PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
ADA YANG PATAH HATI


__ADS_3

"Makasih, Honey. Makasih karena telah memberiku kesempatan untuk membuktikan cintaku," ucap Luis mesra.


Vita tersenyum dan menganggukan kepalanya. Meskipun sebenarnya, ini juga berat untuk Vita. Tetapi, Vita selalu mengingat nasehat sang ibunda. Bahwa jodoh yang datang jangan ditolak. Bisa jadi itu adalah sumber kebahagiaan.


Bagi wanita yang terpenting bukan mencintai. Tetapi dicintai. Wanita akan menjadi ratu jika jatuh ke dalam pelukan pria yang mencintainya. Pun sebaliknya. Maka, ambilah keputusan yang bijak. Jangan hidup dengan pria yang hanya mau memafaatkanmu. Tetapi hiduplah dengan pria yang menginginkanmu dengan cintanya.


Saat ini mereka berdua berada di bawah langit bebas. Berdua, menatap bintang-bintang yang dengan setia menjadi saksi bisu ungkapan cinta mereka.


"Aku bahagia, Vit. Sungguh! Pokoknya Terima kasih!" ucap Luis lagi.


"Sama-sama, Luis. Tapi jujur aku takut dengan keluargamu. Bagaimana dengan mereka?" ucap Vita mengutarakan kekhawatirannya.


"Keluargaku siapa, Vit? Mama dan papa sudah berpulang. Hanya ada oma. Kamu kan kenal baik dengan beliau. Sebelum aku ke sini, aku sudah meminta restu beliau. Jangan takut! Beliau sudah merestui kita!" jawab Luis jujur.


Vita sedikit terkejut dengan kabar yang baru saja ia dengar. Bahwa kedua orang tua sang kekasih telah berpulang. "Luis, please jangan bercanda. Om dan tante .... kamu serius?" Vita menatap iba pada sang kekasih.


"Iya, Vit. Mereka sudah berpulang. Aku sungguh-sungguh. Mereka terlibat kecelakaan pesawat dua tahun silam." raut wajah Luis terlihat sedih.


"Maafkan aku, Luis. Sungguh aku tidak tahu," jawab Vita jujur.

__ADS_1


"Iya, nggak pa-pa. Semua sudah ada yang mengatur, Vit. Hidup mati bahkan jodoh. Iya kan?" Luis tersenyum kecut.


"Kamu benar, Luis. Udah jangan sedih lagi. Percayalah! Aku akan menemanimu. Mari kita melangkah bersama menjalani sisa umur kita, hemmm," ajak Vita mesra.


Luis menatap kosong ke arah mata memandang. Sedangkan Vita, dengan perhatian yang ia miliki ia memeluk mesra sang kekasih. Berharap hati Luis menjadi tenang karena pelukannya.


"Dua bulan lagi oma memintaku kembali ke Indo, Vit. Gimana, kalo kita menikah dan tinggal di sana? Apakah kamu mau?" tanya Luis dengan tatapan mesra.


"Kemanapun kamu pergi, aku ikut," jawab Vita mantap.


Tak ada yang lebih membahagiakan dibanding ini. Gadis yang sangat ia impikan kini dengan suka rela mau mencintainya. Mau menikah dengannya. Mau berbagi cerita dengannya. Mau melangkah bersama, menuju masa depan yang indah.


"Sebelum menikah, nggak mau," jawab Vita manja.


"Why?" Luis mengerutkan kening.


"Aku tahu kamu buaya," canda Vita.


Luis tertawa, sebab jawaban sang kekasih memang terdengar lugu namun menggemaskan.

__ADS_1


"Aku nggak senakal itu, Honey," Luis menarik pinggang Vita dan mendekap nya dengan penuh cinta.


"Boong, la ini apa kalo nggak nakal?" Vita mengelus manja lengan sang kekasih.


"Ini nggak nakal, Honey. Ini sayang," jawab Luis tak kalah manja. Mereka kembali saling melemparkan senyum.


Kemesraan pun terjalin di sini, Luis tak ingin kehilangan moment berharga ini. Ia pun menyatukan kening mereka. Dengan cinta, dengan kasih sayang. Lalu Luis memantapkan hatinya untuk mencium gadis pemilik hatinya itu. Sebenarnya Vita ragu, namun ia tak mungkin menolak. Ia tak ingin membuat kecewa pria yang selama ini setia mencintai dan menantinya.


Vita percaya, setiap jodoh adalah kebaikan. Itu sebabnya ia pun menyambut bibir pria yang mulai bisa diterima oleh hatinya ini.


Mereka berciuman mesra. Saling memangut lembut. Saling membalas dengan cinta. Mencium dengan hati Dalam dan lebih dalam. Semenit kemudian, Luis pun melepaskan ciuman itu. Pun dengan Vita. Mereka telihat saling senyum malu. Sebab ciuman pertama itu, nyatanya sanggup membuat mereka berdebar bahagia.


Sayangnya kebahagiaan yang mereka rasakan tidak serta merta menjadikan orang-orang di sekeliling mereka bahagia. Nyatanya apa yang mereka lakukan saat ini menyakiti hati seseorang. Hati seseorang yang kini menjadi penonton. Hati seseorang yang tidak menyangka bahwa dirinya akan melihat adegan yang sukses membuat jantungnya serasa dihujam benda tajam.


Dia adalah Zein. Pria yang tanpa sadar telah menaruh hati pada gadis itu. Pada Vita. Zein sama sekali tidak menyangka bahwa gadis yang hampir setiap hari dibicarakan oleh sang big bos adalah Vita. Gadis yang juga membuatnya kembali merasakan cinta.


Zein tak ingin kehancuran hatinya disaksikan oleh dua sejoli yang sedang dimabuk asmara itu. Pria ini pun memilih mundur. Menghindar dari kedua orang yang berhasil membuatnya terluka itu.


Zein menangis tersedu dalam langkah kakinya yang tak tahu akan membawanya ke mana. Pria ini tak sanggup berpikir. Zein menyesali keputusannya menyusul Luis ke tempat itu. Harusnya tadi dia telpon saja. Harusnya dia tadi kirim pesan saja. Dari pada melihat kenyataan sepahit ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2