PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Chapter 55


__ADS_3

Hujan mengguyur kota Jakarta dengan derasnya. Zein merebahkan tubuhnya di ranjang kamar apartemennya. Matanya menatap lepas ke langit-langit kamar tersebut.


Sedetik kemudian, petir terdengar menggelegar. Membuat Zein tersentak dari lamunan.


Di detik berikutnya, tiba-tiba saja Zein teringat Zi yang pernah datang menemuinya dalam keadaan basah kuyup. Hanya untuk mengantarkan makanan kesukaannya yang sudah terlanjur ia beli. Yaitu sate ayam ponorogo. Ya ... itu adalah makanan khas Indonesia yang paling ia suka. Dan makanan khas itu, Zi lah yang memperkenalkan makanan tersebut kepadanya.


Zein ingat benar, malam itu, Zi datang dengan masih memakai seragam kerjanya. Memakai stelan berwana putih, aroma tubuhnya juga aroma rumah sakit. Zein, yang awalnya benci dengan aroma tersebut, tiba-tiba saja pria itu menyukainya. Suka dengan aroma yang keluar dari rumah sakit yang keluar dari tubuh Zi. Bukan hanya aroma tubuh, Zein juga suka pembawaan dan senyum tulus wanita itu.


"Ih, ngapain malam-malam ke sini? Hujan-hujan pula. Astaga, Zi aku bilang nggak usah, nggak bener ni anak!" Zein tersenyum sambil melihat Zi mengelap rambutnya yang basah.


"Dih... dasar teman laknat, udah dibawain makan malah ngomel-ngomel nggak jelas. Anda kan tahu ini demi siapa? Hih, menyebalkan sekali," jawab Zi seraya meraih tas ranselnya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


"Enak aja, ganteng gini dibilang laknat. Mana ada cowok ganteng begini laknat," jawab Zein lirih, lalu tanpa diminta, Zein pun membuka kantong kresek yang berisi makanan yang dibawa Zi untuknya.


Zein yang saat itu masih setia dengan kursi rodanya, langsung menjalankan kursi tersebut untuk mengambil peralatan makan di rak piring yang telah di desain khusus untuknya, agar dia tidak kesusahan mengambil barang-barang yang ia butuhkan.


Lima menit kemudian, Zi sudah keluar kamar mandi dengan pakaian barunya. Ya, Zi memang selalu prepare jika kemana-mana. Tas ranselnya selalu ada baju ganti ke mana pun ia pergi.


"Sini aku bantu!" ucap Zi sambil meminta piring yang ada di tangan Zein.


"Makasih sahabatku yang baik dan tidak sombong," canda Zein dengan senyum sok tampannya.


"Dih ngrayu, ini ... kalo nggak terlanjur aku beli, aku pun ogah hujan-hujan naik motor ke tempat mu ini. Udah gitu aku udah janji lagi, nasib-nasib," ucap Zi, Zein tahu kalo Zi hanya bercanda.


"Dih, ya wajar lah. Cowoknya nggak bisa jalan, ya cewek lah yang ngapelin," ucap Zein membalas candaan Zi.


"Mimpi kau, ogah aku pacaran sama kamu. Cari cewek lain sana. Bukankah kamu suka yang punya bodi aduhai." Zi tersenyum.

__ADS_1


"Kata siapa? aku suka yang kecil kek kamu," balas Zein sembari menatap dada Zi.


Zi yang menyadari kenakalan Zein tentu saja segera menutup dadanya dan memukul kesal pria nakal itu. Sedangkan Zein hanya tertawa, sebab menurutnya Zi sangat mengemaskan.


"Dasar gila!" umpat Zi kesal.


"Aku memang gila, tapi kamu suka kan berkawan denganku?" canda Zein.


"Terpaksa!" Zi cemberut.


"Hahaha, biarin." Zein tertawa.


"Dah ah, mari makan. Aku lapar, hari ini pasiennya rewel-rewel, bikin laper," ucap Zi sedikit cemberut.


"Kenapa?" tanya Zein sembari menyuap makanan tersebut ke dalam mulutnya.


"Ya, yang nggak mau jawab kalo ditanya itu kan?"


"Ya... dia tadi ngamuk. Nggak mau terapi. Nggak mau bisa jalan lagi. Pokoknya di putus asa lah intinya. Jadi aku bantuin orang tuanya ngrayu dia buat terapi. Buat semangat. Aku yakinin dia, bahwa jangan terpuruk hanya karena cewek. Masih banyak kok cewek diluar sana yang nungguin dia. Ya, kan? Aku bilang bahwa, semua sudah ada yang ngatur, baik itu jodoh, maut atau pun rezeki. Jadi nggak usah risau akan hal itu. Dan aku bersyukur akhirnya dia mau terapi, tapi maunya cuma sama aku. Besok-besok maunya juga sama aku. Dia udah bilang nggak mau terapi kalo nggak sama aku. Akhirnya orang tuanya memohon sana aku untuk ngedampingin dia, bahkan mereka nawarin aku buat jadi perawat pribadi anaknya," jawab Zi jujur.


