nyaman untukku," tulis Lydia di pesan teks dalam ponselnya. Lalu, setelah ia menulis pesan itu, Lydia pun merebahkan tubuhnya di ranjang kamar hotel yang telah dipesan Zein untuknya.


Lama, hampir satu jam wanita ini menunggu jawaban si pria. Namun, pesan yang ia kirim pada pria itu hanya di baca. Tidak di jawab sama sekali.


Lydia tidak ingin memaksa. Toh ia sejak pernikahannya gagal bersama Alarick, Lydia memilih fokus pada bisnis dan pekerjaannya. Fokus pada adik satu-satunya. Fokus pada apa kakeknya perintahkan padanya.


Ya, seperti itulah kehidupan Lydia setelah vonis mandul yang ia dengar dari dokter kandungan yang menangani operasinya saat itu.


Hidup gadis ini kian hancur mana kalau keluarga Alarick memutuskan untuk menyudahi ikatan pertunangan mereka.


Alarick memutuskan meninggalkannya di saat dia terbaring di rumah sakit pasca oprasi yang ia jalani. Lydia tak mampu mencegah. Lydia tak kuasa menolak. Kata-kata yang Alarick lontarkan seperti sebilah pisau yang menancap kuat di hatinya.


Saat itu, hati Lydia bukan hanya retak tapi hancur berkeping-keping. Hingga dia bersumpah tidak ingin lagi terlihat dengan hati. Tidak ingin lagi terlibat dengan cinta. Lydia memutuskan untuk mengubah alur hidupnya menjadi pembisnis yang hebat. Tanpa memikirkan yang namanya cinta, lelaki apa lagi mimpi membangun mahligai rumah tangga. Sungguh impian itu sudah ia hapus dari benaknya. Karena Lydia menganggap, bahwa kekurangannya Tidak mungkin bisa diterima oleh orang lain dan dia sendiripun enggan terluka.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2