
Lutfi mengusap kasar wajah penuh kekhawatiran. Tentu saja dia khawatir. Khawatir kalau apa yang diucapkan sang istri menjadi kenyataan. Jika itu sampai benar terjadi, maka tamatlah riwayatnya.
Tak ingin tenggelam dalam nestapa, ia pun segera mencari ponselnya. Tentu saja ia pun tak ingin ketinggalan berita. Ia berniat mencari informasi, apakah Zein pergi ke Singapura setelah mendapatkan kabar darinya. Atau pria itu memang sejatinya hanya sibuk dengan pekerjaan barunya.
Secara, saat ini, brand milik kakak iparnya itu sedang di minati oleh pecinta produk tas dalam dan luar negeri. Seperti ibu-ibu dan remaja.
Beruntung panggilan teleponnya langsung di sambut oleh sang kakak ipar. Lutfi pun tersenyum senang.
"Ada apa, Fi?" tanya Zein di seberang sana.
"Ah, enggak, Bang. Lutfi hanya mau tahu kabar Abang aja," jawab Lutfi berbohong.
"Oh.... aku baik," jawab Zein singkat.
"Syukurlah kalo Abang baik. Oiya, Bang, soal resepsi gimana?" pancing Lutfi, siapa tahu dari pancingan tersebut ia bisa menyimpulkan apakah benar jika Zein saat ini telah terpancing oleh rasa yang ia miliki untuk wanita itu.
"Emmm, soal resepsi ya... soal itu nanti aja deh. Aku masih repot!" jawab Zein, menolak secara halus.
Deg ....
Lutfi merasakan signal keanehan di sini. Namun, ia masih berusaha menepis signal itu. Berdoa, agar apa yang saat ini mengeluti pikirannya sirna.
"Oh, oke lah. Oiya, abang sekarang di mana?" tanya Lutfi lagi.
"Ada di rumah. Kenapa sih? Tumben nanya-nanya nggak jelas!" jawab Zein sedikit sewot.
"Eittt, jangan sewot begitulah, Bang. Saya kan hanya nanya. Soalnya Kak Zi kami tanya abang lagi di apartemen. Kan kami jadi merasa eneh, kenapa abang di apartemen nggak ajak istri. Istri ditinggalin sendirian di rumah. Kan saya jadi ngrasa aneh, Bang!" jawab Lutfi sedikit bercanda.
__ADS_1
"Aneh kenapa? Aku biasa aja kok!" jawab Zein lagi.
"Ya, gimana ya, Bang. Abang ngilang gitu aja, nggak ada kabar. Nggak pulang ke rumah. Malah abang ke apartemen. Memangnya rumah abang apartemen apa? Kan di rumah ada istri, Bang!" ucap Lutfi, mengintimidasi. Membuat Zein tak suka dan bahkan cenderung kesal padanya.
"Siapa kamu berani melarangku?" tanya Zein mengeluarkan sifat kolotnya. Sifat yang selama ini belum pernah Lutfi lihat.
Ya, Sifat angkuh dan kolot Zein. Sifat yang sebenernya paling menyakitkan untuk orang-orang di sekitarnya.
"Nggak, Bang. Saya hanya mau mengingatkan. Abang jangan main api. Kasihan Kak Zi. Bukankah dia yang nge dampingin Abang di saat susah!" ucap Lutfi berusaha mengingatkan.
"Main api? Main api apa sih? Aku baik-baik saja," jawab Zein, ketus.
"Syukurlah kalo abang baik-baik saja. Saya senang dengarnya. Ya udah Bang kalo abang baik-baik saja. Saya doakan rumah tangga abang dan kak Zi langgeng sampai kakek nenek," ucap Lutfi, lalu tak berapa lama kemudian, Lutfi pun berpamitan untuk mengakhiri panggilan telpon tersebut.
Tak ada ketenangan di hati Lutfi. Bagaimana tidak? Tampak jelas dari jawaban-jawaban Zein yang kurang bersahabat. Lutfi yakin jika pasti terjadi pergolakkan batin di hati pria tersebut. Dan ini semua tidak lepas dari mulut lemesnya. Lutfi merasa sangat menyesal.
***
Entahlah, ini jahat atau tidak, yang jelas saat ini, keinginan Zein untuk memiliki Vita semakin kuat.
