PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
TERSADAR


__ADS_3

Taksi yang membawa Stella akhirnya sampai di tempat tujuan. Sebuah restoran mewah yang ada di kota tersebut.


Sebelum turun dari taksi, wanita ini terlihat menghela napas dalam-dalam. Wajar jika dia bersikap demikian. Sebab itulah cara seseorang untuk berdamai dengan kegugupan.


Stella melangkahkan kakinya menuju restoran tersebut. Seperti tamu pada umumnya, ia pun disambut dan dilayani seperti yang ia inginkan.


"Selamat siang, Bu! Bisa kami bantu?" tanya salah satu pegawai di sana.


"Aku pesan jus jeruk, untuk makannya nanti saja. Oiya, bisa tolong panggilkan manejer kalian. Katakan padanya aku adalah Stella dan aku adalah sahabatnya!" pinta Stella dengan senyum ramahnya.


Sang pramusaji pun menyetujui apa yang Stella inginkan. Membuatkan segelas jus jeruk dan juga memanggil kan Safira untuknya.


Senyum merekah sempurna, ketika dia mata wanita cantik itu bertemu. Tak menunggu waktu lagi, mereka pun saling menegur sapa, berjabat tangan dan saling berpelukan.


"Apa kabar? Tumben mampir? Inces cantik mana?" tanya Safira sambil celingukan mencari Berliana.


"Dia tadi tidur. Aku baik, kamu sendiri gimana?" balas Stella dengan senyum termanisnya tentunya.


"Aku juga baik, oiya tadi aku telpon si Vita. Kok nggak bisa ya, kenapa? Ke mana dia?" tanya Safira sembari menarik kursi yang ada di depan Stella.


"Dia balik ke Jakarta, mau ngurus bosnya," jawab Stella apa adanya.


"Oh, pantesan. Di pesawat berarti tadi?" Safira menatap Stella. Begitupun sebaliknya. Stella menjawab pertanyaan Safira dengan anggukan kepala dan Safira pun paham dengan jawaban tersebut.


"Ra!" ucap Stella gugup. Sungguh saat ini adalah saat paling mendebarkan dalam hidup Stella. Debaran jantungnya semakin terasa cepat. Telapak tangan pun dingin. Stella benar-benar gugup dan takut.


"Ya, Ste. Ada apa? Kamu kok tegang gitu, kenapa?" tanya Safira sambil memegang telapak tangan kakak sahabatnya ini.

__ADS_1


"Emm, anu itu!" Stella menatap Safira. Berusaha menyakinkan perasaannya bahwa cepat atau lambat, saat ini pasti akan terjadi. Mau sebaik apapun ditutupi, semua pasti akan terbuka.


"Iya ada apa? Kamu mau tanya apa?" Safira pun menatap mata cantik itu. Tujuannya sama, memberikan kekuatan pada Stella, agar wanita itu berani mengeluarkan apa yang ia rasakan.


"Apakah kamu akan marah jika aku bertanya tentang masa lalumu, Ra?" tanya Stella, pelan, dengan nada yang sangat halus, agar Safira tidak tersinggung.


"Masa lalu? Maksudnya?" tanya Safira heran.


"Iya, Ra. Masa lalu kamu. Boleh nggak aku tanya?" Stella semakin berhati-hati. Sebab ia juga takut menyinggung perasaan wanita yang ada di depannya ini.


"Tanya aja, Ste. Kamu mau tanya apa sih?" Safira kembali tersenyum. Seperti menganggap bahwa Stella sedang bercanda.


"Aku berharap kamu bakalan ngejawab pertanyaan aku ini dengan jujur dan apa adanya!" pinta Stella terus terang.


"Ya pertanyaannya apa dulu?" Safira melirik manja ke arah Stella. Sedangkan Stella hanya tersenyum. Sebab, menurutnya Safira sangat menggemaskan.