Seakan tak Terima dengan penawaran itu, Zein pun menghentikan kunyahanya dan bertanya pada Zi, "Lalu kamu terima tawaran itu?" tanya Zein ketus.


"Pengen sih, gajinya jauh lebih besar dari rumah sakit," jawab Zi lagi.


"Nggak.... nggak... apaan! kalo kamu mau gaji gede, sini kerja sama aku aja. Aku nggak izin kamu kerja sama dia. Pria bodoh itu paling licik, dia pasti punya niat terselubung mau ngedeketin kamu," jawab Zein tak terima, kesal. Sebab ia tahu, pria yang menjadi pasien Zi itu terlihat licik sehingga sukses membuat Zein kesal.


"Dih... kamu kenapa ngegas begitu?" Zi menatap aneh ke arah Zein.

__ADS_1


"Nggak, pokoknya kalo kamu sampai resign dari rumah sakit, terus kerja sama dia. Awas aja!" ancam Zein serius.


"Astaga! Ini orang kenapa, ngegas nggak jelas. Astaghfirullah.... istighfar, Pak. Lagian nggak mungkin juga aku kerja sama dia. Ya bayangin aja, kalo kerja ama dia, misalnya dia setahun sembuh. Pasti aku dipecat dong, terus aku mau kerja apa? Iya kalo jodohku datang cepat, kalo jodohnya datangnya lambat, gimana nasib hayati, Bang. Pegangguran nggak jelas, nggak punya tempat tinggal. Secara hayati yang cantik ini tidak punya orang tua. Nggak punya rumah. Tempat tinggal aja ngandelin di kasihani bsama pihak rumah sakit, duh miris banget nasib hayati, Bang," jawab Zi dengan senyum menyebalkannya, seperti biasa. Sedangkan Zein hanya melirik gemas, senang, karena Zi selalu bisa menghidupkan suasana.


Gadis unik yang tidak pernah mengeluh dengan keadannya. Gadis manis yang tak pernah ia dengar menyesali perjalanan hidupnya. Ya, Zi memang datang pada Zein dengan segala kelembutan, kehangatan dan apa adanya. Bagi Zein, itu adalah keistimewaan Zi yang tidak dimiliki oleh orang lain.


Sedetik kemudian, Zein pun tersadar dari lamunan. Ternyata bayangan Zi dan apapun yang pernah wanita itu lakukan untuknya sangat tulus dan tanpa pamrih. Bahkan ketika ia menyakiti Zi. Zi sama sekali tidak marah. Zi sama sekali tidak mengeluarkan sifat barbarnya. Zien tidak tahu apakah sebenarnya Zi memiliki rasa atau tidak. Karena Zi begitu pandai menutupi segalanya, agar semua terlihat baik-baik saja.


Sayangnya tidak dengan Zein, saat ini terlihat jelas bahwa dia merindu. Merindukan keceriaan wanita itu. Merindukan celetukan-celetukan lugu wanita itu. Merindukan makanan-makanan yang sering Zi bagikan kepadanya. Zein merindukan detail perhatian yang Zi berikan.


Sungguh, seandainya dia tidak terlanjur mengikat janji dan komitmen kepada cinta masa lalunya, mungkin Zein akan meminta wanita itu kembali.


Dan kenapa Zein tidak meminta Zi kembali, karena ia takut tak bisa adil. Tak bisa selalu menjaga perasaan Zi. Zein tidak mau Zi selalu terluka karenanya.


Namun demikian, Rindu yang ia rasakan pun tak bisa ia sembunyikan. Bayangan Zi tampak nyata menghantuinya. Zein ingin menjerit marah.


"Zi, kamu ngapain sekarang? Kamu lagi sama siapa sekarang?" gumam Zein ketika teringat wanita yang selalu sukses membuatnya super nyaman itu.


Untuk menghilangkan sedikit rasa rindunya, Zein pun mengambil ponsel miliknya. Lalu membuka satu persatu galeri ponsel tersebut. Membuka lembar demi lembar foto-fotonya ketika bersama Zi.


Di sana ada foto saat ia dibantu oleh Zi terapi. Ada beberapa foto saat dia dan Zi makan bersama. Lalu ada juga ketika mereka main game bersama. Dan yang paling mengesankan adalah foto ketika mereka menikah. Sebab akur dari pernikahan itu sangat dramatis.


Zein sendiri juga tidak mengangka, bahwa candaan yang sering mereka berdua lontarkan ternyata menjadi kenyataan.


Zein dan Zi menikah. Meskipun pada akhirnya mereka memilih untuk berpisah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2