PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
JALAN TERBAIK


__ADS_3

Melihat wajah pucat Stella, seketika Rehan paham bahwa Juan pasti melakukan sesuatu pada wanita cantik itu. Rehan tak mau tinggal diam. Ia pun ingin langsung beranjak dari duduknya dan ingin memberi pelajaran pada sang sahabat. Namun, Stella melarang. Ia tak ingin sang suami semakin gelisah.


"Jangan, Re! Aku mohon!" pinta Stella memohon. Sedangkan Salsa yang tahu bagaimana Juan hanya bisa diam.


"Nggak bisa, Ste. Dia menyakitimu!" jawab Rehan kesal.


"Sudah, nggak pa-pa. Biarkan saja, mungkin dia butuh waktu untuk memahami perasaannya," jawab Stella pelan, masih berusaha menghadang Rehan. Agar pria tersebut tidak membuat perhitungan dengan sang suami.


"Maafkan Juan, Ste! Kamu benar, dia hanya butuh waktu untuk memahami keadaan ini. Untuk memahami hatinya!" ucap Salsa.


"Iya aku mengerti. Semoga suamiku mengerti, bahwa ini juga sulit untukku," jawab Stella lembut.


"Astaga Ste! Harusnya kamu jelasin ke dia kalo kamu juga belum lama tahu kalo Safira masih hidup!" Rehan kembali berkacak pinggang. Ingin rasanya ia masuk ke dalam kamar itu dan menghajar si bodoh itu. Seandainya Stella tidak menghadangnya. Juan pasti sudah babak belur dibuatnya.


"Sudah, Re. Aku udah jelasin. Entahlah, kenapa dia sesensitif ini," jawab Stella bingung.


"Makanya biarkan aku masuk, biar aku bantu jelasin ke dia!" pinta Rehan kekeh.


"Sudah nggak usah, mari kita pulang!" ajak Stella sembari berusaha membalikkan tubuh Rehan.


"Astaga, Ste. Beneran dah ini aku gemes banget sama dia!" Rehan menatap pintu kamar itu. Ingin rasanya


"Hatimu itu sebenarnya terbuat dari apa sih, Ste?" tanya Rehan, masih dengan wajah kesal.


"Sudah jangan dibahas. Aku lelah, Re! Maukah kamu membantuku sekali lagi?" tanya Stella. Kali ini air mata kesedihan yang sedari tadi ia tahan, tak mampu lagi ia bendung. Butiran-butiran bening itu kini meluncur begitu saja. Membasahi pipi mulus wanita ayu itu.


"Kamu pengen aku nglakuin apa buat kamu, Ste. Katakan saja!" jawab Rehan lembut.

__ADS_1


"Tolong antarkan aku kembali ke apartemen!" Stella menghapus air matanya.


"Iya, ayuk!" Rehan mempersilakan Stella berjalan di depannya.


Setelah berpamitan dengan Salsa, mereka pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tinggal Salsa. Stella berharap, dengan kepergiannya dari tempat itu, mampu membuat Juan sadar. Bahwa dirinya tidak sebersalah itu. Stella masih memikirkan perasaannya. Jika seandainya pun, Juan menceraikannya dan meminta kembali pada Safira, Stella ikhlas. Karena pada dasarnya cintanya pada Juan tulus. Stella hanya ingin kebahagiaan Juan. Hanya itu.


Di dalam mobil, Stella masih belum bisa mengungkapkan apa yang terjadi padanya ketika di kamar Juan. Wanita ayu ini masih berusaha sekuat tenaga agar tak menceritakan pertengkarannya dengan pria yang menikahinya itu.


"Ste!" ucap Rehan.


"Ya!" jawab Stella lemah.


"Sejak kapan kamu tahu kalo Fira masih hidup?" tanya Rehan.


