PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Keputusan Penting


__ADS_3

"Eh, tunggu Ma. Menurut Mama, Lutfi itu gimana?" tanya Laskar, langsung mengurungkan niatnya untuk melakukan konfirmasi melalui sambungan telepon.


"Dia baik, sopan, santun juga, bicaranya tidak kasar. Sholeh, rajin sholat, ulet, jujur juga. Pokoknya pria idaman deh Pa!" jawab Laila jujur, sesuai kaca mata yang ia pakai selama untuk memerhatikan pekerja barunya itu.


"Jadi menurut Mama, cocok buat dijadiin mantu?" tanya Laskar serius.


"Bolehlah! jangankan mantu, kalo dia mau sama Mama! Mama aja mau sama dia," jawab Laila dengan candaan khasnya.


Spontan Laskar pun menaruh ponselnya dan menatap geram pada sang istri.


"Maksud, Mama apa? Kurang yang tadi pagi? " tanya Laskar kesal.


"Ampun, Pa. Sudah, Pa. Cukup, Pa cukup! Ampun pokoknya!" jawab Laila sembari terkekeh.


"Ini bagaimana ini? Mama jangan ketawa terus. Kalo kita kelamaan, mereka bakal di laporin ke polisi, Ma. Kita lebih repot lagi!" ucap Laskar mulai kembali ke mode serius.


"Udah, Pa. Nikahkan saja! Dari pada anak kita sendirian terus. Siapa tahu punya suami, dia manjanya berkurang. Biar belajar dewasa. Nggak nakalin abangnya terus. Udah gitu kita dapet bonus cucu lagi, Pa. Cakep tahu Pa anak Lutfi!" jawab Laila menyarankan.


Lutfi diam sejenak. Lalu ia pun kembali mengungkapkan apa yang ia rasakan.


"Jadi Papa mesti gimana?" tanya Laskar masih berusaha meminta pendapat sang istri. Jujur, perihal pernikahan, Laskar takut salah mengambil keputusan. Sebab ini menyangkut masa depan sang putri.


"Jangan takut, Pa! Lagian Papa kan yang kenal duluan dibanding Mama. Kalo secara pribadi, secara kaca mata seorang ibu, Lutfi sih bisa jadi mantu yang baik," jawab Laila yakin.


"Oke, baiklah kalo begitu. Doakan Papa ya Ma, nggak salah ngambil keputusan," ucap Laskar, mencoba memantapkan hatinya.


Laila mengelus lengan sang suami. Pertanda ia juga mendukung keputusan ini. Sebab ia sendiri juga telah satu cinta dengan sikap Lutfi selama bekerja pada mereka.

__ADS_1


Merasa telah mendapat dukungan. Laskar pun mengambil ponselnya dan langsung melakukan panggilan Video call kepada Darkan. Yang tak lain adalah ayah Lutfi.


"Assalamu'alaikum, Jo. Piye iki?" tanya Darkan langsung pada inti dari masalah yang sedang mereka hadapi.


"Mereka kenapa to, Dur? Ko bikin keributan begitu. Bikin malu orang tua saja." Laskar pura-pura marah.


"Pa, Fira nggak nglakuin apa yang mereka tuduhkan. Demi Tuhan, Pa!" ucap Safira berusaha membela diri. Terlihat jelas getaran bibir wanita ayu ini. Bahwa saat ini dia sangat-sangat takut.


"Nggak nglakuin kok sampek ketangkep begitu. Kamu pikir Papa semudah itu percaya. Sudah kamu diam saja!" balas Laskar tak mau mengalah. Baginya pembelaan Safira tak berarti apa-apa.


"Jadi gimana, Jo. Piye iki solusine?" tanya Darkan tak kalah kesakitan dengan dua sejoli ini.


"Wis ngene ae, Dur. Aku tahu kok kalo mereka pacaran. Iki istriku saksinya. Mereka sering chating-chatingan. Istriku pernah baca chat mereka. Mereka saling sayang kok, Dur. Mungkin takut sama saya, atau sama istri. Piye kalo dikawinke wae!" jawab Laskar dengan logat Jawa khas seperti biasa. Seperti ketika bercengkrama dengan Darkan. Karena mereka memang bersahabat sejak muda.


"Anakku dudo e, Jo. Anakmu gelem tenan a?" tanya Darkan. Sedikit ada keraguan di sana.


