PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Diselesaikan Satu Persatu


__ADS_3

Zein datang dan langsung memeluk Vita. Tidak punya maksud apapun. Apa lagi maksud yang berhubungan dengan perasaannya. Zein hanya turut bersedih atas apa yang menimpa mantan adik iparnya itu.


"Kamu harus kuat, suamimu pasti sembuh. Dia akan baik-baik saja. Oke!" ucap Zein sembari mengelus punggung Vita. Sedangkan Vita sendiri, sama sekali tak membalas pelukan itu. Ia hanya menganguk pelan. Malas saja. Rasanya tenaganya sudah habis semalan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah Luis sembuh, bangun dan kembali bercanda gurau dengan dia. Ya hanya kesembuhan Luis, itu saja titik.


"Kamu sudah tidur?" tanya Zein.


Vita menggeleng.


"Kamu istirahat, biar bisa jagain Luis. Ingat Luis butuh kamu yang kuat. Butuh kamu yang sehat. Jadi harus semangat. Oke!" ucap Zein menguatkan.


Vita mengangguk. Menyetujui.


Zein melepaskan pelukan itu. Lalu tersenyum. Agar Vita kuat. Agar tak merasa sendiri. Di sini ada banyak orang yang menyayanginya.


"Abang sapa mereka dulu ya. Kamu kalo butuh apa-apa, bisa bilang ke abang. Oke!" Zein kembali tersenyum. Kali ini Vita mau membalas senyum itu, walau hanya sekilas.


Zein tahu, jika Vita hanya memaksakan senyum itu.


Zein tak ingin menimbulkan fitnah. Karena ia paham, jika Juan dan Rehan menyadari perasaannya pada wanita yang kini ada di depannya. Itu sebabnya, ia pun memutuskan untuk berpaling. Melangkah mendekati Juan dan Rehan. Karena tanpa sadar, ia belum menyapa mereka.

__ADS_1


"Sorry, Jun," ucap Zein, ia pun memeluk sahabatnya itu.


"Nggak pa-pa, Zein. Semua baik-baik saja. Tapi aku ingin menyampaikan sesuatu setelah ini. Karena sebaiknya kita memang membicarakannya. Agar masalah antara aku, kamu, Ste dan juga orang tuamu, tidak berkepanjangan, " ucap Juan santai, tapi terkesan serius.


"Oke, Jun. Soal itu aku ngerti kok. Gimana kalo kita cari tempat, biar enakkan ngobrolnya," ajak Zein.


"Re, thank you buat semuanya, ya!" ucap Zein ketika mengingat semua yang pernah Rehan lakukan untuknya.


"Oke! Siap Zein. Insya Allah, tujuan baik akan menjadi baik. Aku paham kamu kok," jawab Rehan. Bukan bermaksud menyindir. Tapi, memang dia harus berucap demikian. Agar Zein selalu berada dalam lingkaran tujuan baiknya.


"Oke, Insya Allah aku akan selalu berusaha untuk baik, Re. Terima kasih karena kamu selalu ngingetin aku." Zein memeluk Rehan. Rehan pun membalas pelukan itu.


Juan dan Zein menyetujui permintaan itu. Karena mereka memang berniat untuk segera menyelesaikan masalah ini. Sungguh, mereka tidak ingin masalah yang membelenggu kedua keluarga ini berlarut-larut. Terlebih masalah ini melibatkan anak di bawah umur.


Sebelum pergi, terlebih dahulu Juan meminta izin pada Vita dan juga meminta Renata untuk menjaga adik iparnya beserta sang suami. Dan Renata tidak keberatan soal itu. Karena sejatinya Renata juga tahu, masalah yang sedang menyelimuti Juan dan juga Zein.


Kantin rumah sakit adalah pilihan mereka bertiga. Selesai memesan apa yang mereka inginkan, Zein pun langsung membuka obrolan mereka.


"Jun, aku minta maaf. Bener-bener minta maaf. Aku nggak tahu kalo bokap masih ngotot dengan keinginannya. Demi Tuhan aku nggak tahu, Jun. Pasti Stella tertekan karena ini." Zein menatap mata sang sahabat. Agar sang sahabat percaya percaya bahwa dia tidak bohong.

__ADS_1


"Ya, Rehan sudah cerita. Aku hanya berharap, kamu segera jelasin masalah ini ke mereka. Agar nggak berlarut-larut, Zein," jawab Juan sesuai dengan apa yang ia dan Stella inginkan.


"Pokoknya, aku janji, setelah ini nggak akan ada lagi yang berani mengusik kalian. Aku nggak akan ngebiarin itu terjadi, Jun. Sebab kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan putriku juga. Kesehatan mental itu penting. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada keluargamu, Jun. Sungguh!" Zein kembali menatap Juan.


Sedangkan Juan sendiri bingung, sebenernya letak permasalahan mereka bukan pada Zein. Di sini, Zein sendiri adalah korban. Juan paham betul itu. Tetapi, karena Zein memiliki kaitan dengan masalah ini, mau tak mau Zein tetap di libatkan.


"Mari kita saling memperbaiki diri, Zein. Aku pun tak sesempurna yang kalian pikirkan. Aku dan Stella pun masih belajar menjadi orang tua yang baik. Untuk Beliana dan juga Arjuna," jawab Juan sembari tersenyum bahagia. Ya saat ini, Juan memang sedang berbahagia dengan kedua buah hatinya.


"Arjuna? Anak kedua lu namanya Arjuna. Keren amat!" celetuk Rehan.


"Ya, dia penerus bapaknya. Jadi harus gagah dan berani. Tampan seperti Arjuna," jawab Juan dengan senyum tampannya.


Mereka bertiga terkekeh. Bahagia saja, sebab, rasanya sudah lama sekali tidak bercengkrama seperti ini.


"Syukur Alhamdulillah... akhirnya masalah kalian bisa berakhir damai. Aku doakan rumah tangga lu dan Stella sellau dilimpahi kebahagiaan. Kalian selalu bahagia sampai kakek nenek. Dan buat elu, Zein. Semoga dapat jodoh yang bisa ngertiin sifat konyol elu. Arogan elu. Pokoknya yang bisa membawamu ke jalan yang lebih baik lah," ucap Rehan sambil menatap bergantian kedua sahabatnya.


"Buat elu juga, Re. Pokoknya makasih doanya," jawab Juan singkat.


"Aku ikut mengamini saja, Re. Masalah pasangan aku masih belum mau mikir. Kerjakan apa yang ada di depan mata saja. Aku nggak mau muluk-muluk. Takut kecewa lagi." Kali ini Zein terkekeh. Sedangkan Juan dan Rehan hanya tersenyum. Sebab mereka berdua tahu, tawa yang Zein keluarkan adalah tawa palsu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2