
Berliana terus menangis seolah mengerti apa yang diresahkan sang ibu. Bagaimana tidak resah? Beberapa kali ia menghubungi sang suami. Namun Juan tak mau menjawab panggilan teleponnya. Membuat Stella khawatir. Khawatir kalau terjadi apa-apa pada Juan. Mengingat saat ini rumah tangga mereka sedang tidak baik-baik saja dan Zein, si pria jahat itu masih ada di sekitar mereka.
Sembari menimang Berliana, Stella terus menunggu, di depan jendela kamarnya. Berharap Juan akan segera datang.
Tak tahan berada dalam penantian, akhirnya Stella pun mengirim pesan teks pada Juan. "Papi di mana? Berliana nangis terus, Pi," tulis Stella dalam pesan teksnya. Berharap Juan segera pulang jika membaca pesen teks darinya. Terlebih ketika Stella menyebut nama putri mereka.
Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Pesan yang Stella kirimkan hanya dibaca. Tak dijawab sepatah katapun oleh Juan.
Kesal dengan perlakuan Juan, akhirnya Stella pun ikut menangis. Menangis bersama Beliana. Menangis takut pada Juan. Menangis khawatir, jika terjadi sesuatu pada sang suami. Lalu menangis sedih, karena nasib pernikahannya di ujung tanduk. Entahlah, saat ini perasaan Stella sangat tertekan, seperti berada di dalam penjara. Tidak bisa bebas meskipun hanya ingin mengungkapkan rasa. Stella hanya tak ingin kehilangan Juan. Sepertinya ia tak akan sanggup jika itu terjadi. Stella terlanjur mencintai Juan.
Beberapa menit kemudian, tangisan Stella berhenti. Seseorang yang ia nantikan tiba-tiba ada di belakangnya. Dalam keadaan baik-baik saja dan Stella bersyukur untuk itu.
"Mana putriku!" pinta Juan dengan ekpresi datar. Namun, aura dingin menyelimuti kamar ini. Stella menatap sang suami sekilas. Lalu tanpa menjawab, ia pun menyerahkan Berliana pada Juan.
"Papi sudah makan?" tanya Stella. Juan menggeleng.
"Mau makan?" tanya Stella lagi. Juan kembali menggeleng.
Entahlah, seperti tidak semangat.
__ADS_1
"Maafin aku ya, Pi!" ucap Stella. Juan hanya diam. Menatap Stella sekilas, lalu memilih pergi meninggalkan kamar ini. Membawa serta Berliana bersamanya.
Sedih, sungguh hati Stella tersayat perih. Sedih atas perlakuan Juan yang seakan tidak menginginkannya lagi. Juan hanya mau bersua dengan Berliana. Bercanda gurau dengan Berliana. Sedangkan dengannya, Juan lebih memilih diam dan dingin. Dengarkan dengannya Juan seakan tak ingin
Tentu saja, perlakuan itu menghadirkan tanya. Mengapa Juan memperlakukannya seperti ini? Mengapa tidak marah dan mengucapkan sumpah serapahnya saja? Mengapa Juan memilih bersikap dingin? Sungguh ini lebih menyakitkan, dibanding perlakuan Zein padanya. Seandainya boleh memilih, Stella lebih memilih Juan mengeluarkan amarahnya dibanding mendiamkannya. Rasanya seperti tidak dihargai. Rasanya seperti tidak dianggap ada.
Namun, sekali lagi Stella tidak berani protes. Ia hanya bisa menerima perlakuan itu. Sebab, Stella menyadari bahwa ia juga bersalah. Bersalah karena tidak langsung memberi tahu Juan tentang siapa mantan suaminya. Tentang siapa sebenarnya ayah kandung Berliana.
***
Dua minggu berlalu.....
Bukan itu yang membuat Stella sedih. Juan terlihat tidak bersemangat kerja. Uring-uringan meskipun bukan padanya. Sering melamun dan Stella tidak tahu alasan Juan kenapa jadi sering melamun seperti . Ingin rasanya ia bertanya, namun alasannya tetap sama. Stella tidak berani. Jangankan bertanya, menatap mata Juan saja dia tidak berani.
Harapan Stella hanya Dion. Ya, hanya pada Dion, ia bisa mencari tahu masalah apa yang sebenarnya yang sedang menghadang rumah tangga antara dirinya dan Juan. Kalau hanya masalah ketidakjujurannya, Stella yakin Juan bisa memaklumi. Tetapi feeling Stella mengatakan bukan itu masalah yang sebenarnya membuat Juan bersikap seperti ini.
Malam semakin larut, tetapi Juan belum juga pulang. Stella semakin khawatir sebab teleponnya tidak diangkat oleh Juan. Stella gelisah, ingin rasanya ia keluar rumah mencari keberadaan sang suami. Namun, niatnya terhalang oleh keberadaan Berliana. Stella tak mungkin meninggalkan bayinya cuma dengan pengasuh. Nanti masalah lagi jika Juan mengetahuinya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara deru mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Stella sedikit lega, sebab ia tahu bahwa yang ia dengar adalah suara mobil sang suami. Dengan cepat, Stella pun keluar kamar. Menuruni anak tangga untuk menyambut kedatangan sang suami.
__ADS_1
Sayangnya kebahagiaan yang ia rasakan terbalas oleh pemandangan yang membuat hati Stella terbakar. Juan dalam keadaan mabuk dan dipapah oleh seorang perempuan yang sangat seksi. Stella menatap nanar pada situasi itu. Sungguh jika seandainya Juan tidak mabuk, Stella pasti akan melampiaskan kecemburuannya. Juan sungguh keterlaluan.
"Siapa kamu?" tanya Stella pada wanita berpakaian seksi itu.
"Aku kekasihnya, siapa kamu berani nanya-nanya?" balas wanita berpakaian seksi itu.
Juan yang malas mendengarkan perdebatan mereka, langsung meminta sang wanita untuk tidak meladeni Stella dan mengajak wanita itu masuk ke dalam kamar tamu rumah mereka.
"Jangan dengarkan wanita cerewet itu. Ayo kita bersenang-senang saja, Sayang. Yuk main yuk!" ceracau Juan sambil tersenyum senang.
"Papi! Main? Main apa maksud Papi?" tanya Stella geram.
"Dasar anak kecil, main itu lah. Iya kan, Sayang. Yuk udah yuk, aku udah nggak tahan ni!" ucap Juan lagi, kacau... seperti orang mabuk pada umumnya.
Kemudian, wanita itu pun menuruti keinginan Juan untuk membawanya ke kamar tamu. Stella yang kesal akhirnya naik pitam.
"Papi, apa-apaan ini. Lepasin suamiku nggak ha! lepasin!" pinta Stella sembari mencoba memisahkan mereka berdua. Namun sayang, Juan malah berbalik marah padanya dan memintanya untuk melepaskan wanita itu. Bukan hanya itu, Juan juga kekeh, mengatakan jika Stella tak berhak ikut campur urusannya.
Bersambung...
__ADS_1
Kira-kira, Juan kenapa yaπ€π€π€π€