"Ya sudah kalo begitu. Enaknya gimana ini?" tanya Darkan lagi.


"Sebentar kami pesan tiket dulu. Titipin dua anak kurang ajar itu pada warga. Biar mereka nggak kabur. Nanti kita nikahkan mereka di rumahku saja. Minta beberapa warga sebagai saksi. Biar mereka percaya, kalo kita sebagai orang tua juga mau anak kita bener. Sekalian, Dur. Tulung urus surat-surat nikah mereka. Biar mereka sah secara agama dan hukum!" jawab Laskar, kali ini dia serius dan mulai bisa mematapkan hatinya.


Mendengar solusi yang diberikan sang ayah tidak sesuai harapan, tentu saja Safira berontak. Gadis ini marah semarah-marahnya.


"Pa, kenapa sih Papa nggak pernah percaya, Fira? " tanya Safira dalam isak tangisnya.


"Bukan Papa nggak percaya, Putriku. Kamu sudah berbuat maka kamu harus bertanggung jawab. Jangan lari dari tanggung jawab. Sudah nggak usah nangis!" jawab Laskar. Tidak marah, namun bagi Safira itu adalah tekanan yang luar biasa.


Safira enggan menjawab apa yang papanya katakan. Ia terlanjur membenci semua orang. Termasuk kedua orang tuanya yang tak paham akan perasaannya saat ini.

__ADS_1


Safira benci pada orang-orang yang sekarang menatapnya hina. Terlebih pada pria yang saat ini tertunduk lesu di sampingnya.


Sesuai perintah yang dilayangkan oleh Laskar, akhirnya warga pun mengurung Lutfi dan juga Safira di kamar yang ada di kontrakan Lutfi. Di sana beberapa warga bergantian menjaga. Sampai kedua orang tua Safira datang untuk menikahkan mereka berdua.


***


Di sisi lain, Zein merasa heran dengan tingkah kedua orang tuanya yang sedang terburu-buru. Seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu.


"Ada apa Ma, Pa? Kenapa udah rapi jam segini? Mau ke mana?" tanya Zein pada kedua orang tuanya.


"Kebetulan kamu ada. Ini Papa mau ngomong, adikmu bikin masalah sampai digrebek warga. Kata warga, dia dan Lutfi pasangan mesum. Sekarang Papa mau pulang ke Batam. Mau melihat mereka. Sebenarnya apa sih yang mereka mau, bikin malu saja," jawab Laskar pura-pura tak tahu apa-apa. Padahal dia mendorong anaknya ke jebakan batman milik para warga.


"Kok bisa, Pa. Gimana kronologinya?" tanya Zein. Heran, bingung plus tidak percaya tentunya. Sebab menurutnya, sifat dan sikap Lutfi yang ia kenal, rasanya mustahil kalau asistennya itu melakukan hal serendah itu.


"Papa sendiri juga kurang paham. Kamu mau ikut balik ke Batam atau nggak? Atau tunggu di sini, tunggu kabar dari kami saja?" tanya Laskar.


"Eh, Pa! Gimana sih? Adiknya nak menikah masak abangnya nggak datang. Gimana sih!" bisik Laila sembari menarik tangan sang suami.


"Eh iya, Papa lupa. Habis mendadak begini. Papa kan jadi lingkung, Ma!" jawab Laskar spontan.


"Menikah? Menikah bagaimana?" tanya Zein semakin tak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Jadi begini, Zein... " Laskar pun tak ingin menutupi apapun dari sang putra. Terlebih Zein adalah kakak kandung Safira. Kalau dia tidak ada, yang berkewajiban menikahkan Safira adalah putranya tersebut. Mau tak mau Zein harus tahu yang sebenarnya.


"Tapi kan mereka nggak nglakuin, Pa. Kasihan kalo dipaksa kawin." Zein merasa tidak rela jika sang adik menikah dengan pria yang tidak dicintainya.


"Hist, feeling Papa, Safira jatuh pada pria yang tepat. Papa percaya, kalo Lutfi pasti bisa bikin anak gadis Papa bahagia. Iya kan Ma," ucap Laskar yakin. Sedangkan Laila pun sama. Wanita yang membesarkan Safira ini juga yakin. Jika pilihan mereka kali ini adalah pilihan yang tepat. Itu sebabnya, ia pun dengan suka rela mendukung keputusan suaminya tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2