
Kabar duka datang dari pasangan Luis dan Vita, tanpa banyak orang yang tahu, ternyata kondisi Luis memburuk.
Beberapa obat yang dia konsumsi ternyata membuat ginjalnya bermasalah. Bukan hanya itu, Luis juga mengalami pembekakkan jantung.
Saat ini kedua pasangan tersebut telah berada di Singapura. Vita dengan setia menjaga dan merawat sang suami yang sangat ia hormati itu.
"Sabar ya, Vit. Semoga suamimu cepat sembuh," ucap Safira sembari memeluk sang sahabat yang saat ini sedang menangis di samping pria yang sudah tidak sadarkan diri beberapa hari ini.
Ya, saat mengetahui sang sahabat sedang di rundung duka, Safira dan snag suami langsung terbang ke Singapura untuk menjenguk dan membeikan dukungan moril untuk sang sahabat.
"Makasih banyak, Ra. Makasih untuk doanya. Makasih Pak Lutfi, sudah menyempatkan diri menjenguk suami saya," ucap Vita, sembari menghapus sisa-sisa air mata yang meluncur tanpa ia kendalikan itu.
"Sama-sama, Bu. Jangan sungkan!" jawab Lutfi.
"Kamu sama siapa di sini, Vit? Sendirian?" tanya Safira.
"Ya Kadang-kadang sendiri, Kadang-kadang bang Juan datang, kadang kak Ste, tante Sera. Baru sepuluh menit yang lalu kak Ste balik," ucap Vita.
"Ya, kita telat. Aku udah lama nggak ketemu sama kakakmu itu, nanti salamin yan Vit kalau beliau datang." Safira tersenyum.
"Ya, nanti kalau beliau datang aku pasti sampaikan. Oiya, kalian udah nggak berantem lagi kan?" tanya Vita.
"Nggaklah, kita udah baikan kok, lagi program ni... doain yan, Vit," ucap Safira sambil meraih tangan sang suami tercinta. Vita tersenyum sebab terlihat jelas bahwa kedua sahabatnya ini sedang terserang Virus bucin dan Vita ikut senang jika apa yang ia pikirkan benar adanya.
"Selalu, Ra, aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga kalian selau diberkahi dengan rezeki yang halal dan anak sholeh sholehah," jawab Vita dengan senyum super bahagianya.
"Aamiin, Vit. Pun denganmu. Semoga kamu dan Luis juga mendapatkan kebaikan dari Tuhan," balas Safira, sungguh-sungguh.
***
Virus cinta bukan hanya menyerang Safira dan juga Lutfi, virus cinta itu nyatanya kini sedang menyerang Zein dan juga sang istri.
__ADS_1
Zein sangat bahagia karena dokter yang menanganinya telah mengizinkannya meninggalkan kursi roda.
Keberhasilan Zein bisa meninggalkan kursi roda tersebut juga tak lepas dari kerja keras sang istri.
Zizi begitu telaten menjaganya, mengajarinya berjalan, bahkan setiap mau tidur dan bangun tidur, Zizi selalu memijat kakinya untuk terapi. Terkadang Zein sangat kasihan dengan istrinya itu. Bagaimana tidak? Zi sudah lelah bekerja, malah masih harus merawatnya. Bahkan Zi selalu menyempatkan diri pulang jika ada jam istirahat.
Beruntung rumah baru mereka dekat dengan rumah sakit, hanya sekitar lima menit berkendara. Zein memang sengaja mencari rumah yang dekat dengan tempat kerja sang istri, agar istrinya tersebut tidak kesusahan.
"Apa kamu tahu kalo hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku?" ucap Zein pada sang sitri yang saat ini sedang membuatkan segelas jus untuknya.
"Aku tahu, selamat ya... sehat terus, jangan sakit-sakit lagi," ucap Zi sembari melangkah mendekati sang suami.
