PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
Tak Rela


__ADS_3

Rehan tidak mengerti, tapi ia sengaja tak mau menerima keputusan Zein. Entah mengapa, Rehan tidak rela jika Zein menyerah pada cintanya. Vita memang galak, judes, jutek kadang-kadang juga kasar. Tapi, bersama Zein, dia begitu lembut dan perhatian. Vita memang marah dan mungkin sakit pada Zein, tapi gadis itu mau memaafkan. Karena dia tahu, Zein hanya khilaf. Dia sungguh belum memahami apa yang sebenarnya ia pikirkan.


Vita mau mengerti, paham, bahwa sebenarnya, Zein bukan pria sepicik itu. Mungkin pengetahuan dan keyakinannya tentang suatu hal lah yang menjadikan pria itu berpikir bodoh dan kolot.


Sekali lagi, tak ada yang sempurna di dunia ini. Semua harus melewati proses. Semua harus melewati berbagai hal. Termasuk pola pikir manusia. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari buruk menjadi baik. Begitupun sebaliknya. Itu lah proses. Yang terpenting, janganlah kita menghujat. Karena kita manusia, berhak melakukan kesalahan. Setidaknya satu kali, agar kita paham bahwa itu salah dan tidak boleh lagi dilakukan.


"Mas," panggil Renata ketika melihat sang calon suami hanya melamun.


Rehan mendongkakkan kepalanya. Menatap sang calon istri yang saat ini sedang duduk di sisi sofa tempat ia berada.


"Mas kenapa kok melamun?" tanya Renata lembut.


"Nggak kenapa-napa. Tadi Mas telpon Zein, ngundang dia ke nikahan kita," jawab Rehan sedikit berbohong.


"Lalu, kenapa sedih?" tanya Renata.


"Nggak, Mas hanya kasihan saja padanya. Dua kali mencintai, dua kali pula dia harus menyerah," jawab Rehan jujur. Kali ini, kesedihan tampak nyata dari raut wajah pria itu. Ya, mau bagaimanapun, Zein adalah sahabatnya. Tak mungkin Rehan tak memikirkannya.


"Jangan lupa, Mas. Jodoh itu rahasia Allah. Siapa tahu, nanti Zein dapat yang lebih baik dari mereka. Yang paham dan mengerti akan sifatnya yang kolot itu." Renata tersenyum, sebab sedikit banyak, ia juga pernah terdampak oleh sikap kolot pria yang kini sedang mereka bicarakan.


Rehan diam sesaat. Mencoba mencerna apa yang Renata ucapkan.


"Aamiin ... semoga apa yang kamu ucapkan itu adalah doa untuknya. Makasih sudah mendoakan sahabatku, Sayang. Oiya, apakah kamu masih membencinya, Yang?" tanya Rehan pada sang kekasih.


"Sekarang sudah nggaklah, Mas. Semua sudah berlalu. Aku sudah mengikhlaskan semuanya. Kalo bukan karena dia, mana mungkin aku bisa dapet pria sebaik dan selembut kamu. Semua ada plus minusnya, Mas. Sungguh, aku sudah ikhlas," jawab Renata serius.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Yang. Semoga satu maaf dari orang yang pernah Zein sakiti, bisa membuka pintu kebahagiaan untuknya. Kasihan, Yang. Dia selalu dimanfaatkan. Cintanya selalu kandas. Entanlah!" jawab Rehan sedih.


Renata sangat tahu bagaimana sayangnya Rehan pada Zein. Persahabatan mereka sungguh luar biasa. Itu sebabnya, ia tak mempermasalahkan ketika Rehan mengkhawatirkan pria yang pernah membuatnya terpuruk itu. Pada kenyataannya, dari apa yang telah Zein lakukan, dari sanalah ternyata sumber kebahagiaannya kini berasal. Dan Renata bersyukur untuk itu.


***


Selepas percakapannya dengan Rehan. Zein hanya bisa menertawakan dirinya sendiri. Sebab apa yang diucapkan sang sahabat, ternyata adalah kenyataan yang saat ini ia hadapi.


Rehan benar, bahwa dirinya hanyalah seorang pecundang yang takut melangkah. Dirinya memang pengecut perihal hati. Dirinya memang bukan pria pemberani yang berani menerobos perihal hati.