"Becandanya nggak lucu ah, Ste. Lagian ngapain kamu tanya masa lalu aku. Kita kenal juga baru beberapa hari kan?" jawab Safira, masih dengan nada bercanda.


"Justru itu, Ra. Maaf jika aku kurang sopan. Tapi masa lalu kamu sangat penting untukku," ucap Stella, kali ini tanpa senyum. Supaya Safira paham jika dirinya sedang tidak bercanda.


"Kamu ini kenapa sih, Ste?" tanya Safira bingung.


Stella mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri dan menunjukkan foto Safira yang ia punya. "Ini foto kamu bukan?" tanya Stella sembari menyodorkan ponselnya pada wanita yang sedang duduk manis di depannya ini.


Safira pun menyambut ponsel tersebut dan menatapnya intens. Heran, itulah kata pertama yang terlintas di dalam pikiran wanita cantik ini. Wajar jika kata itu langsung menghampirinya, sebab aneh saja, dari mana Stella mendapatkan fotonya.


"Iya, ini aku. Tapi...." Safira tak bisa melanjutkan kata-katanya, sebab ia melihat mata Stella mengeluarkan butiran bening, seolah Stella sednag mendapatkan jawaban yang sangat menyakitkan. Ini aneh bukan, membuat Safira bingung.

__ADS_1


"Loh, kok nangis, ada apaan sih?" tanya Safira heran.


"Maaf, Ra. Maafkan aku." Stella menghapus air matanya.


"Oke, nggak pa-pa! Coba kamu ngomong. Sebenarnya ada apaan sih? Nggak usah ditutup-tutupin coba. Ayo ngomong, anggap aja kamu lagi ngomong sama Vita, oke!" desak Safira, jadi ikut tak sabar.


"Kenapa kamu dikabarkan meninggal? Kalo pada kenyataannya kamu masih sehat begini?" tanya Stella, langsung pada masalah yang sedang ia hadapi.


Safira langsung mengerutkan keningnya. Kembali merasakan keanehan. Bagaimana tidak? Selama ini dia baik-baik saja. Hanya saja, ketika dia bangun dari koma, semuanya memang berubah. Di sudah berada di Sydney. Hanya itu.


Lalu apa ini? Kenapa tiba-tiba ada kabar tentang kematiannya. Bukan hanya itu, yang membuat Safira semakin bingung adalah, pembawa kabar tersebut adalah orang lain. Orang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan masa lalunya.


"Aku tidak meninggal, Ste. Aku baik-baik saja. Aku memang pernah kecelakaan dan ... kamu bisa lihat, aku sehat kan. aku baik-baik saja!" jawab Safira lagi.


"Iya aku tahu itu, tapi seseorang mengatakan kamu sudah meninggal. Bahkan dia...." Stella tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Safira semakin tidak mengerti dengan apa yang Stella maksud. Selama di Sydney dia baik-baik saja. Hanya saja orang tuanya tak mengizinkannya kembali ke Indonesia. Mereka selalu mengatakan padanya, jika kekasihmu mencintaimu dia pasti akan mencarimu. Hanya itu kalimat yang membuatnya percaya, bahwa suatu hari nanti Juan pasti akan datang mencarinya.


"Hah? Ya Tuhan. Apa ini?" gumam Safira, spontan wanita ayu ini menyadari kebodohannya selama ini. Ia begitu percaya kepada kedua orang tuanya. Padahal itu adalah cara mereka untuk memisahkan dirinya dengan pria tersebut.


Safira menatap Stella. Wanita ini kembali memfokuskan pikirannya, tentang foto


itu. "Katakan padaku! Dari mana kamu dapatkan foto itu?" desak Safira. Kali ini wanita ini tak mau kecolongan. Stella telah mulai, sedangkan dirinya pun sudah masuk ke dalam drama ini. Tak ada gunanya lagi mundur. Mau tak mau masalah ini harus segera diselesaikan.


Bersambung....


Jangan lupa like komen n Share ya... Makasih yang sudah tinggalkan jejak🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2