Hari telah berganti malam, Zein sama sekali tidak peduli di mana istrinya berada. Padahal ini sudah jam delapan malam. Seandainya Zi piket siang atau pagi, pasti sudah ada di rumah. Lalu ke mana dia sekarang? Sayangnya Zein tidak memikirkan itu.
Zein tetap asik dengan laptop dan beberapa cemilan yang ada di depan meja kerjanya. Masih bersikap seolah dia adalah bujangan. Bersikap seolah dia adalah lanang. Bahkan untuk sekedar telpon dan bertanya di mana Zi berada pun dia enggan. Ya, begitulah Zein jika sifat tidak pedulinya mulai hadir. Zein sangat-sangat cuek.
***
Di sisi lain, Zi yang saat ini sedang berada di apartemen sang suami, sedikit merasakan keanehan. Bagaimana tidak? Apartemen terlihat sangat rapi. Seperti tidak ada seorangpun yang habis pakai. Biasanya kalau habis ada yang menyewa atau pinjam, pasti Zi lah orang pertama yang di minta Zein untuk membawa asisten rumah tangga yang membantu mereka di rumah datang ke tempat ini dan membersihkannya.
__ADS_1
Sungguh, Zi merasakan kenjanggalan di sini. Aneh saja, sikap Zein sungguh-sungguh berubah.
Tak ingin terus diselimuti rasa penasaran, Zi pun berjalan-jalan mengelilingi ruangan apartemen tersebut. Entalah, kenapa ia ingin melakukan itu.
Hanya ingin saja...
Sambil memikirkan langkah apa yang akan ia ambil, Zi pun berniat merapikan baju-baju Zein yang ada di lemari. Hanya iseng saja. Sebab boleh dikatakan bahwa saat ini dia sangat merindukan suaminya itu. Merindukan senyuman dan kehangatannya. Mengingat sudah lima hari mereka tidak bertemu dan tidak saling berkirim kabar.
Zi begitu asik merapikan baju-baju dan mengelap beberapa sepatu milik sang suami.
Merasa belum lelah, Zi pun berpindah ke rak-rak buku milik Zein. Di menit berikutnya, tak sengaja Zi menjatuhkan satu buku yang berukuran cukup tebal. Entah buku apa itu.
Namun, di detik berikutnya... Zi menemukan sesuatu yang sangat menggores hatinya. Ia melihat sebuah foto sang suami dan seorang perempuan. Perempuan yang belum pernah ia lihat, tetapi sangat mirip dengan sang mantan istri. Tetapi berbeda. Zi yakin wanita yang ia lihat di dalam foto saat ini bukanlah mantan istri Zein. Hanya mirip... ya hanya mirip.
Pelan-pelan Zi membalik foto tersebut dan di balik foto itu bertuliskan sebaris kata-kata cinta. Yang begitu dalam dan penuh emosi. Di sana, Zi menangkap bahwa Zein pasti sangat mencintai wanita itu. Sebab di baris terakhir, Zein menuliskan sebuah kalimat bahwa sampai kapanpun, posisi wanita itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Tak terasa butiran bening menyembul keluar dari pelupuk mata wanita cantik ini. Tentu saja, pertanyaan demi pertanyaan menyerangnya. Kemungkinan demi kemungkinan pun menghantuinya. Bagaimana tidak? Saat ini, beberapa hari ini, sikap Zein berubah padanya. Tentu saja ini tidak menutup kemungkinan itu bahwa bisa saja, sang suami kembali memikirkan wanita yang ada di dalam foto tersebut.
Zi menghapus air mata yang tak kunjung berhenti itu. Lalu ia pun mengembalikan foto tersebut di tempatnya semua. Tak ada niat sedikitpun di hati wanita ini untuk mempertanyakan foto tersebut..
Walau tidak dipungkiri bahwa ia tertekan dengan adanya sesuatu yang sangat tidak ia duga itu.
Pertanyaan tentang apakah Zein benar-benar mencintainya atau tidak, tiba-tiba saja mengganggu pikirannya. Bisa jadi, Zein menikahinya hanya karena kasihan, atau.... ah entahlah.
Jika benar Zein menikahinya hanya rasa kasihan, tentu saja Zi tidak berani berharap lebih dengan hubungan ini. Namun, penyesalan itu tetap ada. Menyesal, kenapa Zein harus memberinya kenyamanan kalau memang niatnya hanya membantu atau hanya kasihan semata.
Bersambung....
__ADS_1