
Sesampainya di rumah, Safira langsung mengajak Lutfi masuk ke kamarnya. Sedangkan Naya ia titipkan pada pengasuhnya.
Tak ada perbincangan yang berarti di sana. Safira langsung masuk ke kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk sang suami. Menyiapkan handuk dan baju ganti pula untuknya. Sedangkan Lutfi hanya berdiri di depan pintu kamar mandi. Memerhatikan apa yang istrinya lakukan.
"Udah anget ni, Mas, airnya. Silakan mandi," ucap Safira mempersilahkan.
Lutfi tak menjawab ucapan itu. Tanpa basa-basi, ia pun langsung masuk dan mengunci pintu kamar mandi itu. Menyalakan shower hingga air juga membasahi tubuh Safira.
Safira bergeming. Diam tanpa berucap apapun. Meskipun jujur, saat ini dia deg degan.
Lutfi melucuti pakaiannya sendiri satu persatu. Hanya tersisa ****** ***** saja. Sedangkan Safira, ia mencoba membalikan tubuhnya pelan, berlawanan arah dengan Lutfi. Agar tidak melihat anggota tubuh pria itu.
Namun sayang, pergerakan Safira terbaca oleh Lutfi. Dengan lembut, pria ini pun memeluk dari belang sang istri. Dan menarik tubuh ramping itu tepat di bawah guyuran shower.
"Mas," ucap Safira lembut.
"Hemm!"
"Nanti Naya nangis," ucap Safira mengingatkan, namun Lutfi tahu, jika sang istri hanya ingin menghindarinya. Ia tahu jika Safira hanya ingin mengelak darinya.
__ADS_1
"Sebentar saja, Honey. Temenin aku mandi. Nggak lama kok. Aku kangen sama kamu. Tolong beri aku waktu meluapkan rindu ini. Please!" tangan Lutfi mulai nakal, menarik pinggang Safira agar lebih dekat dengannya.
"Fi, jangan sekarang!" tolak halus Safira. Namun sayangnya, Lutfi seolah tak dengar penolakan itu. Ia mengecup kening sang istri. Hingga sukses membuat Safira mengelinjang gemetar.
Takut, malu dan entahlah. Perasaan Safira bercamiue aduk. Berberapa kali Safira berucap jangan. Beberapa akali Safira berucap sudah. Tetapi, kecupan- kecupan yang Lutfi berikan seperti sebuah peluru yang telah meluluh lamtahkan petahannya.
Beberapa saat, Safira ikut larut dengan alur yang Lutfi ciptakan. Namun, ketika tangan Lutfi sampai ke dadanya, Safira langsung tersadar. Bahwa menurutnya ini tidak benar. Safira masih ingin mempertahankan harga dirinya.
Safira tak ingin terlalu mudah jatuh ke dalam pelukan pria ini.
Dengan kasar, Safira pun mendorong Lutfi, hingga tubuh pria itu menabrak tembok.
"Sudah kubilang jangan ya jangan!" teriak Safira marah. Bukan hanya itu, dengan penuh amarah, wanita ini juga menghadiahkan sebuah tamparan keras di pipi pria itu.
Rindu yang menggebu, yang ia pendam selama berada di Amerika, seperti sia-sia. Sebab rindu itu telah terbalas luka.
Safira meninggalkannya sendirian di kamar mandi, tanpa kata, tanpa ucapan maaf, bahkan Safira meninggalkannya penuh amarah.
Tentu saja, apa yang Safira lakukan itu sangatlah menyakitkan baginya. Bagaimana tidak? Harga diri Lutfi terluka. Jiwanya malu. Pikirannya apa lagi. Seakan mereka semua tidak lagi menyatu dalam raganya. Semua ngeblank dan meninggalkannya tanpa kata. Lutfi hanya diam, diam dan diam. Bergeming tanpa ingin melakukan apapun.
__ADS_1
Hanya menangis pilu. Hanya itu yang bisa ia lakukan.
Menyesal, ya... seperti itulah rasa yang saat ini bersarang di hati pria ini. Seharusnya dia sadar diri. Seharusnya ia memahami setiap penolakan sang istri selama ini. Seharusnya ia mampu menahan diri. Seharusnya ia berkaca siapa dirinya. Sebelum berani jatuh cinta pada wanita yang pada kenyataannya tidak menginginkannya.
Tiga puluh menit berlalu, Lutfi masih berdiri di bawah guyuran shower itu. Tak lama berselang, terdengar suara tangis Naya. Lutfi pun tersadar, bahwa dia sudah terlalu lama di kamar mandi. Dengan cepat, ia pun segera menyelesaikan ritual mandinya dan memakai handuk. Lalu ia pun keluar kamar seakan tidak terjadi sesuatu.
Safira juga terlihat sudah berganti pakaian. Sedang berusaha mendiamkan Naya yang sedang rewel.
Lutfi sendiri belum berani mendekati mereka berdua. Sebab ia hanya mengenakan selembar handuk. Ia takut kembali dinilai mau berbuat mesum pada Safira. Lutfi takut Safira marah lagi. Lutfi hanya ingin tetap menjaga ketenangan hubungan ini saja
Selesai menganti pakaiannya, Lutfi pun langsung mendekati mereka berdua dan meminta Naya dari wanita yang telah menolaknya itu.
"Sini, mau sama yah?" ucap Lutfi sembari meminta Naya dari gendongan wanita itu.
Naya yang terlihat rindu dengan sang ayah, tentu saja langsung diam dan mau menerima uluran tangan Lutfi.
Dengan penuh kasih sayang, Lutfi pun mendekap sang putri dalam pelukkannya. Sedangkan Safira sendiri, memilih meninggalkan kamar pribadinya. Tentu saja tingkah sang istri ini membuat Lutfi tak enak hati. Masak iya yang punya kamar malah keluar kamar karena ada dia.
Tak ingin membuat masalah dengan Safira, Lutfi pun memutuskan menyewa sebuah kos-kosan milik salah satu temanya. Agar tidak terlalu dinilai menganggu kehidupan Safira.
__ADS_1
Bersambung...
Komen jangan lupa, Like jangan ketinggalan... Makasih π₯°π₯°π₯°π₯°