PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Bimbang


__ADS_3

Tuhan memang maha baik. Stella melahirkan dengan selamat. Ketangkasan para petugas medis tidak diragukan lagi. Bersyukur mereka bertindak cepat dan tepat waktu.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Juan pada dokter yang membantu persalinan Stella.


"Bersyukur kalian membawanya tepat waktu. Bayinya selamat, ibunya juga tidak apa-apa. Tinggal menunggu pemulihan saja," jawab sang dokter sembari tersenyum.


"Terima kasih banyak atas bantuannya, Dok. Terima kasih banyak!" jawab Juan bahagia. Sangking bahagianya, pria tampan ini pun memeluk pria yang membantu persalinan sang istri.


"Sama-sama." Sang dokter menepuk pundak bapak dua anak ini.


"Bolehkah saya bertemu dengan istri dan anak saya, Dok?" tanya Juan sudah tak sabar, ingin segera melihat anak dan istrinya.


"Tentu saja boleh. Mereka sedang dibersihkan dan dirawat. Tunggu sebentar ya, nanti perawat yang akan menginfokan pada Bapak, di mana harus menemui mereka," jawab Dokter tersebut.


"Baik, terima kasih, Dok. Terima kasih banyak," jawab Juan lagi.


"Siap, Pak! jika tidak ada yang ditanyakan, saya mohon undur diri dulu. Mari!" ucap sang dokter berpamitan.

__ADS_1


Juan dan Sera pun segera mempersilahkan sang dokter untuk meninggalkan tempat ini. Sebab, terlihat sang dokter sedang terburu-buru.


Juan dan Sera terlihat tersenyum senang. Sebab tak terjadi sesuatu yang mengkhawatirkan pada Stella dan bayinya. Namun, tetap saja, mereka belum merasa lega karena belum melihat secara langsung.


"Selamat, Juan. Akhirnya kamu jadi seorang bapak juga," ucap Sera dengan senyuman penuh kebahagiaan.


"Makasih, Ma. Akhirnya jagoan, Juan lahir dengan selamat. Stella selamat juga. Yang terpenting adalah mereka selamat, Ma. Juan nggak minta apapun, Ma. Juan hanya mau tetap bisa melihat dan menjaga mereka," ucap Juan sungguh-sungguh.


Sera tersenyum sebab ia juga bahagia karena putrinya mendapatkan suami yang sangat menyayangi dan mencintainya sepenuh hati. Sera bersyukur untuk itu.


"Malam, Jun. Malam, Tan!" sapa Zein sedikit ragu, karena Sera menatapnya dengan tatapan tajam.


"Malam," jawab Juan malas.


"Gimana keadaan anak dan istrimu? Maafkan keluargaku, Jun," ucap Zein merasa kurang nyaman.


"Aku nggak tahu mesti bagaimana menjelaskan duduk permasalahan ini dengan keluargamu, Zein. Aku hanya meminta, demi kebaikan kita bersama, tolong jalan saling mengusik. Stella dan Berliana adalah milikku sekarang. Selama ini aku sudah cukup diam menghadapi kalian. Tapi maaf, Zein, jika keluargamu memang sengaja menghidupkan masalah ini, aku pun tak punya pilihan selain melawan untuk mempertahankan mereka," jawab Juan tak mau basa-basi lagi. Sebab baginya, Zein dan keluarganya sangat keterlaluan.

__ADS_1


"Kedatangan kami ke sini berniat baik, Jun. Kami ke sini untuk meminta maaf padamu. Aku berjanji, keluargaku tidak akan mengusik ketenangan kalian lagi. Aku berjanji, Jun. Serius. Karena aku juga tahu ini juga untuk kebaikan Berliana," jawab Zein.


"Kenapa kamu nggak ngejelasin ini dari awal pada keluargamu, Zein? Kenapa harus nunggu Stella seperti ini dulu baru kamu bertindak? Stella hampir mati karena stres, Zein. Kamu.... Sudahlah, nggak ada gunanya lagi kita berdebat. Aku hanya minta, tolong! Jangan dekati keluargaku lagi. Izinkan kami hidup tenang. Izinkan aku menjaga dan mendidik putriku dengan baik. Semua ada waktunya, Zein. Aku mohon selesaikan masalahmu dengan keluargamu dulu. Baru kita bicarakan urusan kita!" pinta Juan sungguh-sungguh.


Zein tak punya pilihan lain selain menuruti keinginan sang sahabat. Mau bagaimanapun saat ini, Stella dan Berliana adalah hak dan kewajiban Juan.


"Aku benar-benar minta maaf, Jun! Tolong maafkan keluargaku!" pinta Zein tulus.


Juan sendiri juga masih belum bisa menjawab permintaan Zein. Karena ia tetap ingin ketegasan, untuk anak dan istrinya.


***


Di lain pihak, Vita tak bisa tidur memikirkan syarat yang di berikan oleh keluarga Luis. Sungguh syarat tersebut menurutnya sangatlah berat. Karena anak itu adalah sesuatu yang tak bisa di minta maupun di tolak. Vita hanya takut tak bisa memenuhi permintaan itu.


Padahal, tujuannya menikah dengan Luis, ia ingin menikah seumur hidup. Entahlah, Vita dilema.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2