
Zein dan Lutfi merasa sedikit tenang. Karena mereka telah menemukan tempat tinggal sementara untuk teman baru mereka. Juan, si pria baik hati itu, mau membantu kesulitan mereka tanpa pamrih. Bahkan tanpa bertanya apa yang sebenarbya terjadi. Juan begitu percaya pada Zein. Membuat Lutfi merasa salut pada persahabatan mereka.
"Gimana, Bang?" tanya Lutfi penasaran.
"Bisa, ada, dia kasih pinjam rumahnya yang di Jakarta. Besok aku antar dia ke sana," jawab Zein setelah menutup panggilan telponnya dengan Juan.
"Syukur Alhamdulillah ya Allah. Semoga sahabat Abang dikaruniai rezeki yang berlimpah. Berkah barokah, Aamiin ya Allah Aamiin ...." ucap Lutfi antusias. Sangking senangnya akan kabar bahagia ini.
"Aamiin... aamiin!" balas Zein tak mau kalah.
"Ya udah, yuk masuk, Bang. Mereka pasti udah menunggu kabar dari kita!" ajak Lutfi, masuk ke dalam rumah untuk bergabung bersama Safira dan juga Lydia.
"Gimana, Bang? Dapet rumahnya?" tanya Safira pada Zein.
"Dapet, Alhamdulilah ...." jawab Zein singkat.
"Rumah siapa, Bang?" tanya Safira penasaran.
"Punya, Juan!" Zein menatap sekilas pada dua wanita yang saat ini ada di depannya.
"Ohh!" Safira melirik Lutfi. Seperti takut pria yang kini menjadi suaminya itu cemburu.
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Lalu, Lydia memberanikan diri mengucapkan sesuatu. "Maafkan aku," ucap Lydia lirih. Maklum, suaranya tertahan oleh tangis sesegukannya. Berkali-kali Lydia meminta maaf kepada Zein, Lutfi dan juga Safira yang saat ini sedang berada di sekelilingnya. Tangis Lydia sampai tak terdengar. Terlihat jelas, bahwa ia sangat lelah dengan kehidupannya.
"Tidak apa-apa, Mbak. Kami semua oke kok," jawab Safira sembari mengelus punggung Lydia.
"Terima kasih," ucap Lydia lagi. Berkali-kali wanita ini mengusap air mata yang terus saja mengalir tanpa henti itu.
"Iya, Sama-sama. Minumlah, biar sakit di tenggorokanmu sedikit reda," ucap Safira sambil membantu gadis itu meneguk air mineral yang telah disiapkan oleh Lutfi, suaminya.
Lydia pun menurut. Pelan-pelan ia pun meneguk air itu. Sesuai saran Safira, agar sakit di tenggorokannya sedikit reda.
Zein, Lutfi dan juga Safira sangat paham, tentang rasa sakit yang kini dirasakan oleh gadis ini. Sakit yang ia rasakan bukan hanya fisik. Namun juga psikis. Kakek gadis ini sungguh keterlaluan.
"Malam ini kamu tidur di sini saja, bareng aku. Nanti kamu pakek ranjang suamiku, ya. Udah jangan nangis lagi," ucap Safira sembari mengelus punggunh Lydia.
Terang saja, apa yang diusulkan Lutfi membuat Zein meradang. Dengan cepat pria ini pun menarik tangan sang adik ipar dan mengajak pria itu keluar bersamanya.
"Abang apa sih? Ih, Bang! Ada apaan?" tanya Lutfi tampa merasa berdosa.
Zein melepas kasar pegangan tangannya. Kemudian ia pun menatap kesal pada sang adik ipar bodohnya ini.
"Apaan sih, Bang?" tanya Lutfi sok lugu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa suruh cewek nginep di rumahku. Nggak... nggak... apaan! jangan aneh-aneh kamu! " tolak Zein setengah mengancam kasar.
"Jangan gitu, Bang! Nolongin orang jangan setengah-setengah. Nggak lucu juga kali, Bang, Lydia tidur bareng sama pengantin baru kek kami. Kami kan baru pedekate, Bang. Masak Abang tega sih masukin orang ketiga di malam-malam indah kami," rayu Lutfi sok manis.
Sayangnya, rayuan Lutfi bukan membuat Zein empati. Pria ini malah terlihat geram dan ingin sekali menonjok wajah Lutfi yang sok lugu itu.
"Terus, kamu mau aku bernasib sama sepetimu, begitu? Tertangkap warga, lalu kami disuruh kawin paksa. Ogah! Kamu pikir aku nggak tahu akal bulusmu. Nggak ada... nggak ada... pokoknya, tu cewek malam ini tidur di rumah elu. Dan elu, tidur di ruang tamu. Titik! Kalo enggak, jangan harap bulan ini kamu terima gaji, paham!" ancam Zein serius.
Mendengar ancaman mengerikan itu, tentu saja membuat Lutfi tak berkutik. Bapak satu anak ini pun langsung memohon ampun pada sang kakak ipar sekaligus bosnya ini.
"Ampun, Bos, ampun. Jangan begitu lah kakak ipar! Masak kakak ipar tega ngelihat adiknya nggak makan sebulan. Keponakannya nggak minum susu sebulan. Heeemmm!" rayu Lutfi lagi.
"Bodo amat! Pokoknya aku sudah memutuskan. Nggak ada negosiasi lagi. Besok pagi aku jemput dia, awas kalo sampai dia kenapa-napa!" ancam Zein seraya melangkah meninggalkan Lutfi yang terlihat masih mau bernegosiasi dengannya itu. Zein tak peduli. Keputusan yang telah ia ambil adalah keputusan mutlak. Tak ada seorangpun yang boleh membantahnya. Apa lagi sekelas bawahan baginya. Zein adalah pria paling berpengalaman soal ancam mengancam karyawan.
Enggan memedulikan rengekan sang adik ipar, Zein pun segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan pelataran tempat tinggal Safira dan Lutfi.
Sepeninggal Zein, Lutfi hanya bisa menggerutu kesal. Bagaimana tidak? rencananya malam ini, ia akan memulai aksiny merayu Safira. Agar wanitanya itu mau tidur seranjang dengannya.
Malam kemarin ia hampir berhasil. Rayuan mautnya telah berhasil meluluhkan hati sang pujaan hati. Meskipun mereka belum sampai ke tahap penyatuan raga, tetapi, setidaknya mereka telah beberapa kali menyatukan bibir. Dan malam ini, Lutfi ingin mengulang masa itu.
Namun, Zein telah mengeluarkan ancamannya. Membuat Lutfi tidak berberdaya. Pria ini pun terpaksa masuk ke dalam rumah dengan bebawa segenggam rasa kecewa karena gagal dengan misinya.
__ADS_1
Bersambung....
Emak kasih komedi, biar nggak tegang... key🥰🥰🥰🥰