Ya, begitulah Zein yang mulai bisa memahami baik dan buruk untuk orang lain. Terutama untuk orang yang ia cintai.


Kasus yang terjadi antara dirinya dan juga Vita, memang pantas jika dirinya di sebut pecundang. Karena dia memang tidak berani bertindak. Tidak berani mengungkapkan secara gamblang tentang apa yang ia rasakan pada gadis itu.


Cukup, itulah kata hati yang mau tidak mau harus ia turuti. Zein tidak ingin mempermasalahkan apapun sekarang. Fokusnya hanya ikhlas dan ikhlas. Menganggap cinta itu tidak pernah ada. Meskipun untuk naik ke tahap itu ia harus berjalan setengah mati. Ya, Zein harus siap berada di dalam kubangan derita setiap kali mengingat cinta yang tak sampai untuk adik iparnya itu.


Zein dan Vita ... alih-alih menjalani cinta dewasa yang berlogika, nyatanya mereka menderita. Menyelimuti derita yang mereka rasakan dengan senyuman kepalsuan. Entahlah, apa yang mereka rasa itu, bisa dikatakan bodoh atau tidak. Hanya mereka berdua lah yang bisa menerjemahkan ini.


Menyerah, biarlah semua orang menganggapnya demikian. Padahal, itu salah. Salah besar. Dia bukan menyerah. Tetapi merelakan, bukankah merelakan itu jauh lebih berat dari apapun.


Zein tersenyum sendiri. Ternyata, Orang-orang tidak bisa mengerti dirinya. Tidak bisa memahami perasaannya. Zein bukanlah pria egois yang tak tahu aturan. Tetapi dia memang begitu, melakukan sesuatu yang menurutnya baik. Sudah, tak ada perdebatan lagi.


Tak ingin terlalu larut dalam masalah percintaan yang rumit ini, Zein pun memutuskan untuk mengistirahatkan jiwa dan raganya. Merebahkan tubuhnya di kasur sigle miliknya.


Zein memang tidak menginginkan rumah yang besar untuk ia huni. Karena dia memang tidak berniat menambah anggota di dalam rumahnya. Zein hanya ingin sendiri, ingin ketenangan.

__ADS_1


Sayangnya, ketika ia hendak memejamkan matanya, terdengar seseorang memencet bel pintu rumahnya. Rasanya malas sekali ia beranjak dari pembaringannya. Zein ingin istirahat.


"Siapa sih?" gerutu Zein kesal. Namun, ia tetap melangkah mendatangi seseorang yang mencarinya itu.


"Ya siapa?" tanya Zein di balik pintu.


"Ini saya, Bang. Lutfi," jawab tamu yang ada di depan rumahnya.


Mendengar yang mencarinya adalah sang adik ipar, Zein pun segera membukakan pintu.


"Ada apa, Fi?" tanya Zein ketika membukakan pintu untuk Lutfi.


"Bang, kita harus segera ke rumah sakit. Gadis itu kritis, Bang," ucap Lutfi gugup. Suaranya terdengar bergetar. Sepertinya dia memang gugup dan takut.


"Jangan ngaco kamu, kakaknya bilang aja dia sudah membaik," balas Zein tak percaya.


"Tapi pengacara kita bilang, dia kritis, Bang. Baru saja telpon. Abang ditelponin nggak bisa dari tadi. Dalam panggilan lain," jawab Lutfi semakin gugup.


Zein yang paham kenapa Lutfi segugup itu, tentu saja langsung berlari masuk, mengambil jaket dan juga kunci mobil miliknya.


"Ayo!" ajak Zein seraya berlari membuka pintu mobil. Sedangkan Lutfi berlari membuka pintu gerbang rumah tempat tinggal Zein.


Mereka takut bukan karena tuduhan itu. Tetapi lebih pada rasa kemanusiaan yang mereka miliki. Memang, Lutfi sudah terbukti tak bersalah. Namun tetap saja, mereka masih penasaran dengan siapa pelaku sebenarnya.


Zein membawa mobilnya seperti pembalap liar. Mobil serasa melayang. Sampai Lutfi pun merinding takut. Tak berani berucap. Tak berani menganggu konsentrasi Zein. Pria ini hanya berpegangan saja. Kadang-kadang juga memejamkan mata. Sungguh, ini adalah pengalaman pertama Lutfi berkendara seperti seorang pembalap. Benar-benar seorang pembalap.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2