"Aku tadi kan sudah bilang kalo aku ketemu dia pertama kali di bandara. Pas jemput Vita. Ia itu sahabat Vita selama di Sydney. Aku kan pernah lihat wajah dia di figura milik Juan. Jadi aku memberanikan diri bertanya padanya, belum lama Re. Baru sekitar tiga harian," jawab Stella jujur.


"Nggak pa-pa, Re. Sungguh aku nggak pa-pa. Aku baik-baik saja. Oiya, maaf aku nggak bisa nepatin janjiku pada Zein. Tolong nanti kalo dia sadar bilang ya, dapat salam dari Ste. Suruh cepet sembuh, ya!" ucap Stella sembari tersenyum. Ia hanya ingin menunjukkan pada Rehan, bahwa dia baik-baik saja. Atau lebih tepatnya dia sedang berpura-pura baik-baik saja.


Rehan memahami itu. Pria ini pun melirik sinis. Stella belum berubah. Wanita ini selalu bisa berpura-pura. Selalu bisa berpura-pura baik-baik saja. Padahal Rehan tahu pada kenyataannya dia hancur.


"Apa rencanamu setelah ini, Ste?" tanya Rehan.


"Aku mesti pulang ke Batam dan mengambil barang-barangku, Re. Juan memintaku pergi!" jawab Stella setengah terbata.


Terang saja, jawaban Stella membuat Rehan shock. Ternyata, Juan bukan hanya bodoh tetapi juga gila. Berani sekali dia mengusir Stella dari kehidupannya.


"Kamu serius, Ste?" tanya Rehan memastikan.

__ADS_1


Stella hanya menjawab pertanyaan itu dengan anggukan. Sepertinya ia sudah tak sanggup berucap. Dada Stella serasa amat sangat sesak. Jika boleh jujur, ingin rasanya ia cepat sampai rumah dan berdiam diri di bawah guyuran shower. Agar rasa sakit yang ia rasakan saat ini bisa larut dengan guyuran air tersebut. Meskipun, semua orang akan menganggapnya gila. Tetapi itu adalah cara ampun wanita ini untuk melupakan masalahnya.


"Sebaiknya kamu tetap di tempat, Ste. Mau bagaimana pun kamu adalah istri. Jangan melangkah sedikitpun dari rumah kalo suami marah. Nggak boleh!" ucap Rehan menasehati.


"Tapi dia memintaku pergi, Re!" bela Stella.


"Aku tahu, tapi tetap saja. Kecuali kalo dia sudah bersikap lebih jauh dari itu. Seperti Zein waktu itu, kamu boleh meninggalkannya. Kamu ngerti kan Ste maksudku," ucap Rehan lagi.


Stella diam. Namun ia mengerti apa yang dimaksud oleh Rehan.


***


Di sudut ruang yang lain ada Safira yang tak kalah resah. Dia sudah berjanji pada Stella untuk tidak mengganggu kehidupan rumah tangga mereka. Safira juga tak menyangka, ia akan bertemu dengan Juan dalam keadaan seperti ini.


"Tenangkan dirimu, Putriku. Maaf jika Mama nggak bisa bantu kamu," ucap Laila, mencoba menenangkan sang putri.


"Aku nggak mau jadi duri dalam rumah tangga orang lain, Ma. Aku sudah mengikhlaskan Juan bahagia bersama yang lain. Demi Tuhan!" Safira menghapus air matanya.


"Iya, Mama tahu kamu. Semoga saja Juan mau mengerti alasan papa dan mama menyembunyikanmu. Bukan kami tak sayang pada kalian, tapi kami ingin yang terbaik untuk kalian." Laila mengelus rambut Safira.


"Tapi kenapa kalian harus bilang aku mati, Ma?" tanya Safira sedikit menyesal.


"Itu bukan tanpa alasan, kan mama udah bilang waku itu," jawab Laila.


Tak ada perbincangan lagi. Safira sibuk dengan perasaannya sendiri. Sedangkan Laila berdiri menatap putra sambungnya yang sampai saat ini belum sadarkan diri.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2