PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
PERTANDA


__ADS_3

Hari telah berganti minggu. Minggu berganti bulan. Namun, Juan masih belum bisa menemukan keberadaan wanita yang sangat ia cintai itu. Membuatnya semakin putus asa dan semakin malas melakukan apapun.


Seperti hari ini. Pria tampan ini hanya duduk termenung di sofa sambil menatap kosong ke arah jendela kantornya. Sesekali air matanya menetes begitu saja. Seperti seseorang yang sedang dilanda ketakutan. Ya, sejatinya Juan memang sedang dilanda ketakutan.


Namun, anehnya ketakutan dalam hatinya menghadirkan rasa aneh dalam tubuhnya. Seperti ada yang salah dalam otaknya. Juan yang sekarang, mudah tersinggung. Tak bisa melihat kesalahan orang lain. Tidak bisa bersabar. Pokoknya sangat berbeda dengan Juan yang selama ini orang-orang dekatnya kenal. Dan yang lebih aneh, Juan tidak bisa makan nasi. Tidak mau mencium bau badan orang lain. Apa lagi yang bercampur parfum. Juan sangat-sangat sensitif dengan itu.


"Siang, Bos!" sapa Gani, mengagetkan.


Juan menoleh kesal. Sebab menurutnya Gani tidak sopan. Masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Maaf, Bos, saatnya anda masuk ke ruang rapat!" ucap Gani memberi tahu.


Juan kembali menoleh pada Gani. Masih dengan mimik muka tak suka. Ya, Juan memang tak menyukai ini. Sebab, di dalam ruangan tersebut pasti banyak orang dan memiliki aroma parfum yang berbeda-beda. Yang nantinya akan membuatnya pusing, mual dan pastinya membuatnya muntah.


"Kamu saja yang pergi! Aku pantau dari monitor. Aku nggak mau ketemu mereka," jawab Juan ketus.


"Tapi, Bos, mereka menginginkan anda hadir. Anda tahu kan ini sangat penting bagi kelangsungan proyek kita. Anda tahu bagaimana ibu Sera sebagai pemegang saham terbesar di proyek ini. Belum ibu Stella. Saya tidak berani ambil resiko, Bos," jawab Gani, jujur dan apa adanya.


Mendengar nama sang istri di sebut, tentu saja membuat Juan bersemangat.


"Apakah istriku datang?" tanya Juan gembira.

__ADS_1


Gani jadi serba salah. Bagaimana bisa menjelaskan ini pada pimpinan anehnya ini.


"Tidak, Bos. Ibu tidak datang. Hanya ada perwakilan ibu Sera. Tetapi dia juga nggak mau kasih tahu di mana istri anda berada," jawab Gani.


Juan hanya mendengarkan ucapan sang asisten. Rasanya percuma saja bertanya apa lagi berdebat dengan para orang-orang yang sengaja hendak menjauhkannya dari sang istri.


"Aku nggak mau dekat-dekat mereka," ucap Juan lagi.


"Memangnya kenapa, Bos?" tanya Gani.


"Mereka semua yang ada di ruangan itu bau, nggak ada satupun yang wangi," jawab Juan dengan lirikan marah pada Gani.


Bukannya tersinggung, Gani malah tertawa. Menurutnya, bos tampannya ini sangat lucu.


"Bukan, Bos, bukan. Om ini lucu sekali. Orang parfum yang mereka pakai itu nggak ada yang murah. La ya masak iya bau. Bos ini, ngarang deh," jawab Gani sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, serah kamu aja. Aku mau pulang. Bodo amat, sakit kepalaku cium bau aneh-aneh begitu," ucap Juan sembari beranjak dari duduknya dan memakai masker serta jasnya.


Jika begini, Gani tak punya kekuatan untuk mencegahnya. Hanya saja, ia merasa bosnya ini sangat-sangat aneh.


***

__ADS_1


Paris...


Zein telah bertekat memulai kariernya dari nol. Saat ini, pria tampan ini bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dibidang perhotelan dan pariwisata sebagai asisten Direktur di sana.


Bos tempatnya bekerja sangat baik dan ramah. Sehingga Zein menyukai pekerjaanya.


Meskipun sekarang dia bukan bos lagi, Zein bersyukur karena masih bisa mencukupi kebutuhan hidupnya dari hasil jerih payahnya sendiri. Tidak menggantungkan hidupnya pada siapapun lagi. Jujur, Zein trauma ketika ia bekerja pada keluarganya. Sebab tanpa ia sadari, pada kenyatannya ia hanya di manfaatkan.


"Zein, apakah kamu sudah menyiapkan keperluanku selama di Belanda?" tanya Luis, nama bos di mana Zein bekerja.


"Sudah, Pak! Semua sudah saya siapkan. Termasuk hadiah untuk nona. Sesuai dengan apa yang anda minta," jawab Zein tegas.


"Oke terima kasih, doakan aku ya, dia menerima lamaran ku kali ini," ucap Luis dengan senyum tampannya.


"Selalu, Pak. Saya doakan lamaran anda diterima oleh nona." Zein pun ikutan tersenyum.


"Oke, kamu boleh pulang," ucap Luis memerintahkan.


Tak ada lagi yang Zein tunggu. Tugasnya sudah selesai, hari juga sudah mulai gelap. Zein telah diizinkan pulang, tetapi entah mengapa ia tidak senang.


Zein gelisah tanpa sebab. Seperti ada yang memberatkan pikirannya. Namun, anehnya ia tak tahu apa yang sebenarnya membuatnya resah seperti ini.

__ADS_1


Berkali-kali pria ini mengelus dadanya. Detak jantungnya berpacu lebih kencang. Seperti memberinya pertama. Namun, sayang lagi-lagi ia tidak bisa memahami keinginan hatinya. Tak bisa memahami apa yang membuatnya resah. Sehingga Zein hanya bisa pasrah. Tentang apa yang mungkin terjadi padanya.


Bersambung...


__ADS_2