
Cinta itu luka
Benarkah demikian?
Oh, Tidak ... cinta itu sebenarnya indah
jika kamu menemukan seseorang yang pas.
Jika kamu menemukan seseorang yang tepat.
Seorang pria akan berubah menjadi BuCin sejati, jika dia menemukan wanita yang menurutnya, Inilah Dia.
Inilah wanita itu. Apapun akan dia lakukan untuk membuat sang wanita bahagia. Percayalah!
Pun dengan seorang wanita, dia akan sangat sangat bahagia, jika pria yang di temukan adalah pria yang benar-benar mencintainya. Sang wanita akan berubah menjadi seorang yang patuh, jika sang pria berhasil menyentuh hatinya.
Jadi temukan pasangan terbaikmu, dengan hatimu dan dengan cintamu!
Itulah yang sekarang ingin dilakukan oleh seorang Juan. Setelah berpikir panjang, akhirnya ia menyadari, bahwa kenyatannya Stella lah yang sanggup membuatnya merasakan kembali indahnya cinta. Bukan Safira, wanita yang pernah hadir membawa bahagia, namun nyatanya meninggalkan luka untuknya.
Kini, Juan sedang bersiap terbang ke Manado. Pria ini telah memantapkan hatinya untuk mencari sang istri di kota itu. Juan yakin, jika saat ini Stella pasti berada di sana.
Namun, ketika hendak keluar apartemen, bel berbunyi. Dengan cepat Juan pun membukakan pintu itu.
Tercengang, seperti itulah ekpresi Juan saat ini. Pria ini tidak menyangka bahwa wanita yang pernah mengisi hatinya dan kemudian memberinya luka itu kini berdiri sempurna di depan matanya.
"Hay!" sapa Safira.
__ADS_1
Juan hanya diam. Pria ini hanya menatap tajam ke arah wanita yang sudah tidak ia kehendaki itu.
"Kok diam, boleh aku masuk?" tanya Safira dengan senyum menawannya.
Juan masih belum menjawab, namun ia tetap membuka pintu itu. Lalu Safira pun masuk dan untuk menghindari fitnah, Juan pun membuka lebar pintu apartemennya.
"Istrimu ke mana, Jun?" tanya Safira lagi.
"Dia ada, kenapa? Kamu mau ketemu dia atau aku?" tanya Juan ketus.
"Wissss, ketus amat, Jun. Kayak bukan kamu aja. Mana Juan si pria ramah dan baik hati itu!" ledek Safira, bermaksud bercanda. Namun itu dianggap lain oleh Juan. Pria ini menganggap, Safira hanya menertawakan penderitaannya selama ini.
"Nggak usah basa-basi. Cepat katakan apa yang ingin kamu katakan. Aku mau pergi!" pinta Juan kembali ketus.
"Kok kamu gitu sih, Jun. Kayak nggak pernah terjadi apa-apa aja dengan kita. Emangnya kamu nggak kangen sama aku?" tanya Safira sembari berjalan mendekati pria yang ia suka ini.
Tak ingin terlihat masalah, Juan pin memundurkan langkahnya dan meminta Safira menjaga jarak.
"Kenapa sih, Jun? Aku ke sini untuk kamu. Untuk cinta kita. Apa kamu lupa kalo kita punya cerita yang belum usai. Aku nggak keberatan kok berbagi dengan Stella. Dan aku juga yakin, Stella pasti juga mau berbagi denganku," ucap Safira sok tahu.
Juan tertawa lirih, lucu saja. Bagaimana tidak? Pada kenyataannya Safira adalah wanita cerdas yang sok lugu. Tetapi bodoh, dia tidak memiliki hati yang besar seperti Stella.
Stella begitu ikhlas membiarkan dirinya bahagia bersama yang lain. Ia memilih pergi, agar tidak menganggu kehidupan cinta Juan. Sedangkan Safira, seakan tutup mata. Padahal jika di pikir lagi, Stella lah wanita yang lebih berhak atasnya.
"Apakah kamu ingin dengar sesuatu, Ra?" pancing Juan.
"Dengar apa sih, Jun? Aku tahu kok kalo kamu masih menyimpan rasa untukku. Dan kemarilah, rasaku untukmu juga masih utuh," jawab Safira jujur. Sejujur-jujurnya.
__ADS_1
"Kamu salah besar, Ra, jika menganggap aku masih memiliki rasa padamu. Cintaku dan hatiku hanya milik Stella. Milik dia. Kamu dengar!" sanggah Juan tegas. Kali ini Juan tak ingin kehilangan kesempatan untuk memperjelas perasannya. Sebab ia sudah yakin, bahwa pada kenyataannya seorang Safira sudah tak berarti apapun untuknya.
"Kamu bohong, Jun! Aku tahu kamu bohong!" suara Safira terdengar lantang.
"Untuk apa aku bohong? apa untungnya bagiku?" balas Juan tak ingin kalah.
"Dari sorot matamu, aku yakin jika masih ada aku di hatimu!" desak Safira penuh percaya diri.
"Kamu nggak usah ngarang, Ra. Sejak berita kematianmu itu, aku selalu meminta pada Tuhan untuk bisa mengikhlaskanmu. Dan kini aku sudah ikhlas, Ra. Walaupun pada kenyataannya itu hanyalah tipuan belaka. Entah apa maksud kalian mempermainkanku seperti ini?" Juan menatap nanar pada Safira. Memberi tanda wanita itu, bahwa dia merasakan sakit yang teramat sangat waktu itu.
"Maafkan aku, Jun. Maafkan keluargaku. Aku bisa jelasin kalo soal itu," jawab Safira yakin.
"Apa yang ini kamu jelaskan ha? Tentang statusku yang saat itu belum selesai kuliah. Bahkan kerja pun saat itu belum menetap. Kamu ingin bilang bahwa aku tak mungkin bisa memberimu makan 'kan? atau kamu memang sengaja ingin menjauh darimu. Dan memanfaatkan masalah ini?" cecar Juan kesal. Emosi tampak jelas memguasai pria ini, untuk saat ini.
"Kamu salah, Jun! aku dan keluargaku nggak seperti itu!" jawab Safira mulai meneteskan air matanya.
"Maaf, Ra! Sebaiknya kamu pergi. Tak baik seorang pria dan wanita berduaan di dalam ruangan seperti ini!" pinta Juan.
"Nggak, masalah kita belum selesai," jawab Safira, kembali wanita ini meneteskan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya.
"Jangan seperti ini, Ra. Siapa bilang kisah kita belum usai. Sejak keluargamu menolakku, saat itulah semua berakhir." Juan mulai enggan berdebat lalu ia pun mulai menjauh dari wanita itu.
"Kamu jahat, Jun. Aku menunggumu bertahun-tahun di Sydney. Aku berpikir kamu mencintaiku, aku berharap kamu akan mencariku lalu menjemputku. Kamu tega, Jun!" Safira mulai tak bisa mengendalikan diri.
"Andai aku tahu jika kamu masih ada! Hah, sudahlah Ra. Kita sudah berbeda. Kita sudah tak sejalan. Aku punya seseorang yang harus aku perjuangkan. Yang harus aku jaga. Pergilah, aku mohon!" pinta Juan. Antara tega dan tidak. Tetapi, Juan harus tegas. Harus memilih.
Juan tak ingin dilema lagi. Juan tak ingin melakukan kebodohan lagi. Ia sudah menetapkan hatinya, bahwa sejatinya Stella lah yang ia inginkan.
__ADS_1
Bersambung...
.