"Ada kamu di sampingku, mana mungkin aku takut sakit," jawab Zein menggoda.
"Nggak boleh bilang begitu! Pokoknya aku mau kamu tetap sehat, bisa berjalan seperti sedia kala. Bisa pergi kemanapun yang kamu mau tanpa kursi roda dan tongkat itu lagi," ucap Zizi sambil membantu sang suami meminum jus buah buatannya.
"Makasih, Sayang. Aku nggak tahu harus ngomong apa lagi sama kamu. Aku bahagia memilikimu, Sayang," ucap Zein mesra.
"Apa? kamu panggil aku apa tadi. Nggak denger deh," canda Zein. Sungguh, pria tampan ini tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini begitu sabar menghadapinya, kadang juga selalu malu-malu di depannya menjadi super sweet itu.
Zi langsung mencubit manja perut sang suami, baginya candaan Zein sungguh membuatnya malu.
"Kok malu? Kenapa?" tanya Zein.
"Dah ahhh.... " Zizi tak ingin terlalu mengiraukan suami isengnya. Ia pun memilih masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri.
Tak ingin kehilangan momen romantis ini, Zein pun mengikuti langskh sang istri masuk ke dalam kamar.
"Ih ngapain ngikutin?" tanya Zizi sembari menghentikan langkahnya.
"Nggak! kan aku juga mau masuk kamar," jawab Zein alasan.
__ADS_1
"Oh, oke," jawab Zizi tanpa curiga bahwa sang suami punya akal licik untuk membawanya ke dalam malam romantis.
"Balik lagi ke rumah sakit nggak?" tanya Zien sambil duduk di sisi ranjang dan memperhatian Zi yang saat itu sedang membuka lemari, mungkin mau mengambil baju ganti.
"Nggak. Ini sudah pulang," jawab Zi.
"Oke!" Zein tersenyum licik. Sebab apa yang ada dipikirannya pasti jadi kenyataan. Zi pasti mau mandi dan zein berencana untuk ikut.
Benar saja, ketika Zi melangkah menuju kamar mandi, Zein pun segera beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti langkah wanita cantik itu.
"Eh mau ngapai?" tanya Zi.
"Mau ikut," jawab Zein sok lugu.
"Ikut? Ngapain?" Zi menatap heran ke arah sang suami, sepertinya ia memang belum menangkap rencana predator berwujud manusia ini.
"Nggak ngapa-ngapain, mau ikut mandi aja," jawab Zein masih dengan wajah sok lugu yang ia miliki.
"Aku mau berendam, nanti lama," jawab Zi masih berusaha menolak.
"Ya udah, aku ikut berendam." Zein masih gigih dengan usahanya ternyata.
Zi diam sesaat, namun tak memikirkan apapun. Tidak curiga dengan perangai Zein yang tampak lugu dan biasa-biasa saja. zi pun mengizinkan sang suami ikut mandi bersamanya. Toh biasanya kalau Zein mandi juga ia biasa membantu. Dan tidak terjadi apa-apa.
Lalu apa salahnya kalau dia mandi dan zein ikut. Toh tidak akan terjadi apa-apa ini, ya kan.
Masih belum menyadari akal bulus sang suami, Zi pun membiarkan Zein ikut masuk ke dalam kamar mandi. Sedangkan Zein tersenyum dalam hati karena istri lugunya ini sama sekali tidak curiga bahwa dia akan mengambil sesuatu yang indah darinya.
Dengan tenang dan tanpa berpikir macam-macam, Zi melepaskan satu peersatu pakaiannya. Hanya meninggalkan ********** saja. Lalu ia segera mengisi bak mandi untuk berendam. Menuangkan wewangian yang ia suka.
Sembari menunggu air yang mengalir dalam bathup penuh, Zi menyalakan shower untuk membersihkan diri. Sedangkan Zein hanya tersenyum sembari memerhatikan istri menggemaskannya itu.
__ADS_1
Bersambung...