PENJARA CINTA Untuk STELLA

PENJARA CINTA Untuk STELLA
MENGENALI PERASAAN


__ADS_3

Juan shock, dunianya serasa runtuh. Bagaimana tidak? Harapan satu-satunya telah hilang musnah di sapu badai. Sera dan juga wanita-wanita yang sedang ia cari tidak ada di tempat. Sedangkan asisten rumah tangga di rumah tersebut juga tak tahu ke mana gerangan wanita-wanita itu pergi.


"Ya Tuhan, apakah ini hukuman untukku?" gumam Juan. Tak terasa air mata pria itu meluncur begitu saja. Hatinya benar-benar lelah. Rindu yang bersarang di hati seakan tak bisa ia bujuk lagi. Terus menyerang dan meremas hatinya. Berkali-kali sanubari itu menanyakan di mana kekasihnya berada. Di mana pujaan hati nya itu sekarang. Juan benar-benar lelah.


Pikiran Juan kembali berputar. Mencari jalan keluar dan menebak-nebak di mana gerangan wanita yang ia cintai itu berada.


Kini pria tampan ini merenung sendirian di mobil yang menemaninya datang ke tempat ini. Beberapa kali ia membaca pesan chat yang dikirim Stella untuknya. Jua tersenyum kecut. Karena, pada kenyataannya ia sangat merindukan kiriman pesan dari wanita itu.


Beberapa menit berlalu, tanpa ia duga, ada nomer baru menghubunginya. Dan ternyata itu adalah Rehan sang sahabat menghubunginya.


"Hallo!" jawab Juan malas.


"Hay Jun, ini aku Rehan. Kamu di mana?" tanya Rehan.


"Aku di Manado, Re ... ada apa?" tanya Juan pelan. Seperti malas menghadapi orang-orang selain Stella.


"Nggak ada apa-apa. Aku cuma mau bilang, ini nomer baruku. Hp-ku hilang pas dari rumahmu waktu itu. Pengen ngurus nomernya malas. Jadi aku ganti aja deh! di-save ya!" pinta Rehan.


"Oke," jawab Rehan kembali malas.


"Oke, makasih." Rehan diam sesaat. Kemudian ia pun kembali melanjutkan obrolan mereka.


"Kamu udah ketemu sama Ste, belum Jun?" tanya Rehan.


"Belum, mereka nggak ada di Manado, Re. Aku nggak tahu mereka ada di mana!" jawab Juan jujur.

__ADS_1


"Astaga! Yang bener ah, Jun?" tanya Rehan tak percaya.


"Masak aku bohong, sih!" balas Juan sedikit kesal.


"Kok kalian bisa begini. Sebenarnya aki sedikit menyayangkan sikapmu ke dia, Jun. Kamu tahu bagaimana Ste meninggalkan Zein. Karena apa? Karena dia merasa ditolak."


Bukan bermaksud mengingatkan luka lama. Tapi itulah kenyatannya. Stella bukan wanita yang tidak baik. Dia hanya tidak bisa ketika ditolak. Terlebih, saat ini yang ia tahu, Juan memiliki orang lain selain dirinya. Menurut pemikiran Stella.


"Sabar ya, Jun. Semoga Hati Ste cepat terbuka dan memaafkanmu!" ucap Rehan.


Juan hanya tersenyum. Meskipun pada kenyataannya ia menangis sedih. Menangis karena merasa tak ada seorang pun yang mau mengerti apa yang ia rasakan.


***


Tak ingin terlalu tenggelam dalam kenyamanan yang pastinya akan berakhir ini, akhirnya Zein pun menghubungi Rehan untuk meminta bantuan pria itu. Zein yakin, Rehan pasti bisa membantunya keluar dari rumah ini.


Sayangnya, beberapa kali ia berusaha menghubungi sahabatnya itu, selalu saja tak bisa. Lalu, ia pun berinisiatif menghubungi Vita. Siapa tahu gadis itu tahu, di mana Rehan berada.


Di seberang sana, Vita yang mendapat panggilan telepon dari mantan bosnya sedikit gugup. Sebab, jujur saat ini Vita sedang berjuang melupakan pria itu.


"Ha-hallo!" sambut Vita gugup. Suaranya terdengar terbata. Entahlah, seperti itulah suara yang tertangkap oleh telinga Zein.


"Hey, kamu kenapa, Vit? Kok suaranya terdengar gugup?" tanya Zein santai.


"Eng-enggak, Bang. Abang udah sembuh kah?" tanya Vita lagi. Suaranya masih terdengar gugup. Membuat jiwa iseng Zein bangkit. Pria ini mulai memikirkan cara untuk membuat Vita lebih gugup. Namun, mendengar suara Vita yang terdengar lain membuat Zein mengurungkan niatnya untuk membuat gadis ini marah.

__ADS_1


"Kamu kenapa?" tanya Zein.


"Nggak ada apa-apa, Bang. Vita baik," jawab Vita. Padahal, jika boleh jujur, saat ini ia sedang membutuhkan seseorang untuk mendengarkan suara hatinya.


"Oh, baiklah. Oiya, aku ingin nanya, kamu tahu nggak ponsel Rehan kenapa? Kenapa nggak bisa dihubungi ya?" tanya Zein langsung pada tujuannya menghubungi Vita.


"Nggak tahu, Bang. Vita juga telponin nggak bisa-bisa," jawab gadis cantik ini.


"Oh, baiklah. Ya udah deh kalo gitu. Maaf ya udah ganggu kamu malam-malam. Selamat malam," ucap Zein, berniat mengakhiri panggilan mereka.


"Malam," balas Vita singkat.


Merasa tak ada yang perlu mereka bahas lagi, akhirnya mereka pun memutuskan panggilan telpon tersebut.


Zein diam sesaat. Memikirkan suara Vita yang terdengar berbeda. Mungkinkah gadis itu memiliki masalah. Atau sedang terjadi sesuatu padanya.


Sebenarnya, Zein masih ingin banyak berbincang dengan Vita. Hanya saja, pria ini merasa sedikit sungkan. Terlebih, ia takut tak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan kabar Stella. Mau bagaimanapun? Zein tidak ingin Vita berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.


Zein kembali menilik ponselnya. Membuka foto profile milik Vita. Di sana gadis itu tersenyum manis dengan mencium sekuntum bunga mawar putih. Entah mengapa? Hati Zein bergetar. Sebab foto Vita yang dipakai sebagai profile di ponselnya adalah hasil jepretan Zein ketika mereka pergi ke suatu tempat untuk bekerja.


Jujur, pikiran Zein sedikit kurang nyaman. Jantungnya berdetak kencang mengingat kejadian itu. Sebab, ketika ia selesai memotret Vita dan ketika gadis itu hendak melihat hasilnya, tanpa sengaja bibir mereka bertemu. Dan dengan cepat mereka meminta maaf satu sama lain. Itu adalah saat paling mendebarkan ketika mereka bersama.


Zein tersenyum malu. Namun juga bersyukur, Tuhan memberinya kesempatan untuk mengenal lebih dekat gadis itu. Meskipun tidak lama. Zein merasa Vita sangat berjasa dalam hidupnya. Sebab tanpa Zein sadari Vita telah membantunya melupakan Stella.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2