PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
DIA BUAH HATIKU


__ADS_3

Dua hari sudah Zein tertidur. Keadaannya sungguh mengkhawatirkan. Beberapa kali detak jantungnya berhenti, lalu timbul lagi. Membuat orang-orang disekitarnya merasa khawatir. Termasuk Juan dan Rehan.


"Apa kamu nggak pengen ngabarin Ste, Jun? Siapa tahu Zein masih nungguin Ste. Mungkin dia mau minta maaf," ucap Rehan mengingatkan.


"Hussst, kamu ini! Zein nggak akan ke mana-mana. Nggak akan terjadi apa-apa padanya." Juan terlihat gelisah.


"Ya kan kita nggak tahu, Jun! Hanya jaga-jaga aja. Aku pun tak ingin dia pergi secepat ini. Dia memang pernah melakukan kesalahan. Tetapi dia juga berhak memperbaiki diri," balas Rehan lagi.


Juan menatap Rehan. Pikirannya membenarkan ucapan sang sahabat. Mau bagaimanapun, Zein memang berhak mendapatkan maaf dari Stella. Juan sendiri pun juga sudah memaafkan apa yang pernah sahabatnya lakukan padanya. Pun pada Stella.


"Ya udah deh, aku kabari Stella kalo gitu," ucap Juan.


"Begitu lebih bagus, Jun. Kalo bisa babymu bawa juga. Siapa tahu denger celotehan dia, Zein jadi semangat bangun," ucap Rehan memberi saran.


Kali ini Juan agak sedikit egois. Pria ini melirik kesal pada sang sahabat. Ada ketidakrelaan dalam hatinya. Jika sampai Berliana bertemu dan dekat dengan Zein. Entahlah! Jua hanya tak suka saja. Baginya Berliana adalah haknya, miliknya. Tidak ada seorangpun yang boleh menyentuhnya. Apa lagi memilikinya


"Matanya biasa aja, Bro. Kan aku cuma kasih saran!" ucap Rehan lagi.


"Tahu ah! Stella doang yang boleh ketemu, Berliana nggak! Apaan!" jawab Juan ketus. Kesal saja dengan apa yang diusulkan oleh sang sahabat. Padahal usul tersebut tidak mengandung maksud apa pun. Rehan hanya ingin membuat Zein tenang. Lalu sembuh dan bisa menatap masa depannya lagi.


Namun, itu tidak berlaku untuk Juan. Baginya Berliana adalah putrinya. Dia yang menjaga dan merawatnya selama ini. Zein tidak berhak, secara lahir maupun batin. Juan tidak akan pernah rela. Sampai kapanpun.


Sepertinya Rehan pun paham. Ia tak ingin memaksa jika sang sahabat tak ingin. Mau bagaimanapun Juan sendirilah yang berhak mengambil keputusan. Mau bagaimanapun selama ini hanya Juan lah yang memperjuangkan Berliana. Menjaga bayi itu, bahkan sebelum bayi itu menjadi apa-apa.


***

__ADS_1


Stella shock mendengar kabar tentang apa yang terjadi pada mantan suaminya. Ia pikir Zein hanya menghadapi kebangkrutan. Bukan berjuang melawan maut seperti ini.


"Mam, Mami masih di situ?" tanya Juan.


"Ya," jawab Stella lemah.


"Mami mau ke Jakarta?" tanya Juan di sela-sela panggilan teleponnya.


"Menurut Papi baiknya bagaimana?" tanya Stella.


"Kalo cuma Mami yang ketemu Zein boleh. Tapi tidak dengan Berliana, Papi nggak suka. Dia putriku," jawab Juan. Mungkin memang terdengar egois. Namun begitulah Juan, segala sikap baik buruknya.


Stella tersenyum. Ia paham bahwa sejatinya Juan cemburu. Mungkin jika Zein tidak dalam situasi seperti ini, dia juga tak akan diizinkan dirinya untuk bertemu dengan Zein.


"Mami siap-siaplah, sore ini Mami berangkat. Hati-hati ya, nanti Papi jemput!" ucap Juan.


Stella kembali tersenyum. Ternyata dicemburui dengan cinta itu memang indah, sangat-sangat membahagiakan. Seperti yang mereka rasakan saat ini.


"Baiklah, Suamiku. Aku mencintaimu," jawab Stella mesra.


Di sana Juan terlihat tersenyum. Ia begitu bahagia memiliki Stella yang begitu mencintai dan menghormatinya sebagai seorang suami. Terlebih, Stella juga setia padanya sampai detik ini.


"Aku juga mencintaimu, Istriku, sangat," ucap Juan tak kalah serius. Mereka berdua pun sama-sama tersenyum. Hati mereka serasa berbunga-bunga. Seperti kembali merasakan indahnya cinta.


"Ya udah, Papi tutup telponnya," pinta Stella.

__ADS_1


"Mami aja lah," balas Juan.


"Loh kok, Mami? Kan yang telpon Papi," jawab Stella. Wanita ini kembali tersenyum sebab apa yang mereka lakukan seperti unfaedah. Tapi menyenangkan.


"Pokoknya, Mami. Papi nggak mau nutup," ucap Juan lagi.


Astaga, ternyata Juan adalah pria dewasa yang manja. Menutup telepon saja tak mau. Seperti tak rela. Begitulah hubungan percintaan antara Juan dan Stella. Selalu saling mengisi dan mencintai. Bahkan mereka selalu berusaha untuk membuat hubungan mereka adalah hubungan yang sehat dan terbaik.


***


Di sudut ruang yang lain, Laila sedang sibuk menunjukkan foto-foto masa kecil Safira dan saudara kembarnya. Beberapa kali Laila juga terlihat menjelaskan mengapa mereka sampai terpisah.


"Sebenarnya ibumu itu anak orang kaya. Namun mereka tak menyukai papamu, karena beliau bukan anak orang ada. Satu tahun setelah melahirkanmu, papa dan ibumu bercerai. Ayahmu mendapatkanmu dan ibumu mendapatkan abangmu. Sedangkan Mama adalah sahabat baik papamu..." Laila menghentikan ceritanya. Sebab hatinya kembali merasakan sakit akibat kebohongan yang dilakukan oleh Laskar.


"Safira paham kenapa Mama begitu membenci Papa. Namun, kita sendiri harus memahami Ma. Jika melupakan cinta pertama tak semudah membalikkan telapak tangan. Fira hanya berharap, Mama bisa memaafkan papa!" ucap Safira sembil mengelus lengan wanita yang membesarkannya ini.


"Sebenarnya Mama paham mengapa papamu seperti itu. Kamu benar, Mama memang harus mengikhlaskan papamu. Karena itulah yang terbaik," ucap Laila mulai bisa tenang.


"Mama jangan merasa sendiri, ada Fira yang akan selalu ada untuk Mama," ucap Safira sembari membantu Laila menghapus air matanya.


"Terima kasih, Putriku. Apakah kamu nggak mau kembali ke ibu kandungmu?" tanya Laila serius.


"Ibuku adalah dirimu, Ma. Percayalah!" jawab Safira sembari memeluk erat Laila. Tak ada yang lebih indah dari ini bagi Laila. Sebab, gadis cilik miliknya tetap menjadi miliknya. Laila berjanji, sampai kapanpun ia tak akan melepaskan Safira baik untuk Laskar, Widya apa lagi Agus. Safira adalah miliknya. Tak ada seorangpun yang boleh merebut gadisnya itu dari pelukkannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2